22 April 2009, Jakarta – Kelompok pemuda Greenpeace, Solar Generation, menyerukan revolusi penggunaan dan produksi energi di Indonesia, dengan mengadakan kampanye “Smart Power” di Bandung hari ini.
“Kami berada di sini sebagai perwakilan generasi muda Indonesia,
berusaha menggugah pemerintah, industri dan generasi muda untuk bersatu
padu mengatasi masalah perubahan iklim. Kaum muda adalah pihak yang
akan merasakan langsung dampak perubahan iklim di masa mendatang, jika
tidak segera dilakukan langkah-langkah untuk mengubah investasi dari
bahan bakar berpolusi macam bensin dan batu bara, menjadi sumber-sumber
energi yang bersih dan terbaharui seperti panas bumi, tenaga angin,
serta matahari. Selain itu sangat penting dilakukan implementasi
program penghematan energi besar-besaran di seluruh negeri, agar tidak
menambah lagi emisi gas rumah kaca Indonesia yang sudah sangat tinggi
akibat pembabatan hutan,” jelas Galih, Koordinator Solar Generation
Indonesia.
Solar Generation juga memanfaatkan acara ini untuk meluncurkan
inisiatif dalam merancang mata pelajaran lingkungan pada kurikulum
Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Melalui proyek ini,
Solar Generation bertujuan meningkatkan kesadaran generasi muda untuk
melakukan sesuatu, dengan memperkenalkan program-program efisiensi
energi di sekolah-sekolah
Greenpeace telah mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk
melakukan langkah konkret mengatasi masalah perubahan iklim dengan cara
mengurangi emisi gas rumah kaca Indonesia, yang sebagian besar
dihasilkan oleh pembabatan hutan. Tetapi dengan semakin besarnya emisi
yang dihasilkan dari penggunaan pembangkit tenaga berbasis batu bara,
Solar Generation mengkhawatirkan dalam waktu dekat Indonesia akan
memecahkan rekornya sendiri sebagai negara terbesar ketiga penghasil
emisi gas rumah kaca.
Tahun ini adalah tahun yang sangat penting. Karena tahun ini adalah
tahun pemilihan umum untuk Indonesia, dimana pemilihan legislatif
berakhir April, pemilihan presiden pada September, dan langkah-langkah
penting akan terus dilakukan untuk mengatasi krisis finansial global.
Yang paling penting, tahun ini komunitas internasional akan melakukan
pertemuan di Copenhagen, Denmark, dimana harus ada kesepakatan terhadap
aksi segera dan dramatis untuk mengatasi ancaman perubahan iklim dan
menentukan arah kepada masa depan yang lebih berkelanjutan.
Kepemimpinan kuat dari negara-negara berkembang seperti Indonesia,
serta kerja sama dari negara-negara maju sangat penting untuk
menghasilkan kesepakatan di Copenhagen. Untuk itu Solar Generation
mendesak Presiden Yudhoyono untuk mengambil kepemimpinan itu.
“Greenpeace dan Solar Generation menghimbau generasi muda Indonesia
untuk menyerukan efisiensi energi dan industri energi terbaharui, untuk
menciptakan model pembangunan baru pemenuhan kebutuhan energi,
menghentikan penggunaan batu bara, dan menciptakan jutaan lapangan
kerja hijau baru tanpa mengorbankan kesehatan manusia dan lingkungan,”
demikian kesimpulan Arif Fiyanto, Jurukampanye Iklim dan Energi
Greenpeace Asia Tenggara.