Pertengahan pekan ini, langit pagi di atas kota kami kembali berubah menjadi gelap dan dipenuhi asap tebal setelah sempat sedikit lebih cerah dua hari akibat kucuran hujan. Bencana kabut asap kali ini membuat saya semakin takut, meski belasan tahun kami hidup bersama partikel-partikel berancun ini.

Hari itu,  1 September 2015, tepatnya hari Selasa, sekitar pukul 06:30 pagi, saya mengantarkan dua adik saya Aisyah dan Karin berangkat ke sekolah. Ketika pamitan dengan mama, beliau meminta saya untuk mampir ke apotek membeli masker karena asap pekat di luar semakin tebal. Mendengar itu saya langsung berlari keluar rumah dan tercengang mendapati suasana gelap seperti mendung namun berasap menyesakkan pernafasan. Kota Duri dikepung asap.

Saya tidak habis pikir, dari mana asal asap itu karena hari sebelumnya sama sekali tidak ada tanda-tanda bencana asap akan terulang kembali. Biasanya jika akan ada asap, sehari sebelumnya akan terlihat tanda-tanda seperti langit yang berwarna kekuning-kuningan, dan matahari tampak lebih  oranye, tapi kali ini tidak. Karena asap yang  terlalu pekat, saya memutuskan untuk pergi membeli masker terlebih dahulu, dan harus meyakinkan kedua adik saya untuk memakainya demi kesehatan mereka. Mungkin karena merasa tidak nyaman, beberapa kali mereka mencoba melepas maskernya.

Asap bukan hal yang asing bagi kami masyarakat Riau, khususnya di Duri kota kecil tempat saya dan keluarga tinggal. Melihat asap yang tebal dan berbau menyengat, saya curiga kebakaran hutan atau lahan gambut terjadi lagi dengan hebat di tempat yang tidak jauh dari tempat kami tinggal karena sengat bau terendus bercampur dengan butiran-butiran seresah hangus hasil pembakaran.  

Lantaran asap yang terlalu pekat mengepung kota  kami, hari itu sekolah adik saya terpaksa diliburkan karena bagaimana pula para siswa ini bisa belajar di tengah kepungan asap yang membuat nafas mereka sesak dan mata mereka perih?

Ternyata bukan hanya adik saya yang harus melewatkan kegiatannya di sekolah, tante saya pun terpaksa harus tinggal di rumah karena masalah asap, “Tak kuat pergi kerja, batuk sejak tadi malam tak berhenti, kerongkongan terasa kering”, ujarnya sembari terbatuk-batuk.

Red Flag sebuah pertanda bahaya telah dinaikkan. Jika Red Flag sudah dikibarkan itu pertanda bahwa indeks polusi di daerah tersebut sudah berada pada level yang sangat membahayakan.

Dan akhirnya, asap yang berbahaya itu menumbangkan mama saya yang memiliki penyakit Asthma Bronchiole. Malam itu beliau pulang dari berbelanja di warung dekat rumah dengan tergesa-gesa dan mencoba mengatakan sesuatu, saya terkejut melihat wajahnya yang memerah dan tarikan nafasnya yang pendek-pendek,. Penyakit yang diderita mama sangat rentan terhadap debu dan asap, jadi bisa dibayangkan penderitaan yang beliau hadapi di tengah kepungan asap selama berhari-hari. Saya sangat kuatir bercampur cemas dan langsung membawa mama ke rumah sakit terdekat saat itu juga.

Kekagetan saya belum usai karena serangan asma mama. Di rumah sakit, saya menyaksikan sendiri keramaian pasien yang luar biasa. Tangis balita memenuhi ruangan bersahutan dengan rintihan menahan sakit, sementara di ruang UGD yang penuh sesak itu, saya harus berjuang mencarikan mama tempat untuk berbaring karena ruangan telah penuh sesak. Dari keterangan petugas medis, saya baru tahu bahwa rumah sakit sudah penuh pasien sejak sore hari dan tidak ada ruangan untuk mama dirawat. Oh Tuhan...

Syukur alhamdulillah, akhirnya setelah menunggu beberapa lama, mama bisa mendapatkan sebuah tempat tidur kosong di ruang UGD, tepat di samping seorang balita yang sejak kami datang tidak satu detikpun berhenti menangis. Azizah namanya, ia menderita sesak nafas hebat. Tangan mungilnya harus diinfus, diberi suntikan antibiotik dan diberi obat yang harus dimasukan melalui bagian belakang tubuhnya. Dari ibunya, saya mengetahui kalau Azizah menderita infeksi radang tenggorokanyang akut. Sedih saya makin perih, melihat anak sekecil itu menderita, tidak tega hati saya.

Setelah malam beranjak turun, mama saya akhirnya sudah mulai bisa beristirahat, demikian pula dengan Azizah, dia mulai tertidur. Sambil memandangi mama saya dan Azizah yang tidur berdampingan, saya merenung kembali tentang asap yang masih mengepung kami di luar sana. Beriringan dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi kepala saya. Kenapa bencana asap yang sama, yang sudah 18 tahun datang setiap tahunnya, belum juga dapat diatasi? Siapa yang harus bertanggungjawab? bagaimana hukum negara ini ditegakkan? apa sih yang sudah dilakukan pemerintah untuk menolong kami? Bukan hanya dengan bagi-bagi masker dan memadamkan api, tetapi juga menyelesaikan masalah dari akarnya.

Apakah pemerintah merasakan penderitaan kami dan serius memikirkan kami? Pak Jokowi, apakah kami bukan bagian dari rakyat Indonesia?  Pak Jokowi, kenapa hutan dan ekosistem gambut kami terus menerus dibiarkan terbakar dan rusak? Siapa yang bertanggung jawab? Dan derita kebakaran itu berakhir dalam tubuh-tubuh kami, seperti Aisyah dan mama saya.

Kami berhak dibantu. Kami berhak tahu.