Hiraukan insiden Kashiwazaki: Indonesia dan Korea Selatan terus bangun kerjasama nuklir di zona ‘Ring of Fire’

Siaran Pers - 26 Juli, 2007
Greenpeace hari ini mengecam keputusan Indonesia untuk terus mengembangkan rencananya membangun pembangkit listrik tenaga nuklir dan terus menghiraukan protes yang semakin keras dari masyarakat lokal dan komunitas pencinta lingkungan hidup.

Greenpeace has always fought - and will continue to fight - vigorously against nuclear power because it is an unacceptable risk to the environment and to humanity. The only solution is to halt the expansion of all nuclear power, and for the shutdown of existing plants.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berada di Seoul selama tiga hari untuk menyaksikan penandatanganan berbagai bentuk kerjasama di bidang energi - termasuk sebuah Memorandum of Understanding antara Medco Energi International dan Korea Hydro and Nuclear Power - yang disepakati oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral bersama dengan Kementrian Perdagangan, Industri dan Energi Korea Selatan (MOCIE).

Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) terus maju dengan rencananya membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di dekat Gunung Muria (tinggi 1.600 meter) di Jawa Tengah yang saat ini non-aktif. Masyarakat khawatir jika getaran bumi sekecil apapun dapat mengakibatkan erupsi lebih besar dan bencana nuklir. Dampak-dampak kebocoran radioaktif yang disebabkan oleh gempa ataupun letusan gunung dapat menjadi sebuah bencana besar untuk seluruh pulau Jawa yang berpopulasi lebih dari 100 juta.

"Insiden paska-gempa baru-baru ini di PLTN Kashiwazaki, Jepang, merupakan satu saja dari banyak sekali peringatan-peringatan yang seharusnya ditanggapi serius oleh pemerintah Indonesia dan semestinya memupus ambisi nuklir kita. Indonesia berada di zona 'Ring of Fire' yang sangat rentan terhadap gempa dan aktifitas vulkanik. Dengan membangun PLTN di Indonesia, jutaan orang akan hidup dibayang-bayangi oleh resiko bencana nuklir," ungkap Nur Hidayati, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara.

"Para pakar nuklir dari Jepang yang pernah berkunjung ke Indonesia untuk memaparkan teknologi nuklir mereka yang semestinya tahan gempa dan tinggi standar keamanannya tak terdengar lagi kabarnya setelah insiden Kashiwazaki. Sangatlah tidak masuk akal bahwa Indonesia sekarang menjalin kerjasama nuklir dengan Korea Selatan yang tidak berpengalaman dalam membangun dan memelihara pembangkit tenaga nuklir yang tahan gempa," tambah Hidayati.

Perusahaan-perusahaan dari Jepang, Korea Selatan dan Prancis sedang berusaha memenangkan kontrak membangun empat reaktor nuklir berkapasitas 1.000 megawatt. Proses 'bidding' untuk reaktor pertama yang akan dibangun di Ujung Lemahabang rencananya akan dimulai dalam dua tahun mendatang dan sudah akan disetujui sebelum tahun 2010.

"Energi nuklir mengalihkan perhatian kita dari solusi-solusi energi bersih yang terbarukan, lebih nyata dan banyak potensinya di Indonesia untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Perjanjian bilateral tersebut hanya akan menjebak Indonesia ke dalam perangkap bahaya nuklir dan siklus hutang finansial yang tak ada hentinya. Hal ini tidaklah lebih dari sebuah skema kebohongan besar yang didorong oleh kepentingan-kepentingan bisnis serta para pelaku industri nuklir semata yang sebenarnya sedang sekarat," tambah Hidayati.

Hampir tak satupun dari 435 reaktor nuklir komersil yang ada di dunia dibangun tepat waktu dan sesuai anggaran yang direncanakan. Harga listrik yang sepertinya kompetitif juga hanya dapat dicapai melalui regulasi harga, subsidi langsung ataupun tak langsung terhadap biaya produksi tenaga nuklir, serta dengan eksternalisasi biaya-biaya dampak terhadap lingkungan hasil proses penambangan uranium dan proses produksi lainnya. Metode pengendalian limbah nuklirpun hingga kini masih belum ada yang bisa diandalkan 100 persen.

Greenpeace adalah organisasi kampanye independen yang menggunakan konfrontasi kreatif dan tanpa kekerasan untuk mengungkap masalah lingkungan hidup dan mendorong solusi yang diperlukan untuk masa depan yang hijau dan damai.