Kebakaran di Riau bukan hanya membakar hutan dan gambut yang memiliki nilai penting bagi bumi, namun juga membakar identitas dan harapan masyarakat Melayu lokal.

Saat itu siang yang cukup terik. Sehingga saya bisa melihat dengan jelas sisa-sisa kebakaran masih menghitam di atas tanah gambut sepanjang jalan menuju dusun Bukit Lengkung kabupaten Bengkalis. Dari dalam mobil, pemandu setempat yang ikut menemani saya mengarahkan telunjuknya ke sebuah tanah sambil berujar, “Itu dulu madrasah. Ikut terbakar habis.”

Pikiran saya terbawa membayangkan bangunan madrasah itu sebelum terbakar. Suara tawa dan mengaji anak-anak pasti terdengar setiap hari dari madrasah ini. Namun yang terlihat sekarang tinggal puing-puing saja, tidak ada tanda-tanda kehadiran sebuah madrasah di tanah itu.

Dusun Bukit Lengkung adalah wilayah di Riau yang mengalami kebakaran besar bulan Februari lalu. Diperlukan waktu dua bulan untuk memadamkan api secara tuntas, itu pun api benar-benar padam setelah hujan.

Kebakaran di Bukit Lengkung meninggalkan kehilangan bagi warga, bukan hanya ladang dan rumah mereka yang terlalap api, namun juga hal yang tidak dapat diukur dengan materi. Salah satunya madrasah. Madrasah memiliki posisi penting bagi ruang kehidupan masyarakat Bukit Lengkung yang beragama Islam. Di sanalah mereka menanamkan harapan bagi anak-anak mereka.

Saya menemui seorang guru madrasah bernama Ika (19), wanita muda berpenampilan sederhana dan santun, wajah manisnya dihiasi kerudung. Tersenyum lembut, dia mempersilakan saya duduk dengan logat Melayu. Membuat saya tersadar sedang berada di Riau.

Ika menghabiskan hari-harinya untuk mengajar, pagi mengajar di SDN 24 Jarak Jauh Tajung Leban, siang hingga sore di madrasah. Ketika saya bertanya tentang madrasah yang terbakar, raut wajahnya berubah sedih. Matanya menatap udara kosong. “Sedih la, tak ada ruang buat belajar lagi. Sayang. Kemarin tu sudah ada rapornya pun. Tak tahulah anak-anak ni masih simpen tak. Tu la sayang (madrasah terbakar)”, ungkap Ika.

Bagi Ika, keberadaan madrasah penting untuk masa depan anak-anak Bukit Lengkung. Di madrasah anak-anak belajar pendidikan dasar agama Islam seperti mengaji, cara berwudhu, sholat, serta perilaku-perilaku sehari-hari. Dengan pendidikan agama, anak-anak diharapkan jauh dari pergaulan yang salah dan mengerti yang baik dan yang buruk. Sehingga ada pendidikan akhlak bagi generasi mendatang.

 

Agama merupakan unsur penting dalam budaya Melayu. Menurut Ibu Zuli Laili, M.A, tim ahli sosio-antropologi Pusat Studi Bencana Universitas Riau, agama Islam menjadi bagian kuat dari budaya Melayu. “Agama (Islam) menjadi penting, karena secara kultural, Melayu sendiri itu Islam. Jadi, identitas ke-Islaman itu penting bagi masyarakat Riau.”

Ibu Zuli menambahkan, Islam telah menjadi identitas yang melekat bagi orang Melayu. Keberadaan madrasah di desa-desa di Riau lebih penting dari keberadaan sekolah umum. Kehilangan identitas dapat mendatangkan efek tidak dianggap sebagai orang Melayu.

Terbakarnya hutan dan gambut di Riau ikut memberikan dampak sosial-budaya bagi masyarakat Bukit Lengkung dengan ikut terbakarnya madrasah mereka. Karena pada madrasah tersebut melekat identitas dan harapan masyarakat atas kehidupan mereka: kehidupan tanpa asap selamanya.

saya 100 persen indonesia

Identitas dan harapan masyarakat Riau dapat kita bangun kembali dengan mencegah kebakaran terjadi  di Riau. Kamu dapat membantu Ika  dengan memberikan suara di www.100persenindonesia.org  untuk mendesak Presiden SBY membuat regulasi yang kuat atas perlindungan hutan dan gambut  Indonesia. Regulasi ini akan menjadi warisan berharga sebelum Pak Presiden mengakhiri masa jabatannya dan itulah mengapa suara kamu berperan penting untuk mencegah kebakaran hutan dan gambut terus terjadi.