"Ini pertama kali saya ke DPRD Riau" ujar Amiruddin yang menapaki tangga DPRD Riau bersama puluhan warga dari 32 desa yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Gambut Riau (JMGR)

Amiruddin, mantan kepala Desa Kuala Panduk, Kecamatan Teluk Meranti, Pelalawan, Riau ini, terlihat begitu bersemangat, meski gurat wajah tuanya tidak bisa ditutupi. Siang itu ia menyampaikan aspirasi masyarakat desa yang hidup di sekitar kawasan hutan rawa gambut di Riau.

"Sejak 2004, sebanyak 4.100 hektar ladang dan hutan kami diambil perusahaan RAPP. Sekarang sudah jadi HTI. Kita sudah mengadu ke pemerintah setempat, tidak ditanggapi. Oleh karena itu kami sekarang berkumpul," ujar bapak dari 5 anak ini.

Amiruddin sendiri sudah berjuang bersama masyarakat Kuala Panduk sejak lahan dan hutan mereka direnggut secara paksa oleh PT. RAPP (Riau Andalan Pulp and Paper). Meski sudah mengadu ke sejumlah pihak mulai dari pihak kecamatan maupun kabupaten, tak ada satu pun yang ditanggapi. Namun sejak aksi yang dilakukan Greenpeace di Semenanjung Kampar, yang berjarak hanya setengah jam dari desa mereka, akhirnya tuntutan warganya ditanggapi dengan adanya pertemuan di kantor Bupati Pelalawan senin pekan lalu.

"Dalam pertemuan itu hadir Direktur PT RAPP, Thomas Handoko. Namun dia tidak mengakui bahwa lahan itu lahan masyarakat. Sama juga tidak ada hasilnya," kata Amiruddin.

GP01L35
Pabrik Pulp dan kertas RAPP yang melumat habis kayu dari hutan alam Riau

Karena itu, ia berharap dengan JMGR bisa menyampaikan aspirasi masyarakat yakni menyadarkan RAPP bahwa mereka tidak berhak mendapat sertifikasi pengelolaan karena masyarakat masih belum menerima keberadaan perusahaan. Zamzami Media campaigner - Riau Greenpeace Asia Tenggara - Indonesia