Pengiriman kelapa sawit asal Indonesia diblokir di Belanda

Siaran Pers - 23 Nopember, 2007
Aktivis Greenpeace di Rotterdam, Belanda, hari ini memblokir pembongkaran minyak kelapa sawit dari kapal tanker Doroussa di pelabuhan Rotterdam, Belanda. Para aktivis itu merantai diri mereka di kapal itu dan membentang spanduk bertuliskan `Selamatkan Hutan, Hentikan Minyak Kelapa Sawit’.

Aktivis Greenpeace memblokade Kapal "DROUSSA di pelabuhan Netherland. Kapal yang bermuatan kelapa sawit yang berasal dari salah satu Perusahaan Indonesia , PT IBP. Salah satu perusahaan terbesar di Indonesia. PT IBP membeli minyak kelapa sawit yang berasal dari perusahaan-prusahaan yang bertanggung jawab atas kerusakan hutan yang terjadi di propinsi Riau, Indonesia.

Tanker itu, milik PT Intibenua Perkasatama, mengangkut lebih dari 10.000 ton minyak kelapa sawit dari Riau, tempat bagi sekitar 25 persen dari seluruh perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

“Produksi minyak kelapa sawit sudah di luar kendali,” kata Sue Connor, juru kampanye kehutanan Greenpeace Internasional. “Hutan-hutan di Indonesia dihancurkan untuk menanam kelapa sawit yang hasilnya digunakan untuk bahan margarin, kripik dan sabun cuci. Pembabatan hutan harus dihentikan untuk menyelamatkan hutan Indonesia dan untuk mencegah perubahan iklim yang berbahaya.

Sepuluh hari lagi, Indonesia akan menjadi tuan rumah konperensi PBB tentang Perubahan Iklim yang akan memutuskan langkah-langkah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca guna memerangi perubahan iklim.

Pembabatan hutan mencapai seperlima dari emisi gas rumah kaca global. Penggundulan hutan lahan gambut mencapai sedikitnya 4 persen dari total emisi (1).

Belum lama ini, laporan Greenpeace bertajuk ‘Menggoreng Iklim’ mengungkapkan bahwa sejumlah merek dagang dunia seperti Unilever, Nestle, Procter & Gambler menyebabkan pengrusakan hutan lahan gambut Indonesia. Laporan itu berkesimpulan bahwa moratorium atas pembabatan hutan dan penghancuran lahan gambut merupakan cara yang tercepat, dan paling efektif untuk menurunkan emisi gas rumah kaca di Indonesia (2).

Lahan gambut merupakan simpanan karbon dan ketika lahan itu dikeringkan, dibalak dan dibakar untuk perkebunan, sejumlah besar karbon dioksida terlepas ke udara, mengakibatkan perubahan iklim. Riau berencana mengembangkan sekitar tiga juta hektar perkebunan kelapa sawit, merusak hutan dan dapat mengancam keberadaan hewan langka, seperti harimau Sumatra.  

Belanda merupakan pengimpor terbesar di Eropa untuk minyak kelapa sawit asal Indonesia. Dalam upaya meyakinkan bahwa minyak kelapa sawit yang diimpor merupakan produk lestari, pemerintah Belanda memberikan kepercayaannya kepada Roundtable on Sustainable Palmoil (RSPO), meski sejumlah anggotanya bertanggung jawab terhadap pembabatan hutan dan penghancuran lahan gambut.

“Langkah sukarela dari perusahaan-perusahaan yang kebanyakan merusak hutan dan lahan gambut tidak dapat menyelamatkan hutan di Indonesia atau iklim,” kata juru kampanye kehutanan Greenpeace Asia Tenggara Bustar Maitar.

Greenpeace menyerukan agar pemerintah-pemerintah dunia dalam perundingan di Bali sepakat untuk berunding tentang suatu mekanisme pendanaan guna melindungi sisa hutan tropis di dunia sebagai bagian penting dari tahap berikut dari Protokol Kyoto. Hasil penurunan emisi akibat penggundulan hutan harus melengkapi penurunan emisi dari penggunaan bahan bakar fosil.

Greenpeace telah membeberkan dampak dari minya kelapa sawit terhadap hutan dan lahan gambut di Indonesia dengan membuka Kamp Pembela Hutan atau Forest Defenders Camp di Riau dan mendatangkan kapal Rainbow Warrior di Dumai, pelabuhan terbesar di Indonesia untuk ekspor minyak kelapa sawit.

Greenpeace adalah organisasi kampanye independen yang bekerja untuk mengubah sikap dan perilaku, demi melindungi dan melestarikan lingkungan hidup dan mengusung perdamaian.

Other contacts: Untuk keterangan tambahan, hubungi: - Bustar Maitar, Juru Kampanye Solusi Kehutanan Greenpeace Asia Tenggara, +62 813 44 666 135 . Sue Connor, Juru Kampanye Kehutanan Greenpeace International, +62 813 1765 3644 - Chris Nusatya, Greenpeace Southeast Asia media officer, +62 21 3101873 / +62 812 107 8050

Notes: Catatan: (1) Emisi akibat hancurnya lahan gambut di Indonesia mencapai 4 persen dari total emisi gas rumah kaca di dunia - 1,3 miliar ton akibat pembakaran, dan 0,5 miliar ton akibat penghancuran yang masih berlangsung. Sumber: Hooijer et al (2006): 29. Emisi global dari gas rumah kaca tahun 2004 mencapai 49 miliar tons. Sumber: Intergovernmental Panel on Climate Change, Working Group III (2007):3 (2) Laporan Greenpeace ‘Cooking the Climate’ atau “Menggoreng Iklim’ dapat dilihat di: http://www.greenpeace.org/international/press/reports/palm-oil-cooking-the-climate Ringkasannya dapat dilihat di: http://www.greenpeace.org/international/press/reports/cooking-the-climate-full Foto tersedia di ftp://share.greenpeace.org Folder: Rotterdam Palmoil, login: foto, password: f7/3Gdas