“Hutan di Pulau Papua sangat
penting bagi kehidupan sehar-hari masyarakat Papua. Namun hutan di Pulau Papua
juga memberi manfaat bagi seluruh dunia sebagai ’paru-paru bumi’. Kami ingin
mendukung masyarakat dan Pemerintah Daerah Provinsi Papua dan Provinsi Papua
Barat melindungi hutan untuk memetik manfaat sebesar-besarnya, dan bukan dari
pembalakan atau pembukaan hutan untuk kelapa sawit.” ungkap Bustar Maitar, Juru
Kampanye Hutan Greenpeace.
“Selain dampak langsung dari
pembukaan hutan, dipahami pula bahwa penghancuran hutan melepaskan gas karbon
dalam jumlah sangat besar yang kemudian menyumbang proses pemanasan bumi, dan
seterusnya menimbulkan perubahan iklim.” tambah Bustar Maitar.
Krisis iklim – pemanasan muka
bumi – telah mendorong keadaan iklim yang tidak stabil, termasuk banjir dan
kekeringan, meningkatnya tinggi permukaan air laut lebih dari satu meter, serta
menyusutnya luas salju dipegunungan.
Indonesia adalah negara nomor tiga terbesar yang menyumbang gas-gas yang
menyebabkan pemanasan bumi setelah negara China dan Amerika Serikat (1).
Sebagian besar gas-gas tersebut dihasilkan dari pembukaan dan pembakaran hutan,
khususnya yang terjadi di Sumatra dan Kalimantan.
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) meletakkan Indonesia di posisi utama pada saat IPCC
mengatakan bahwa Indonesia
bisah menyumbang 50% dari potensi total mitigasi global untuk pengurangan emisi
dari deforestasi (2).
Indonesia juga mempunyai hutan alam asli di Asia-Pasific
yang terbesar tetapi sedang mengalami kerusakan yang tercepat diseluruh dunia.
Oleh karena itu perlindungan hutan di Pulau Papua menjadisangat penting untuk
menghambat pelepasan gas-gas tersebut.
“Kami sangat prihatin terhadap
dampak-dampak sosial dan lingkungan hidup akibat pengembangan perkebunan kelapa
sawit dan pembalakan hutan yang ternyata sangat kecil manfaat langsungnya bagi
masyarakat setempat. Kami yakin Papua memiliki peluang untuk membuka jalur baru
yang memungkinkan masyarakat mengelola hutannya untuk tujuan jangka-panjang,”
tegaskan Septer Manufandu, Sekretaris Eksekutif FOKER LSM Papua.
Maksimum 9 juta hektar hutan di
Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat telah diidentifikasi oleh Departemen
Kehutanan untuk dikonversi. Belajar dari pengalaman daerah lain di Indonesia,
konversi hutan alam menjadi perkebunan kelapa sawit telah menimbulkan dampak
sosial dan lingkungan hidup yang serius: konflik penguasaan tanah, konflik
perburuhan, lenyapnya bahan pangan penting, semakin terbatasnya sumberdaya
untuk kesehatan dan bahan bangunan, pencemaran dan peracunan akibat penggunaan
pestisida, dan juga potensi lenyapnya ekosistem hutan untuk selama-lamanya.
Pada Desember tahun ini
Indonesia akan menjadi tuan rumah bagi 180 negara yang akan berkumpul pada
konferensi dunia yang sangat penting tentang perubahan iklim di Bali untuk
memutuskan bagaimana negara – Negara kaya dapat membantu perlindungan secara
global hutan-hutan tropika di Papua, Amazon dan Congo.
“Penyelamatan hutan haruslah
merupakan bagian dari upaya untuk membantu masyarakat Papua dalam meningkatkan
kesejahteraannya dalam masa datang dan kemudian masyarakat Papua ikut terlibat
dalam menyelamatkan krisis iklim global,” ucap Bustar Maitar.