Internalisasi Dampak dan Biaya Kesehatan dari PLTU Batubara di Indonesia.

Laporan - 21 September, 2016
Energi batubara sebagai pilihan utama pemerintah Indonesia demi mencapai target ambisius untuk membangun tambahan 35 Gigawatt (GW) kapasitas baru pada tahun 2019 telah menciptakan biaya dan dampak kesehatan serius yang akan membebani pemerintah dan masyarakat Indonesia.

Dengan menyertakan pertimbangan dampak biaya dan  kesehatan dari PLTU batubara, dapat dibuktikan bahwa pada akhirnya PLTU batubara menimbulkan biaya penyediaan listrik yang jauh lebih mahal daripada semua jenis energi.  Maka jelaslah bahwa batubara merupakan pilihan yang buruk untuk sebuah strategi energi masa depan negara.

Produksi dan penggunaan energi tetap menjadi sumber utama polusi udara di Indonesia.  Lebih dari 85 persen  dari partikel sulfur oksida dan nitrogen oksida dilepaskan oleh sektor energi.  Saat ini, jutaan ton polutan dari sektor energi dilepaskan dan menyebabkan kematian dini hingga mencapai estimasi 190 orang/hari di negara ini pada tahun 2013.[1]

Emisi batubara adalah salah satu polutan yang paling merusak dari sektor energi. Namun, sampai saat ini, sekitar 40 persen dari pembangkit listrik di seluruh dunia masih menggunakan batubara sebagai sumber energi.  Kini PLTU batubara semakin kehilangan popularitasnya di sejumlah negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Belanda – berkat meningkatkan kesadaran dampak berbahaya yang ditimbulkan, penolakan publik yang luas terhadap penggunaan batubara, serta  ketersediaan energi terbarukan dunia yang semakin terjangkau – namun sebaliknya  PLTU batubara masih mendominasi produksi energi di Indonesia.   PLTU batubara meliputi sekitar  2/3 (dua pertiga) dari penjualan batubara di dalam negeri pada tahun 2010.

Selengkapnya Download:

Kategori