Tentu kamu masih ingat bagaimana mengerikannya  dampak dan besarnya total nilai kerugian yang diderita Indonesia saat kebakaran hutan dan gambut hebat tahun lalu. Apa saja yang bisa kita catat?

Nilai kerugian

 

Tindakan pemerintah

  • Presiden Jokowi melarang ekspansi kebun kelapa sawit di atas lahan gambut
  • Presiden perintahkan restorasi lahan gambut yang terbakar dengan membentuk Badan Restorasi Gambut
  • Pemerintah menggugat sejumlah perusahaan sawit dan HTI yang bertanggungjawab atas kebakaran di konsesinya.
  • Menteri LHK memerintahkan perusahaan untuk menghentikan ekspansi perkebunan
  • Presiden Jokowi menghentikan  pemberian izin untuk perkebunan sawit dan tambang

 

Fakta

Komitmen Presiden Jokowi ternyata tidak sepenuhnya dijalankan. Di Kalimantan Tengah misalnya, kasus yang telah terekspos luas ke publik adalah lahan gambut yang terbakar ternyata ditanami kelapa sawit, hingga sekarang perkembangan kasusnya belum jelas.

Di Kalimantan Barat, ratusan hektar hutan gambut dalam yang kaya karbon terbakar. Salah satunya adalah

dilokasi PT. Bumi Sawit Sejahtera (BSS). Pada tanggal 22 September 2015, Kementerian LHK menetapkan sanksi kepada PT. BSS bersama puluhan perusahaan lainnya karena kasus kebakaran tersebut.

 

Group IOI

PT. BSS adalah milik Grup IOI, perusahaan sawit besar dari Malaysia. IOI memasok minyak sawit ke 300 perusahaan di dunia yang memproduksi banyak produk akhir seperti makanan dan minuman. IOI adalah anggota RSPO bahkan merupakan  salah satu pendirinya. IOI juga telah mendapatkan sertifikat keberlanjutan dan telah berjanji kepada konsumennya untuk berkomitmen nol deforestasi.

Pertengahan April lalu, saya bersama tim investigasi Greenpeace berhasil mendokumentasikan kerusakan hutan di PT BSS. Ini memperkuat investigasi Greenpeace pada akhir tahun lalu. Dan apa yang saya lihat sungguh menyesakkan dada. Bahwa ekosistem gambut di sana  telah rusak. Hutan dan  gambut yang kaya karbon dan habitat penting Orangutan tersebut telah berkali-kali terbakar, dihancurkan melalui proses pengeringan yang masif dengan kanalisasi untuk ditanami sawit.  Komitmen nol deforestasi IOI hanya di atas kertas.

Karena praktek buruknya dan terbukti melanggar prinsip dan kriteria keberlanjutan  RSPO,  akhirnya keanggotaan IOI pun ditangguhkan  Semua pihak tidak habis pikir, alih-alih memperbaiki diri, IOI malah menggugat RSPO.

Pasar Bereaksi

Di pasar global, puluhan  perusahaan konsumen besar termasuk Nestle, Unilever, Kellog dan Mars menolak berbisnis dengan IOI. Mereka tidak ingin dikaitkan dengan perusahaan perusak hutan dan gambut, terlebih lagi terlibat kasus kebakaran.

Namun di saat jutaan konsumen meminta perusahaan berhenti membakar dan menghancurkan hutan gambut, dan sejumlah besar perusahaan konsumen berusaha membersihkan rantai pasoknya dari jejak deforestasi dan kebakaran hutan, ada salah satu perusahaan konsumen yang hanya diam, tidak melakukan apa-apa.

Perusahaaan itu bernama General Mills. Perusahaan ini memproduksi produk-produk terkenal seperti es krim Haagen-Dazs, Pilsbury, Jus-Rol, Old El Paso, dan banyak lagi termasuk Betty Crocker, merek adonan kue instan yang terkenal.  Di dalam bahan baku Betty Crocker tercemar oleh minyak sawit dari IOI  yang berasal dari kerusakan, kebakaran ekosistem gambut yang mengancam kehidupan Orangutan dan juga masyarakat  Indonesia.

Ayo beraksi mendesak General Mills untuk tidak mencampur abu kebakaran hutan Indonesia dalam resep produk mereka! Paraf petisi di sini!