Merupakan sebuah kebanggaan bagi saya dapat berlayar bersama Rainbow Warrior generasi ke-3 menjelajahi keindahan alam Papua, yang saat ini terancam oleh kerusakan.

Empat hari setelah meninggalkan Port Numbay Jayapura tanggal 11 Mei sore hari, Rainbow Warrior tiba di perairan Teluk Cendrawasih, yang terkenal dengan  Hiu Paus (Whale Shark) dan keindahan bawah lautnya. Tak berhenti disitu, di dalam perjalanan kami juga memperoleh informasi, bahwa berdekatan dengan lokasi Hiu Paus ada sebuah kampung yang bernama Kwatisore, dipercayai memiliki cerita menarik dalam menjaga dan melestarikan hutan alam Papua.  Kami pun tidak ingin kehilangan kesempatan ini dan memutuskan untuk berkunjung ke desa tersebut.

Ternyata benar adanya, sekitar pukul 09.30 pagi setelah melewati keindahan karang dan jernihnya laut biru di Teluk Cendrawasih, kami pun tiba di pelabuhan Kwatisore.  Dua orang teman dari Greenpeace China (Weiju) dan India (Pari), serta videografer profesional Barli Fibriady turut menemani, mereka sangat antusias untuk mengunjungi, menjelajahi dan berbicang-bincang dengan penduduk kampung.

Kampung Kwatisore hanya dihuni oleh 50 kepala keluarga dan berada di pesisir kawasan hutan yang masih sangat sejuk dan alam. Dengan sumber pendapatan yang berasal dari pertanian (Gaharu, Mahosi) serta dari hasil laut sebagai nelayan. Kedua kegiatan tersebut dilakukan oleh hampir seluruh keluarga berdasarkan kalendar musim yang mereka percayai. Situasi di kampung sangat tenang dan damai, warganya pun ramah dan menaruh hormat pada pendatang. Sehingga tak sulit bagi kami untuk menemukan rumah Kepala Distrik (Camat) dan Kepala Kampung,

Kedatangan kami disambut hangat oleh kepala distrik dan kepala kampung. Setelah menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan tim  Kampanye Hutan Greenpeace, kepala distrik dan kepala kampung serta ditemani oleh pemuda kampung, membawa kami berkeliling kampung dan menjelaskan betapa pentingnya hutan bagi keberlangsungan hidup dan keselamatan mereka.

Menurut warga Kwatisore, Gaharu dan Kulit Mahosi adalah bahan dasar untuk parfum. Sehingga harga jualnya cukup mahal bagi warga sekitar (40-50 per kilo), sayangnya mereka tidak mengetahui berapa harga jual di pasaran karena mereka hanya menjual bahan mentah kepada perantara (pedagang pengumpul) yang datang dari Nabire.

Namun begitu, cara warga mengelola Gaharu dan Mahosi sangat baik, bahkan saat ini mereka telah berhasil membudidayakan kedua tanaman tersebut di lahan sekitar rumah dan kebun mereka, sekitar 14 kilometer dari kampung. Gaharu dan Mahosi hanya bisa dipanen ketika kedua pohon tersebut telah memiliki anakan yang cukup untuk dikembangkan. Hal tersebut dilakukan karena setelah di panen, Indukan Gaharu dan Mahosi akan mati.

Awalnya warga hanya mengandalkan Gaharu dan Mahosi yang tumbuh liar di hutan Kwatisore, namun kemudian mereka berpikir dengan bergantung sepenuhnya pada tumbuhan tersebut di hutan tidak bisa menjamin keberlanjutan sumber ekonomi mereka dan lama kelamaan hutan akan hilang dan rusak. Mereka tidak ingin hal itu terjadi, maka kemudian mereka mulai mencoba untuk membudidayakan kedua tanaman tersebut.

Lahangin, salah seorang warga yang kami temui menceritakan caranya  mengelola Gaharu. Diawali dengan keberanian untuk mencoba, Lahangin saat ini berhasil mengembangkan sekitar 1000 pohon gaharu, yang menurut beliau itu adalah simpanan untuk anak dan cucunya kelak. “Hutan kami tetap terjaga, dan Gaharu tetap dapat memberikan kehidupan kepada kami” ujar Lahangin menutup perbincangan.

Diakhir kunjungan, Kepala Distrik membawa kami mengunjungi situs Batu Gantung yang berada di atas puncak perbukitan Kwatisore. Situs tersebut sangat sakral bagi warga kampung dan ketika sampai di atas batu, pengunjung diminta untuk melakukan ritual singkat, meletakkan segenggam dedaunan hutan di atasnya. Dari atas baru, kami bisa melihat dengan jelas hutan alam Papua dan perkampungan Kwatisore yang sangat asri dan teduh, bersama dengan hamparan pulau-pulau kecil serta laut biru yang dipenuhi batu karang warna-warni.

Keberadaan kami diatas Batu Gantung turut disambut oleh dua burung Rangkong berukuran besar yang terbang liar sekitar 10 meter dari kami berdiri. Weiju dan Pari, kedua kawan dari China dan India sangat takjub dan berdecak kagum melihat pemandangan tersebut, sambil mendokumentasikannya. Tak pernah sebelumnya mereka membayangkan masih bisa bertemu dengan Burung Rangkong liar, tapi di Papua hal-hal yang takjub sangat mungkin terjadi.