SolarGeneration, pelajar-pelajar yang berkampanye untuk
pemakaian energi terbarukan yang lebih luas di seluruh dunia,
menyampaikan pesan di atas ketika mereka bertemu dengan Ketua IPCC
Dr. Rajendra Pachauri ketika beliau menjadi tamu khusus di kios
SolarGeneration mereka yang berlokasi dekat dengan tempat pertemuan
di UN Convention Center. Dr Pachauri berbicara langsung dengan
pelajar-pelajar dari Thailand, India, Indonesia, Filipina, Cina,
Jerman and Prancis, di mana beliau mengakui pentingnya keterlibatan
generasi muda dalam isu-isu perubahan iklim.
"Satu-satunya solusi untuk perubahan iklim yang kita inginkan
adalah yang bisa menjamin masa depan yang aman dan lebih baik.
Pemerintah-pemerintah dunia semestinya tidak perlu menimbang
proposal-proposal yang menghasilkan lebih banyak kerugian daripada
keuntungan," ungkap seorang anggota SolarGeneration dari Filipina,
Karla de Guia. "Kami percaya bahwa hanya energi terbarukanlah
satu-satunya solusi yang sempurna."
IPCC bertemu di Bangkok untuk mendiskusikan
rekomendasi-rekomendasi kebijakan dalam rangka mengatasi perubahan
iklim. Hasil pertemuan tersebut akan diungkapkan dalam sebuah
laporan untuk publik pada akhir pertemuan di hari Kamis. Beberapa
agensi media telah melaporkan bahwa opsi-opsi yang diperkirakan
akan disampaikan dalam pertemuan tersebut berkisar dari efisiensi
energi dan energi terbarukan, sampai teknologi yang berpotensi
bahaya dan belum teruji seperti energi nuklir hingga penyerapan dan
penyimpanan karbon.
Greenpeace meminta kepada para pemerintah di seluruh dunia untuk
segera mengambil tindakan tegas untuk merevolusi produksi serta
konsumsi energi global dalam menghadapi peringatan-peringatan yang
mengkhawatirkan sehubungan dengan perubahan iklim yang telah
dikeluarkan setelah dua pertemuan IPCC di tahun ini.
"Satu-satunya solusi yang dapat diterima adalah adaptasi masal
terhadap energi yang bersih dan terbarukan, serta adaptasi masal
juga terhadap efisiensi energi. Greenpeace telah menunjukkan bahwa
dunia bisa hidup dengan energi yang aman dan terbarukan, dan bahwa
kita dapat mencapai target efisiensi yang diperlukan. Kita dapat
melakukan semua ini bahkan bersamaan waktu dengan proses
penghapusan pemakaian sumber energi berbahaya dan merusak
lingkungan seperti batubara dan nuklir. Dan kita harus mulai
sekarang juga," kata Juru Kampanye Iklim dan Energi se-Asia
Tenggara untuk Greenpeace, Tara Buakamsri.
Minggu yang lalu Greenpeace telah meluncurkan sebuah laporan
berjudul 'Energy [R]evolution: A sustainable East Asia Energy
Outlook' yang menjabarkan bagaimana pemakaian energi terbarukan,
bersamaan dengan efisiensi yang dihasilkan oleh budaya hemat
energi, dapat mencukupi setengah dari kebutuhan energi dunia hingga
pada tahun 2050.
Laporan tersebut hadir di saat banyak negara-negara di Asia yang
mewacanakan berbagai alternatif-alternatif lain untuk menghindari
pemakaian sumber-sumber energi dari fosil yang berbahaya.
Pendukung-pendukung muda SolarGeneration mendorong pemerintah
mereka untuk memilih kebijakan energi yang benar.
"Saat ini pemerintah negara saya sedang mendorong dibangunnya
pembangkit listrik tenaga nuklir. Namun saya tidak ingin adanya
pembangkit nuklir di negara saya maupun di negara-negara lain
karena itu sangat tidak aman dan berbahaya. Kebijakan tersebut
tidak baik untuk masa depan," ungkap Ivy Londa seorang anggota
SolarGeneration dari Indonesia.