Siaran Pers - 24 April, 2008
Sehari sebelum peringatan 22 tahun kecelakaan nuklir di Chernobyl industri nuklir, dunia diguncang dengan terungkapnya kasus kecelakaan nuklir besar di Spanyol serta penundaan mahal dan defisiensi berkaitan dengan pembangunan yang disebut dengan reaktor nuklir utama renaisans di Prancis dan Finlandia yang terus mempermalukan pihak industri.
Masyarakat Balong Jepara melakukan penolakan terhadap rencana pembangunan PLTN di semenanjung Muria, Jepara.
Greenpeace berhasil
mengungkapkan fakta dibalik kasus bocornya pembangkit listrik
tenaga nuklir Asco-I di Spanyol November tahun lalu. Kecelakaan ini
telah mengakibatkan kontaminasi zat radioaktif di sekitar sarana
pembangkit. Pengelola pembangkit yakni Endesa/Iberdrola mencoba
menutupi masalah ini selama empat bulan. Bahkan beberapa hari
setelah Greenpeace membeberkan fakta dibalik kejadian tersebut
komisi keamanan nuklir Spanyol CSN masih meremehkan skala bencana
tersebut. Namun bukti kuat akhirnya memaksa CSN untuk mengakui
bahwa kebocoran yang terjadi setidaknya seratus kali lipat lebih
besar dari apa yang diumumkan sebelumnya. Akibatnya zat radioaktif
panas yang tersebar beberapa kilometer dari lokasi kecelakaan serta
ratusan ribu orang harus diperiksa kadar kontaminasi dalam
tubuh.
Kebocoran serta
kontaminasi yang terjadi setelahnya disebabkan oleh serangkaian
kesalahan yang dilakukan oleh pihak pengelola pembangkit. Adanya
upaya untuk menutupi kesalahan yang terjadi oleh pihak manajemen
serta pemerintah menunjukkan bahwa masih ada yang belum belajar
dari kesalahan yang terjadi di Chernobyl.
"Industri nuklir
masih terjebak lingkaran setan kecelakaan, kebohongan serta
kelalaian. Tenaga nuklir adalah hasil eksperimen abad ke 20 yang
gagal. Tidak ada ruang bagi nuklir dalam upaya memenuhi permintaan
energinya atau dalam upaya mengindari bencana perubahan iklim
dimanapun di dunia, khususnya di Indonesia," ujar Sonki Prasetya,
juru kampanye energi bersih Indonesia di Greenpeace Asia
Tenggara.
Greenpeace melihat
bahwa tidak ada ruang bagi tenaga nuklir dalam upaya global untuk
mengurangi emisi gas rumah kaca sampai dengan setengahnya guna
menghindari dampak perubahan iklim yang terburuk. Sebaliknya
Greenpeace menyerukan digulirkannya revolusi energi mencakup sumber
energi terbarukan serta efisiensi energi. Pemerintahan yang memilih
tenaga nuklir akan merasa bahwa kemerdekaan serta ketahanan
energinya akan berada di tangan segelintir negara dan perusahaan
yang dapat menyediakan teknologi serta bahan bakar nuklir.
Greenpeace adalah organisasi kampanye yang independen, yang
menggunakan konfrontasi kreatif dan tanpa kekerasan untuk
mengungkap masalah lingkungan hidup, dan mendorong solusi yang
diperlukan untuk masa depan yang hijau dan damai.
Other contacts: Sonki Prasetya, Juru kampanye Energi, Greenpeace Asia Tenggara - Indonesia, 0818 0620 3824
Adhityani Arga, Media campaigner, Greenpeace Asia Tenggara - Indonesia, 0813 980 999 77