Pelayaran saya bersama Rainbow Warrior III, sebuah kapal kampanye milik Greenpeace bukanlah sekedar plesiran. Banyak waktu untuk merenung dan memperhatikan setiap kejadian yang tampaknya remeh, tapi sebenarnya sangat berarti, khususnya bagi Bumi.

Setiap pagi saya memasang alarm lebih awal, perbedaan waktu antara Jakarta dan Papua ditambah intensitas kegiatan selama beberapa waktu terakhir membuat saya menjadi sangat tergantung pada alarm handphone yang baik hati. Bersama seorang sahabat, Nila Tanzil kami ikut dalam pelayarana Rainbow Warrior dan berharap memperoleh banyak pengalaman yang membukakan wawasan walau dalam waktu yang cukup singkat.

Perempuan dan Rainbow Warrior

Ini salah satu yang membuat saya semangat dalam perjalanan singkat saya.  Melangkah ke ruang lounge, berpapasan dengan Emma dari Australia, Bosun atau Serang (Kepala kerja bawahan) kapal Rainbow Warrioir III, langkahnya selalu tergesa, sesekali menyeka keringat dari dahi sambil menyibakkan rambut pirangnya . Lalu Sophie - Deckhand,  wanita muda Kiwi –demikian ia menyebut dirinya – dari New Zealand yang mulutnya tak berhenti mengunyah sesuatu. 

Ada juga seorang perempuan dengan tugas sebagai mualim 1 (Chief Mate) namanya Hetty, seorang wanita Belanda yang hangat dan ramah. Dan seorang wanita paruh baya yang energik namanya Leslie, berambut pendek, seorang sukarelawan yang bertugas sebagai dokter kapal, walau sesekali membantu kru kapal lain menarik tali tambang kapal ketika berlabuh. Begitu banyak perempuan melakukan tugas kapal yang berkesan maskulin, menambah gairah di diri saya untuk tetap bersemangat di kegiatan saya sehari-hari , yang katanya “ bukan pekerjaan perempuan “

Pengetahuan adalah awal dari perubahan

Dalam pelayaran ini, pengetahuan dan wawasan datang saat saya berkumpul dengan rekan aktivis.  Bahkan pemahaman tentang perjalanan pribadipun datang tak terduga ketika saya berkesempatan berbincang dengan fotografer Paul Hilton. Paul, yang sangat bersemangat ketika bicara tentang konservasi, sempat bercerita tentang tantangannya mencari keseimbangan antara idealismenya untuk alam, aktifitas serta kehidupan pribadinya. Mengejutkan betapa mudahnya saya bisa bercermin dan melihat diri saya dalam ceritanya.

“People can be very cruel not only to the Planet Earth, but to their own future.”, katanya pada saya yang menanggapi dalam diam sambil menatap laut lepas.

Pengetahuan adalah awal dari perubahan, setidaknya itulah yang saya alami dari percakapan di suatu malam saat kami semua berkumpul. Saya ingat waktu itu teman-teman aktivis Greenpeace dari Filipina, Panama serta teknisi kapal dari Rusia dan seorang kawan lain dari Bali – kami menghabiskan waktu bercerita, mulai dari kisah pelayaran hingga hal yang sangat krusial, tentang laut dan perikanan.

Menurut Mark, jurukampanye Greenpeace dari Filipina, penangkapan ikan tuna berkelanjutan adalah fokus kampanye laut Greenpeace. “Jika kita bisa mengatur penangkapan tuna secara terkendali dan baik, masalah perikanan lain bisa tertangani dengan lebih baik. Kita bicara tentang potensi ekonomi yang melintasi batas negara, tak hanya dari pergerakan tuna tapi juga pengaturan sosial ekonomi manusia yang memanfaatkannya.”

Dari pembicaraan kami malam itu, mengertilah saya bahwa yang membuat kampanye laut Greenpeace berbeda adalah karena Greenpeace menggunakan metode global yang bertujuan untuk menyamakan standar hingga semuanya bisa terkoneksi dengan baik dan menjangkau tidak hanya penjual lokal tapi juga kebijakan internasional, tidak hanya masyarakat biasa tapi juga konglomerat.

“Dan kami tidak akan berhenti hingga target kampanye ini tercapai.”, Mark menambahkan.

Saya menyimpan baik-baik semua informasi ini. Karena semua pengetahuan dan informasi ini membuat saya semakin mengerti dan memahami. Memahami apa yang membuat para aktifis ini bertahan. Bukan masalah narsisme untuk tampil dan diliput media, bukan juga masalah materi. Ini adalah masalah logika sederhana. Logika yang terbentuk dari pemahaman menyeluruh tentang sebuah perjalanan, pertemuan, ilmu dan pengalaman. Logikanya, sekeras apapun teriakannya, bumi tidak punya pita suara. Manusialah yang punya. Manusia paling bertanggung jawab atas kelangsungan atau kehancuran Bumi.

Menjawab pertanyaan diatas : Apa arti sebuah perjalanan?

Dalam waktu yang singkat, hanya beberapa hari pelayaran bersama Rainbow Warrior, semangat saya tak lagi sama. Saya semakin memantapkan hati dan tujuan. Konservasi bukan hal yang jauh dan asing, konservasi adalah bagian dari kodrat kita sebagai manusia. Sekecil apapun niat itu muncul, lebih baik niat itu ada dan kita menyadarinya – jangan pernah mengabaikannya, toh.. nurani tak pernah bisa dibohongi.

Apakah kamu pun sudah semakin siap bersuara untuk Bumi?

  

Riyanni Djangkaru seorang aktivis lingkungan, Presenter tv, Editor In Chief of Divemag Indonesia, Penyelam dan ibu dari seorang putra.