Aku tercenung ketika seekor Babi hutan mengatakan bahwa langit telah mengutuk bumi. Di bawah lindapanku kini, dimana ia berlindung dari matahari yang tengah pekat pula sinarnya, ia berkisah tentang hilangnya auman tok belang[1] dari seberang, tentang minggatnya keluarga Orang utan, dan kini tentang aku yang hanya sebatang Terentang.

....Ia bilang aku mungkin juga sudah kena kutukan.

" Langit telah mengutuk Bumi, wahai Pohon Terentang....bumi akan mati. Kita yang diatasnya akan lenyap sebentar lagi...." Ujarnya dengan suara bergetar, seakan lebih takut daripada bertemu tok belang. Bagaimana mungkin aku juga turut dikutuk? Tanyaku dalam hati. Bukankah selama ini aku sudah bertukar nyawa dengan langit dan Bumi? Ketika mereka berikan matahari sebagai kehidupan, aku berikan kehijauan sebagai napas di dalamnya. Aku tak pernah menjadi makhluk serakah atas apa-apa yang diberi. Namun apalagi yang harus kupersembahkan agar bukan aku yang kena kutukan?

" Sebesar itukah murka langit pada Bumi?" Ulangku lagi. Masih tak kupercayai perkataan Babi hutan, meski kabar itu sudah menyebar seantero kawasan. Burung-burung yang hinggap di dahan juga sering bercakap tentang ketiadaan. Aku mengulang lagi pertanyaan, yang sudah kesekian kali aku lontarkan pada Babi hutan yang sekarat ini. Babi hutan yang baru sampai siang tadi dari pelarian, demi menghindari kematian.

"Oi, Terentang. Tidakkah kau perhatikan sendiri dirimu? Bagaimana tajuk dan dedaunanmu? Apakah sedepa kau telah berbuah? Lantas bagaimana biji-bijian yang kau jatuhkan ke tanahmu? hidupkah mereka? Segarkah mereka? Lindapanmu saja masih tak dapat membuatku jauh dari amarah langit. Aku juga sudah kena kutukan...."

Kuperhatikan Babi hutan yang badannya penuh luka itu. Lalu pada sepetak tanah tempatku berdiam. Oh...Semesta....tubuhku memang butuh waktu lama untuk berbuah. Biji-bijiku pun memang tak tumbuh sedari musim lalu. Lantas apakah mungkin kutukan itu benar? Apakah benar aku telah dikutuk? Apakah kutukanku adalah tentang aku yang tak akan tergantikan di musim-musim berikutnya?

Memang sudah lama tanah tempatku bertahta mengering. Langit seakan-akan sengaja alpa untuk menumpahkan hujan. Akarku pun lama tak bersua air. Pulai dan Meranti yang mengering nun jauh di sana contohnya. Bersisian mereka berdiri. Batangnya sudah doyong ke barat. Daun-daunnya menguning dan siap luruh. Tak ada lagi burung yang hendak berciap di ranting-ranting yang rapuh itu. Oh...Kemarin kukira aku masih bermimpi. Tapi mereka memang telah mati.

Kabar kutukan itu sesungguhnya sudah beberapa kali terkabar. Namun aku tak sudi mendengar. Meski penjelajah langit macam burung Serindit pun turut mengumbar. Langit sedang marah kini, begitu ia berujar. Ulah makhluk-makhluk berkaki dua selain kita, alasannya. Saking cerdasnya mereka, mereka tamak dan tak peduli pada titah langit yang telah berkisah mengenai apa-apa tentang langit runtuh bagi dunia.

"Berhati-hatilah pada makhluk-makhluk itu....bila kau melihat mereka berada di dekatmu, gepuk saja dengan dahanmu..." Peringat Babi hutan dengan suara yang kian melemah, sementara aku bertambah ngeri atas ketidakberdayaan. Karena bahkan sebelum aku ada dalam rahim Bumi, aku dan bangsaku ditakdirkan tak leluasa mengayunkan badan. Tidak seperti Serindit dan sayapnya. Tidak pula seperti Babi dan keempat tungkainya.

"Apakah semua makhluk berkaki dua itu bersifat sama, wahai Babi hutan?" Tanyaku menyimpan harap. Babi hutan itu memandangku lekat-lekat, lantas menjawab, "Kau dengarlah kumandang Serindit yang tinggal satu-satunya itu. Lantas ceritaku yang kubawa bersama semua sakitku ini. Penyebab semua kutukan adalah mereka yang membawa benda berasap-asap dan meletakkannya di sebuah tempat. Maka, tentu mereka itulah yang pantas diazab."

"Benda berasap?"

"Ya. Benda itu memiliki pucuk yang melingkar-lingkar, berasap-asap[2]. Begitulah yang kulihat. Lantas, kau hitung mundur saja hingga malam pekat. Benda itu akan memuntahkan anak-anak api yang berlarian ke sana kemari. Pantas saja langit marah. Pantas saja ia murka. Makhluk-makhluk itu perusak yang serakah...." Babi itu berdengak-dengik mendengus lelah. Sedari awal ia menyampaikan berita, ia memang terkulai tanpa daya. Makin lemah suaranya, makin tak tega aku melihatnya.

Aku tak kuasa menahan duka. Sungguh tidak adil, kataku. Mengapa babi malang, tok belang, Orang utan atau aku si batang Terentang yang kena kutukan? Namun aku memang hanyalah batang Terentang, yang akhirnya hanya bisa diam dan menerima suratan.

"Oi, Babi hutan.....apakah makhluk-makhluk berkaki dua itu akan lenyap pula?" Tanyaku penasaran.

"Apakah....kau....percaya?" Ia berbalik tanya. Suaranya kian tak jelas. Suaranya patah-patah kini.

"Entahlah. Tapi...bukankah kau akan menuai apa yang kau tanam?"

"Benar....Terentang...."

"Maka bila suara tangisku kalah ketika anak-anak api itu berhasil menjamah akar, ranting, dan pucukku yang mulai mengering ini, aku pasrah....namun suatu ketika, makhluk-makhluk berkaki dua itu akan paham pada kita. Bukankah mereka cukup cerdas seperti katamu? Mereka haruslah menghargai kehidupan dengan mengerti, bahwa asap-asap kita nanti adalah kutukan mereka sendiri, tentang jiwa-jiwa kita yang telah membumbung mati."

Suaraku turut bergetar di akhir kalimat, namun kali ini Babi hutan itu tak kuasa menjawab. Napasnya perlahan tak berbunyi. Dadanya berhenti naik turun. pelan-pelan pula sinar dalam matanya meredup. Aku menyadari sepenuhnya yang kulihat kini bukanlah mimpi. Karena Babi hutan itu pun memang benar sudah mati.

Aku termenung dan makin pasrahlah aku. Entah mengapa aku turut menyesal sendiri. Melepas kepergian Babi malang ini bukan satu-satunya luka, karena sesungguhnya bukan hanya tentang ketidaktahuanku mengapa ada kutukan, kenakalan anak-anak api, atau kutukan-kutukan lain yang menimpa setiap penghuni kawasan ini. Aku masih punya pertanyaan kembali. Namun belumlah sempat aku bertanya lagi.

Oi, Babi hutan....apakah makhluk-makhluk yang kita bicarakan sedari tadi memang berkaki dua yang tegap jalannya? Makhluk-makhluk yang semesta sebut manusia? Makhluk-makhluk sempurna yang pagi tadi kulihat berjalan mengendap-endap ke arahku, membawa benda yang sama, memiliki pucuk yang melingkar-lingkar, berasap-asap, yang telah mereka letakkan tepat disisiku kini?

.....Apakah aku memang kena kutukan?

Bahkan seekor Babi hutan dapat mengajarkanku bagaimana lebih tabah dibandingkan manusia-manusia itu. Aku tersadar dan terdiam. Kini, yang dapat kulakukan hanyalah mulai menghitung mundur saja.

*****

"Tulisan ini saya dedikasikan atas kasus-kasus kebakaran hutan Indonesia yang marak terjadi akhir-akhir ini. Dampak yang ditimbulkan seperti ketidakstabilan iklim, degradasi spesies, dan penurunan kualitas indeks udara harus segera ditanggapi secara serius. Kebakaran hutan dan lahan adalah agenda WAJIB yang menjadi tanggung jawab bersama. Kedepankan kesadaran kita sebagai manusia, dengan memperkuat tata kelola hutan, dan berikan efek jera seberat-beratnya pelaku kebakaran hutan.

Mari suarakan nasib pepohonan hutan dan fauna setempat, mari selamatkan bumi riau dari bekapan asap.

Sampaikan aspirasimu disini http://www.100persenindonesia.org/"
________________________________________________________
[1] Harimau sumatera
[2] Salah satu modus yang digunakan oleh pelaku pembakaran hutan atau lahan. Menggunakan botol plastik berisi bensin bersumbu kain yang dimodifikasi sedemikian rupa agar menyerupai semacam bom molotov. Pemicunya adalah obat nyamuk bakar yang dihubungkan dengan mulut botol tadi. Saat dibakar obat nyamuk bakar akan tetap menyala dan proses pembakaran sumbu (kain) hingga menyebabkan percikan api akan terjadi otomatis 6-8 jam kemudian.