Greenpeace menyambut baik pernyataan Gubernur Riau untuk menghentikan pengrusakan hutan

mendesak moratorium nasional untuk konversi hutan dan lahan gambut

Siaran Pers - 15 Agustus, 2008
Greenpeace hari ini menyambut pernyataan Wan Abu Bakar untuk menghentikan sementara waktu alih fungsi hutan dan lahan gambut di propinsi Riau. Riau merupakan Propinsi pertama yang mengambil langkah untuk menghentikan sementara alih fungsi hutan dan lahan gambut setelah diumumkannya komitmen Presiden pada pertemuan G-8, yang menetapkan target reduksi emisi gas rumah kaca (GRK) dari deforestasi sebesar 50% pada tahun 2009.

Perkebunan di Riau yang di miliki dua perusahaan besar APRIL dan APP.

Gubernur Wan Abu Bakar memberikan pernyataan tersebut saat berpidato diseminar perubahan iklim dengan pembicara Dr Roger Sedjo,  ahli hutan dan iklim anggota Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim PBB atau The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), yang berlangsung di Pekanbaru, Riau. Gubernur menyatakan keprihatinannya terhadap penderitaan berkepanjangan yang melanda masyarakat Riau akibat bencana asap, banjir dan kekeringan yang nyata dipicu oleh alih fungsi hutan dan lahan gambut yang agresif untuk pembangunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri.

"Moratorium atau jeda ini merupakan langkah pertama dan kesempatan bagi pemerintah setempat, masyarakat yang tinggal di sekitar hutan serta pemangku kepentingan lainnya untuk memperbaiki tata kelola kehutanan. Ini merupakan perkembangan yang menggembirakan dan mengikuti langkah serupa yang dirintis para Gubernur Papua dan Aceh," ujar Arief Wicaksono, penasihat politik Greenpeace Asia Tenggara. "Langkah berikutnya adalah sebuah keputusan Gubernur yang dapat mempercepat penyusunan perencanaan tata ruang Riau dan penyelesaian konflik lahan  yang belum terselesaikan antara masyarakat setempat dan perusahaan pemegang konsesi," tambahnya. 

Penghancuran hutan gambut Indonesia menyumbang 4 persen dari emisi gas rumah kaca (GRK) dunia yang menjadikan negara ini sebagai penyumbang emisi GRK terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Cina. Riau, propinsi kecil di pulau Sumatra, merupakan tuan rumah bagi 25 persen industri kelapa sawit Indonesia dan ada rencana untuk melakukan perluasan sampai dengan 200 persen. Hal ini akan membawa dampak kerusakan yang besar bagi lahan gambut Riau yang merupakan cadangan 14.6 milyar ton karbon, setara dengan emisi gas rumah kaca dunia selama setahun.

"Pemerintah Indonesia tidak boleh membuang waktu. Segera nyatakan moratorium nasional untuk konversi hutan guna menghentikan lingkaran setan pengeringan lahan gambut, kebakaran hutan yang berujung pada hilangnya keanekaragaman hayati akibat rusaknya hutan," ujar Zulfahmi, juru kampanye hutan Greenpeace Asia Tenggara yang berbasis di Sumatra. "Unilever sudah menanggapi kampanye Greenpace melawan pengrusakan hutan demi minyak sawit dengan berjanji untuk memastikan bahwa 50 persen dari pasokan sawit bagi Eropa berasal dari produsen yang tidak merusak hutan pada tahun 2012, serta berjanji bahwa 200 persen pasokan globalnya mendapatkan sertifikasi pada tahun 2015," tambahnya.

Moratorium akan berlaku hingga Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) Riau secara sah ditetapkan dengan keterlibatan aktif masyarakat dan para pihak lain. Greenpeace bersama dengan organisasi lingkungan lain yang telah lama melakukan kampanye untuk reformasi tata kelola kehutanan di Riau, JIKALAHARI, WALHI Riau dan Yayasan Tesso Nilo, menyambut baik pernyataan Gubernur Riau dan mendesak adanya tindakan konkrit. (1)

Other contacts: - Arief Wicaksono, Penasehat Politik, Greenpeace Asia Tenggara, 08159704400 , - Susanto Kurniawan, Koordinator, JIKALAHARI, 08127631775, - Rusmadya, Direktur Eksekutif, Yayasan Tesso Nilo, 081365422373, - Johny S. Mundung, Direktur Eksekutif, WALHI Riau, 07617097844,

Notes: (1) JIKALAHARI merupakan sebuah konsorsium dari 29 LSM di Riau yang bertujuan melindungi hutan dengan nilai konservasi tinggi yang tersisa di Riau. Yayasan Tesso Nilo adalah sebuah LSM yang fokus pada pengembangan masyarakat di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo. WALHI Riau adalah bagian dari organisasi lingkungan terbesar di Indonesia, WALHI.

Kategori