Perusahaan kelapa sawit merampok benteng terakhir hutan alam Indonesia

Siaran Pers - 10 Oktober, 2008
Hari ini Greenpeace memaparkan bukti terbaru konversi besar-besaran hutan alam di Papua untuk perkebunan kelapa sawit di kawasan Lereh, Kabupaten Jayapura.

Papua, Indonesia Perbedaan yang tajam antara hutan tersisa dan hutan yang telah hancur untuk pembukaan perkebunaan kelapa sawit di Papua, hutan alam terakhi Indonesia.

Pelayaran kapal Greenpeace Esperanza di Indonesia mengawali kampanye bertajuk Hutan untuk Iklim atau Forest for Climate awal minggu ini di Jayapura menyoroti dampak penggundulan hutan (deforestasi) di hutan alam terhadap perubahan iklim global, dan mendorong penyusutan keanekaragaman hayati dan penghancuran sumber-sumber penghidupan masyarakat yang pengguna kekayaan hutan. 

"Seperti halnya kawasan lain di Papua, tiga bulan lalu kawasan ini adalah hutan alam. Yang kami saksikan hari ini adalah kegiatan pembukaan hutan besar-besaran, yang juga melibatkan kegiatan pembakaran lahan untuk penyiapan lahan perkebunan kelapa sawit," ujar Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara. 

"Perusahaan-perusahaan kelapa sawit menimbun lahan untuk dikonversi menjadi lahan perkebunan, biasanya dengan mengorbankan masyarakat pemilik tanah. Greenpeace telah mengumpulkan bukti-bukti terbaru yang menunjukkan perusahaan seperti Sinar Mas mulai melakukan pembukaan lahan besar-besaran," tambahnya. 

Hutan di kawasan Lereh merupakan tempat tumbuhnya sagu dan nipah, yang merupakan sumber penghidupan masyarakat setempat. Sagu adalah makanan pokok masyarakat Papua dan merupakan sumber gizi penting, sementara nipah merupakan sumber bahan baku untuk keperluan membangun rumah. Penghancuran hutan juga akan menyebabkan menciptakan bencana bagi masyarakat yang menggantungkan hidup mereka kepada hutan. Tingginya laju perluasan perkebunan kelapa sawit saat ini merupakan faktor penting deforestasi di Indonesia. 

"Upaya melindungi benteng terakhir hutan alam Indonesia sangat penting untuk menangani dampak perubahan iklim. Kita perlu mendorong penghentian sementara (moratorium) sesegera mungkin terhadap semua bentuk konversi hutan di Indonesia guna mengendalikan emisi gas-gas rumah kaca (GRK), menjaga kekayaan keanekaragaman hayati dan melindungi penghidupan masyarakat setempat," simpul Bustar Maitar. 

Kapal Esperanza, yang sekarang dalam perjalanan dari Jayapura menuu Manokwari, di Propinsi Papua Barat, akan berkegiatan di Indonesia hingga 15 November. Greenpeace mendesak pemerintah untuk segera memberlakukan moratorium terhadap semua bentuk konversi hutan, termasuk perluasan perkebunan kelapa sawit, pembalakan skala industri, serta faktor pendorong lain. 

Greenpeace adalah organisasi kampanye global yang independen yang bertindak untuk mengubah sikap dan perilaku masyarakat guna melindungi dan melestarikan lingkungan hidup serta mengusung perdamaian.

Other contacts: Bustar Maitar, Juru Kampanye hutan, Greenpeace Asia Tenggara (Di atas kapal Esperanza), +47 5140 7987/88 Nabiha Shahab, Media Campaigner, Greenpeace Asia Tenggara (Di atas kapal Esperanza), +47 5140 7987/88 Martin Baker, Koordinator Media, Greenpeace Internasional, +62 813 1582 9513 Greenpeace International picture desk +44 (0) 207 865 8230 Greenpeace International video desk +31 646 16 2015

Kategori