Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki ketergantungan sangat tinggi terhadap batubara dan bahan bakar fosil lainnya. Sampai akhir 2015, hanya sekitar  5% dari kebutuhan listrik Indonesia yang sudah dipenuhi dari sumber energi terbarukan. 

Hambatan dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia bukanlah masalah teknologi atau keekonomian, tetapi lebih pada masalah sosial dan politik.Terutama sekali pada paradigma pengambil kebijakan negeri ini yang menganggap bahwa energi terbarukan masih mahal dan hanya cocok diterapkan di negara-negara maju seperti negara-negara Skandinavia dan Eropa Barat. Sedangkan bagi negara berkembang seperti Indonesia, batubara dan bahan bakar fosil lainnya masih merupakan pilihan yang tepat. Jelas ini merupakan paradigma yang keliru dan harus diluruskan.

Tren global saat ini, sedang mengarah pada peralihan sumber energi fosil ke energi terbarukan. Negara-negara berkembang saat ini sedang ramai mengembangkan energi terbarukan dengan target yang cukup ambisius. Pemerintah dan para pengambil kebijakan di negeri ini bisa mencontoh lima negara ini.

1. Kosta Rika

Negara yang terletak di kawasan Amerika Tengah ini merupakan salah satu negara di dunia yang paling maju pemanfaatan energi terbarukannya. Saat ini sekitar 98% dari kebutuhan energinya telah dipenuhi oleh sumber-sumber energi terbarukan seperti air, angin dan panas bumi. Pada tahun 2015,  Kosta Rika mencatatkan rekor dimana negeri ini mampu memenuhi 100% kebutuhan energinya selama 94 hari berturut-turut. Costa Rican Institute Electricity (ICE), Institusi semacam PLN di negeri itu, menargetkan pada tahun 2025, Kosta Rika akan menjadi negara pertama di dunia yang seluruh kebutuhan energinya akan dipenuhi oleh sumber-sumber energi terbarukan seperti panas bumi, angin, dan air.

2. Afganistan

Mungkin yang kita dengar dari negeri ini hanya tentang perang, ledakan bom, atau pertikaian politik antar faksi. Namun, dibalik semua itu, Afganistan merupakan salah satu negara yang serius mengembangkan sumber-sumber energi terbarukan bagi pemenuhan kebutuhan listrik untuk sekitar 30 juta orang populasinya. Perpecahan yang terjadi di negara ini, baik secara politik maupun geografis, ironisnya, membuka jalan bagi pengembangan energi terbarukan yang terdesentralisasi, karena sangat berisiko untuk membangun pembangkit listrik skala besar yang terpusat, di negara yang berkonflik seperti Afganistan. Untuk memastikan pembangkit listrik skala besar dapat berjalan secara baik dan aman dibutuhkan tata kelola dan manajemen yang baik serta  otoritas terpusat yang kuat, sesuatu yang langka di Afganistan hari ini.

Saat ini,  belasan ribu rumah tangga di bagian utara negeri ini, memenuhi kebutuhan listriknya dengan potensi sumber energi terbarukan yang tersedia di wilayah mereka masing-masing, terutama energi surya, angin dan mikro hidro.

3. Uruguay

Pada Konferensi Perubahan Iklim Paris  bulan lalu, Uruguay membuat terkesan hampir seluruh negara-negara di dunia, dengan mengumumkan bahwa saat ini mereka telah memenuhi kebutuhan listrik negeri itu sebesar 94,5% dari sumber-sumber energi terbarukan, dan hal itu dapat mereka capai dalam waktu kurang dari 10 tahun.  Uruguay memnfaatkan secara maksimal hampir seluruh potensi sumber energi terbarukan yang terdapat di negeri itu, mulai dari mikro hidro, angin, biomassa, dan surya. Hal yang paling mengesankan dari pencapaian Uruguay adalah, bahwa mereka mencapai semua itu tanpa subsidi dari pemerintah atau membebankankan harga listrik yang tinggi bagi konsumen. Selain itu, pencapaian besar Uruguay ini juga sama sekali tidak membutuhkan keajaiban teknologi dan kebijakan ekonomi yang  rumit, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sama sekali tidak dibutuhkan, dan  telah lebih dari dua dekade Pembangkit Listri Tenaga Air (PLTA) skala besar tidak dibangun di negeri yang terletak di kawasan Amerika Selatan itu.

Menurut Ramon Mendez, Kepala Kebijakan Perubahan Iklim Uruguay, kunci keberhasilan dari Uruguay adalah, proses pengambilan kebijakan yang jelas,  iklim regulasi yang mendukung pengembangan energi terbarukan, dan kemitraan yang kuat antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.

4. Cina

Polusi udara yang sangat parah akibat pembakaran batubara di pembangkit listrik-pembangkit listrik di Cina menjadi pemicu utama bagi perubahan radikal dalam kebijakan pemenuhan energi di negara dengan populasi terbanyak di dunia ini.  Para pemimpin di Cina menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi yang mereka nikmati, dibangun dengan mengorbankan kesehatan ratusan juta rakyatnya.  Mereka juga menyadari bahwa model pembangunan ekonomi mereka yang sangat tergantung pada bahan bakar fosil sangat rentan bagi ketahanan energi negeri itu.

Sejak tahun 2013, Cina mulai mengurangi dan membatasi penggunaan batubara dan beralih ke penggunaan sumber-sumber energi terbarukan bagi pemenuhan kebutuhan listrik rakyat dan industri di negeri itu.

Saat ini Cina merupakan negara adikuasa dalam pengembangan dan pemanfaatan sumber-sumber energi terbarukan di dunia. Cina menargetkan pada tahun 2030, 20% dari total konsumsi energi negeri itu akan dipenuhi oleh energi terbarukan. Namun, berbagai institusi dan pemangku kepentingan energi yang terkait di Cina, menyatakan dengan kondisi saat ini, Cina dapat memenuhi sekitar 60% dari total kebutuhan energinya pada tahun 2030 dengan sumber-sumber energi terbarukan. Satu kesimpulan yang sama dari berbagai pihak di Cina adalah, tidak ada halangan bagi negeri itu, baik secara teknologi atau keekonomian, untuk secepatnya meninggalkan batubara dan beralih ke sumber energi angin dan surya.

Pada tahun 2014, Cina berinvestasi sekitar 90 Miliar dolar Amerika bagi pengembangan energi bersih. Rekor investasi yang membuat investasi-investasi negara lain di sektor ini nampak sangat kecil.

5. India

Dalam hal mimpi dan visi untuk mengembangkan energi terbarukan, nampaknya Indonesia masih jauh tertinggal dari India. Jika Presiden Jokowi hanya menargetkan untuk memenuhi kebutuhan listrik Indonesia dari sumber energi terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025, Maka Perdana Menteri Narendra Modi di India menargetkan akan membangun 175 Gigawatt pembakit listrik bersumber energi terbarukan pada tahun 2022, dimana 100 Gigawatt diantaranya akan dihasilkan dari energi surya. Dengan dukungan kebijakan dan perubahan paradigma para pengambil kebijakannya, maka India yakin akan mencapai target ambisiusnya.

Contoh dari 5 negara di atas menunjukkan secara jelas bahwa hal terpenting yang dibutuhkan bagi pengembangan energi terbarukan bukanlah masalah teknologi atau keekonomian, tetapi lebih pada dukungan kebijakan, visi pemimpinnya, dan perubahan paradigma para pengambil kebijakan energi di negeri itu.

Saya yakin sepenuhnya Presiden Jokowi adalah sosok pemimpin yang mempunyai kualitas untuk memimpin Indonesia dalam menghentikan ketergantungan negeri ini pada energi kotor batubara dan beralih ke energi terbarukan yang bersih dan berlimpah di negeri ini. Jokowi pasti bisa!