14 November 2007, Dumai - Indonesia
Kapal Greenpeace Rainbow Warrior memonitor kegiatan kelapa sawit di Dumai - Pelabuhan ekspor kelapa sawit terbesar di Indonesia. Perkebunan kelapa sawit ke hutan dan lahan gambut merupakan ancaman serius bagi iklim global dan hutan di Indonesia.
“Kami bertindak untuk menunjukkan dampak buruk dari industri
kelapa sawit terhadap lahan gambut dan hutan di Indonesia dan iklim global,” kata
Sue Connor, Juru Kampanye kehutanan Greenpeace International.
Pengiriman kelapa sawit yang diangkut oleh MT Westama
berasal dari PT Permata Hijau Sawit, salah satu pengekspor besar kelapa sawit
di Indonesia, yang jumlah ekspornya mencapai 15 persen dari seluruh ekspor di
semester pertama tahun 2007. Permata Hijau Sawit mengekspor kelapa sawit dari
perusahaan-perusahaan yang diketahui terlibat dalam pembabatan dan kebakaran hutan
di Riau. Kelapa sawit itu akan dikirim ke India.
Diperluasnya perkebunan kelapa sawit ke hutan dan lahan
gambut merupakan ancaman serius bagi iklim global dan hutan di Indonesia.
Rencana pengembangan kelapa sawit di Riau sangat mungkin mengakibatkan “bom
waktu iklim.’ Lahan
gambut di Riau yang menyimpan 14.6 miliar ton karbon – besaran yang menyamai emisi gas rumah kaca di
dunia selama setahun (1)
Propinsi Riau merupakan
tempat bagi 25 persen dari seluruh perkebunan kelapa sawit Indonesia. Rencana perluasan
perkebunan kelapa sawit yang sudah disiapkan mencapai 3 juta hektar, setengah
dari luas propinsi ini.
“Permintaan global yang
untuk kelapa sawit digunakan untuk produksi makanan, kosmetik dan bahan bakar
(biofuel) telah menyebabkan deforestasi dan perubahan iklim,” kata Connor.
“Membabat, mengeringkan dan membakar hutan lahan gambut di Indonesia menyebabkan terlepasnya sejumlah
besar simpanan karbon ke udara. Hal ini menyebabkan Indonesia menjadi negara penyumbang
emisi (emiter) karbon ketiga terbesar di dunia.
Dua-setengah minggu sebelum
pemerintah-pemerintah dunia bertemu dalam putaran perundingan iklim di Bali guna memutuskan tindakan-tindakan internasional
dalam mengatasi perubahan iklim, Greenpeace menyerukan agar penurunan
deforestasi dicantumkan sebagai salah
satu tindakan tersebut.
Laporan Greenpeace yang
dikeluarkan minggu lalu menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan besar dunia
seperti Unilever, Nestle dan Procter & Gamble, yang menggunakan kelapa
sawit dalam produk-produk mereka, telah terlibat dalam penghancuran hutan, dan
mereka tidak mengetahui bahwa kelapa sawit untuk mereka berasal dari pengalihan
hutan (2).
“Perusahan-perusahaan tersebut harus segera menghentikan
pembelian kelapa sawit sampai mereka berani menjamin bukan berasal dari kebun
yang terkait dengan pembabatan hutan,” kata Connor.
Perluasan kebun kelapa sawit merupakan penyebab utama
deforestasi di Indonesia.
“Kami menginginkan agar Pemerintah Indonesia
segera mengeluarkan moratorium atas pengalihan lahan gambut dan pengrusakan
hutan demi mencegah perubahan iklim yang berbahaya,” kata Bustar Maitar, juru
kampanye solusi hutan Greenpeace Asia Tenggara. “Hutan kita berpotensi menjadi
bagian penting dalam solusi global untuk perubahan iklim. Namun, jika
pengalihan hutan tetap terjadi, hutan-hutan di Indonesia justru akan menjadi
bagian masalah perubahan iklim.”
Indonesia adalah negara pengekspor utama
kelapa sawit di dunia dan Dumai adalah pelabuhan utama untuk kelapa sawit yang
juga pelabuhan penting di Riau. “Riau hanya sebuah contoh dari rencana
pengembangan kelapa sawit dalam skala besar di Indonesia,” kata Maitar. “Hutan dan
lahan gambut di kawasan lain di Indonesia, seperti Sumatra, Kalimantan dan
Papua, semuanya terancam dengan bertambahnya permintaan dunia akan kelapa
sawit.”
Pada perundingan iklim di Bali
nanti, Greenpeace akan menyerukan agar ada kesepakatan untuk merundingkan mekanisme
baru pembiayaan guna mengurangi deforestasi dengan tajam. Penurunan emisi
akibat deforestasi harus melengkapi penurunan emisi dari pembakaran bahan bakar
fosil.
Greenpeace
adalah organisasi kampanye independen yang bekerja untuk mengubah sikap dan
perilaku, demi melindungi dan melestarikan lingkungan hidup dan mengusung
perdamaian.
Other contacts: Foto dan video, hubungi:
Foto: Daniel Beltra, Greenpeace International photo manager +44 (0) 207 865 8230
Video dapat diperoleh dari Jill Woodward, Greenpeace International video producer +31 646 162 015
Cuplikan dapat dilihat di layanan pers: www.greenpeace.org/international/press/video-previews
VVPR info: Keterangan tambahan, hubungi:
Yang sedang berada di kapal Rainbow Warrior:
Sue Connor, Juru Kampanye Kehutanan Greenpeace International +62 8131 1765 3644
Bustar Maitar, Juru Kampanye Solusi Kehutanan Greenpeace Asia Tenggara +62 813 446 661 35
Tiy Chung: Greenpeace communications officer +61 409 604 010
Rainbow Warrior, nomor telepon +31 653 464 289
Notes: Catatan:
1) Lahan gambut di Riau menyimpan 14,6 miliar ton karbon. Sumber: Wahyunto et al (2003): Maps of Area of Peatland Distribution and Carbon Content in Sumatra, 1990-2002. Wetlands International -- Indonesia Programme & Wildlife Habitat Canada (WHC).
2. Laporan Greenpeace (8 November 2007) "Cooking the Climate” (Menggoreng Iklim). Laporan ini menunjukkan sejumlah merek-merek dagang terkenal di dunia terlibat dalam penghancuran hutan lahan gambut di Indonesia, yang menjadi salah satu sumber emisi gas rumah kaca.
Laporan terdapat di: http://www.greenpeace.org/cookingtheclimate
Ringkasan laporan terdpat di: http://www.greenpeace.org/cookingtheclimate/summary