Izin Untuk Memusnahkan

Bagaimana deforestasi dari perkebunan kelapa sawit mendorong harimau Sumatera menuju kepunahan.

Laporan - 22 Oktober, 2013
Saat ini hanya sekitar 400 ekor harimau diperkirakan tersisa di hutan-hutan hujan Sumatra – yang berkurang secara pesat – seperempat juta hektar tiap tahunnya. Ekspansi perkebunan kelapa sawit dan kayu pulp/HTI (Hutan Tanaman Industri) adalah penyebab hampir dua pertiga kerusakan habitat harimau dalam kurun waktu antara 2009 sampai 2011, periode paling akhir dimana data resmi pemerintah Indonesia tersedia. Kerusakan semacam ini memfragmentasi wilayah besar hutan ruang hidup harimau untuk berburu. Keadaan ini juga meningkatkan kontak dengan manusia; yang mengakibatkan meningkatnya perburuan harimau liar untuk perdagangan kulit dan obat-obatan tradisional serta meningkatnya serangan harimau yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia dan harimau.

 

Menurunnya populasi harimau Sumatra adalah indikasi hilangnya hutan, keanekaragaman hayati dan juga kestabilan iklim. Musim kemarau ini kebakaran besar yang disengaja maupun tidak, berkobar di Sumatra terutama di provinsi Riau dan menghancurkan ratusan ribu hektar hutan hujan – termasuk hutan lahan gambut dalam yang merupakan habitat terakhir harimau di provinsi ini. Kebakaran tersebut tercatat memecahkan rekor yang mengakibatkan terlepasnya gas rumahkaca (GRK) dan polutan dalam jumlah besar dimana kabut asapnya yang jauh hingga mencapai Thailand.

Menurut pemerintah Indonesia, 85% dari emisi GRK
negri ini berasal dari perubahan peruntukan lahan (terutama yang berkaitan dengan deforestasi untuk perkebunan atau pertanian), dan sekitar separuhnya berkaitan dengan lahan gambut. Bahkan habitat harimau Sumatra dalam wilayah lindung seperti Taman Nasional Tesso Nilo yang terkenal di dunia telah dihancurkan oleh perambahan untuk produksi minyak kelapa sawit ilegal, dan pejabat pemerintahpun mengakui bahwa perlindungan wilayah ini hanya ada di atas kertas.

Download Laporan (PDF):