Di saat hampir semua warga Rotterdam terlelap, Saya, Adi Prabowo (21) dan Nilus (42) bersama puluhan aktivis Greenpeace bergerak cepat menyelinap masuk ke Pelabuhan Rotterdam, Belanda. Suhu dingin 8 derajat celsius, baru ini pertama kali  saya rasakan. Tapi misi ini tak boleh gagal: memblokade masuknya minyak sawit kotor ke kilang IOI, salah satu perusahaan sawit terbesar asal Malaysia.

Ribuan kilometer jaraknya dari Rotterdam, di kampung halaman kami di Kalimantan Barat, Indonesia, kebakaran hutan terjadi setiap tahun. Kebakaran telah menghancurkan hutan gambut dan mendorong populasi spesies Orangutan menuju kepunahan.

IOI membangun kebun dengan cara mengeringkan gambut yang membuatnya mudah terbakar yang menghancurkan hutan habitat Orangutan.

Kebakaran gambut tahun lalu telah membuat 43 juta orang Indonesia terpapar asap, termasuk saya dan Nilus. Saya membaca studi terbaru dari Universitas Harvard dan Universitas Columbia yang memperkirakan kematian dini terhadap 100.300 jiwa di tiga negara Asia Tenggara, dan 91 ribu di antaranya di Indonesia.

Saya datang kesini mengambil risiko untuk menghadang masuknya CPO kotor ini. Warga dunia harus tahu biaya kemanusiaan oleh CPO yang terkandung di dalam produk yang mereka konsumsi sehari-sehari. CPO IOI ini kotor dan merusak. IOI harus berhenti menghancurkan hutan gambut Indonesia.

Pada tahun 2014 lalu, secara tak sengaja, saya bertemu dengan warga yang tengah merendam buah pinang ke dalam minyak tanah. Buah itu dibakar dan dilempar ke dalam hutan gambut untuk dijadikan perkebunan sawit. Warga tersebut ternyata hanyalah orang lokal yang dibayar untuk membakar lahan oleh perusahaan sawit besar. Kepolisian telah menangkap seratusan lebih para pembakar hutan. Tapi hanya segelintir pemilik lahan atau perusahaan yang diselidiki. Kalau pun diselidiki, kasusnya akan dihentikan. Padahal kebakaran ini jelas direncanakan oleh perusahaan. Mereka yang harus dihukum. Ini sangat mengecewakan saya.



Saya kenal Bang Nilus beberapa tahun yang lalu. Bang Nilus punya dua anak yang tinggal di Ketapang, lokasi di mana IOI punya kebun yang telah merusak gambut. Asap kebakaran telah dihirup oleh keluarga Nilus selama bertahun-tahun.

Kami ditemukan kembali saat bersama-sama bergabung dalam tim pencegah dan pemadaman kebakaran yang dibentuk Greenpeace Indonesia beberapa waktu yang lalu.

Kami terdiri dari 20 relawan pemadam yang berasal dari sejumlah daerah di Indonesia. Kami bukan saja dilatih bagaimana memadamkan api, namun jauh lebih penting lagi juga dilatih bagaimana mencegah kebakaran. Kami melakukannya karena kami ingin mengakhiri era kebakaran dan kabut asap di Indonesia


Pekerjaan memadamkan api diperlukan, tapi memastikan perlindungan hutan dan gambut secara total adalah juga sangat penting serta penegakan hukum untuk perusahaan-perusahaan yang tidak taat ini juga harus dilakukan. Pemerintah tidak seharusnya mengalokasikan dana ratusan miliar rupiah dan tidak seharusnya jutaan orang yang terpapar hanya karena perusahaan perkebunan seperti IOI bebas merusak dan menghancurkan.

Adi Prabowo
Penulis merupakan volunteer Greenpeace Indonesia yang menjadi bagian dari Forestfire Prevention Team. Tinggal di Kalimantan Barat.