Sejumlah perusahaan sawit terbesar dunia berjanji menghentikan kegiatan mereka yang merusak hutan. Apakah ini hanya sekadar luapan basa-basi ataukah ini benar-benar merupakan akhir dari kegiatan mereka yang selama ini terlibat dalam perusakan hutan-hutan di Indonesia? Saya dan teman-teman menolak untuk berdiam diri, ketika perusahaan-perusahaan sawit merusak hutan Indonesia menjadi lahan perkebunan sawit. Kami memulainya dengan kampanye yang menantang perusahaan produsen sawit terbesar Indonesia, Golden Agri Resources (GAR). Ketika GAR setuju untuk menghentikan pembukaan hutan, kami bersedia untuk berkolaborasi bersama untuk sebuah solusi industri dengan GAR dan  The Forest Trust (TFT) dengan tujuan mengidentifikasi seluruh kawasan berhutan di dalam konsesinya.

Solusi yang kami kembangkan tersebut menjadi apa yang dikenal sekarang sebagai pendekatan Stok Karbon Tinggi/High Carbon Stock (HCS). Pendekatan HCS tersebut akan segera menjadi sebuah standar bagi perusahaan-perusahaan yang tidak ingin diberikan cap sebagai perusak hutan. Merek-merek terkenal seperti P&G, L’Oreal, Unilever dan Nestle juga telah mengadopsi pendekatan HCS ini. Demikian produsen dan pedagang minyak kelapa sawit seperti Wilmar International, GAR dan Cargill juga telah menggunakan standar tersebut.

Tetapi beberapa perusahaan seperti Sime Darby, KLK, IOI, Musim Mas dan Asian Agri masih berpendapat bahwa pendekatan HCS tersebut bukan hal yang utama sebagai pertimbangan dalam operasi mereka. Mereka menyebut dirinya sebagai kelompok Sustainable Palm Oil Manifesto dan mengumumkan keinginan mereka untuk mengkaji ulang secara keilmuan tentang  pendekatan HCS.

Kita tentunya bertanya-tanya, khususnya kepada perusahaan-perusahaan yang menolak untuk menghentikan sementara konversi hutan ketika kajian keilmuan tentang pendekatan HCS ini sedang dilakukan. Kalau itu adalah keinginan murni dari mereka dan bukan sekadar mengulur waktu yang pada akhirnya hanya akan menimbulkan kerusakan lebih jauh lagi – mengapa mereka tidak segera menarik seluruh buldosernya?

Bersama dengan lembaga swadaya masyarakat lainnya, kami terus menerus mendesak mereka dan akhirnya berhasil! Akhir pekan lalu, kelima perusahaan tersebut setuju untuk  menghentikan penghancuran hutan, sementara kajian keilmuan HCS sedang berlangsung. Ini tentunya kabar baik bagi hutan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di belahan dunia lain, karena perusahaan-perusahaan tersebut juga beroperasi secara global. Ini berarti jeda setahun  penundaan terhadap penghancuran hutan. Tetapi masih banyak pertanyaan yang harus dijawab. Apakah mereka akan memegang teguh janjinya? Apakah ini juga berlaku bagi pemasok pihak ketiga mereka?Apa yang akan terjadi setelah kajian HCS  itu selesai?

Berita baik selanjutnya untuk hutan kita, hanya selang beberapa hari setelah pengumuman moratorium dari kelompok perusahaan SPOM, salah satu perusahaan dari kelompok ini yaitu perusahaan perkebunan milik RGE group Asian Agri dan perusahaan pedagang sawitnya yaitu Apical telah mengumumkan kebijakan Nol deforestasinya kepada publik. Tentunya, kita menyambut baik kebijakan tersebut. Tetapi masih ada beberapa poin yang terlewat, seperti ketidakjelasan bagaimana kebijakan ini juga diterapkan bagi pemasok tandan buah segar dari pihak ketiga, kepemilikan modal minoritas dan permasalahan akuisisi.

Selain itu, ada hal yang penting yang belum bisa diselesaikan oleh RGE di tingkat grupnya dalam mengatasi dampak operasinya secara keseluruhan terhadap hutan Indonesia, tidak hanya sektor kelapa sawit, tetapi juga seharusnya berlaku untuk perusahaan pulp and papernya, termasuk APRIL dan Toba Pulp Lestari yang saat ini masih aktif melakukan pembukaan hutan, serta bagaimana konsesi mereka yang beroperasi di Pulau Padang,  yang terus membuka hutan dan lahan gambut yang dalam. Tidak ada jalan lain, RGE group harus segera menghentikan deforestasi serta mendukung inisiatif konservasi pada skala yang sesuai atas dampak perusakan hutan yang dilakukan sebelumnya.

Masih terkait dengan penyelamatan hutan dan iklim, baru-baru ini, dalam acara konferensi tingkat tinggi PBB tentang iklim di kota New York, empat perusahaan sawit besar yaitu GAR, Wilmar, Cargill dan Asianagri yang kesemuanya sudah memiliki kebijakan nol deforestasi menandatangani suatu ikrar bersama untuk bekerjasama dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia dan stakeholder lainnya dalam mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan dan peraturan  yang mendukung penuh pelaksanaan kebijakan oleh masing-masing perusahaan tersebut untuk melindungi hutan dan lahan gambut yang tersisa di Indonesia. Ini adalah sebuah langkah maju yang patut diapresiasi. Inisiatif dan keterlibatan KADIN ini membuktikan adanya pasar potensial yang menginginkan produk kelapa sawit bebas deforestasi.

Laju deforestasi di Indonesia dari tahun ke tahun kian memprihatinkan. Tetapi bagaimanapun juga, saya masih optimis bahwa kita bisa membalikkannya menjadi lebih baik. Ikrar bersama KADIN tersebut tersebut juga secara tidak langsung merupakan panggilan bagi Presiden SBY di akhir masa jabatannya untuk memberikan warisan peraturan yang baik yang mampu melindungi hutan dan lahan gambut, khususnya dalam target penurunan gas rumah kaca di Indonesia.

Terlebih lagi, Indonesia akan segera memiliki presiden baru dan kita semua sedang menunggu tindakan nyatanya. Presiden terpilih Jokowi pada 6 bulan pertama masa kerjanya, kita harapkan segera mempublikasikan satu peta, memperpanjang moratorium, memperkuat pelaksanaannya dengan menunda ijin baru pada hutan primer dan lahan gambut serta meninjau kembali ijin lama yang bermasalah. Wilayah yang dilindungi diharapkan, tidak hanya terbatas pada hutan primer dan lahan gambut tetapi juga pada hutan sekunder yang memiliki stok karbon tinggi (HCS) dan bernilai konservasi tinggi (HCV) yang ada di dalam wilayah konsesi perusahaan. Kita juga mngharapkan bahwa ada suatu terobosan pelaksaan peraturan/peraturan  baru yang memungkinkan tukar guling lahan konsesi dengan bantuan pendekatan stok karbon tinggi (HCS), sehingga kelapa sawit hanya akan ditanam pada lahan rendah karbon.

Saya yakin bahwa transformasi industi kelapa sawit sedang berlangsung. Indonesia yang hebat dan dikenal diseluruh dunia untuk contoh yang membanggakan: sebuah negara yang melindungi hutan dan memberi jaminan kehidupan di masa mendatang bagi orang-orang dan satwa liar yang hidup di dalamnya.

Indonesian forests in Papua. Greenpeace is calling for an immediate moratorium on all forest conversion in Indonesia to help curb the country's greenhouse gas emissions, safeguard the wealth of tropical biodiversity and protect the livelihood of forest dependent communities. Greenpeace's "Forests for Climate" ship tour to Indonesia aims to highlight the catastrophic impacts of deforestation for palm oil, logging and other industry expansion, on the global climate, biodiversity loss and forest-dependent people. Papua is the last frontier of intact ancient forest in Indonesia.