Kami bertemu Rahmi dalam perjalanan bearing witness (melihat langsung) kebakaran hutan di Riau. Perjalanan waktu itu kami lakukan bersama para pemenang Forest Fire Digital Competition yang diadakan Greenpeace dua bulan lalu. Sepanjang perjalanan Rahmi bercerita tentang pengalamannya tentang asap.  Rahmi sudah berkenalan dengan asap sejak masih di Taman Kanak-Kanak. Hampir setiap tahun selalu ada kisah bersama asap, yang paling parah adalah ketika Rahmi kecil harus tidur dalam kepungan asap, karena kebakaran parah membuat asap tak lagi cuma mengepung kota tempat tinggalnya, tapi pelan-pelan merambah masuk dalam rumah. Tidur mengenakan masker tak lagi bisa dihindari.

Sumatra merupakan daerah di Indonesia dengan lahan gambut terbesar, luasnya  mencapai 7,3 hingga 9,7 juta  hektar atau kira-kira seperempat luas lahan gambut di seluruh daerah tropika. Sayangnya, degradasi lahan gambut di Sumatra, khususnya di Riau berlangsung dengan sangat cepat.  Menurut data terkini lahan gambut yang tersisa di Riau hanya tinggal 1,2 juta hektar dari 4,3 juta hektar di tahun 2002.

Kebakaran yang sudah terjadi setiap tahunnya selama 17 tahun pelan-pelan menelan lahan gambut yang merupakan gudang penyimpan karbon. Sebagian besar dari gas karbon dioksida yang dilepaskan ke atmosfer selama kebakaran hutan di Indonesia tahun 1997/1998 (sebesar 2,57 miliar ton), ternyata berasal dari kebakaran tanah gambut di bawah permukaaan tanah dan bukan kebakaran hutan di atas permukaan tanah. Karbon yang dilepas ke udara memicu terjadinya perubahan iklim global.

Tahun 2014 Riau kehilangan 2.398 cagar biosfer akibat kebakaran hutan dan lahan gambut, 21.914 hektar lahan terbakar. Korban ISPA mencapai jumlah 58.000 orang. Tentunya jumlah ini bukan sekedar statistik, bayangkan anak-anak balita dan lansia, termasuk Rahmi dan Abdul Manan, seorang warga Teluk Meranti yang akhirnya melemparkan petisi untuk meminta Presiden Joko Widodo datang blusukan ke Riau.

Mari sama-sama mencermati permintaan Abdul Manan dalam petisinya. Bukan tanpa alasan yang kuat ia mengajak Presiden Joko Widodo untuk datang ke Riau melihat langsung lahan gambut, kebakaran dan asap dengan begitu pak presiden bisa mengerti kehidupan warga Riau yang sudah 17 tahun terpaksa menghirup asap. Tapi yang tak kalah pentingnya adalah sebuah harapan pada pemimpin baru yang senang mendengarkan rakyatnya. Harapan, selain masker, mungkin satu-satunya penopang bagi warga Riau dan Sumatra saat menghadapi asap.

Semoga saja Presiden Joko Widodo menjawab panggilan ini. Karena 17 tahun sudah cukup lama, meneruskan kebakaran hutan dan membiarkan warga Riau dan Sumatra terpaksa menghirup asap lagi di tahun-tahun berikutnya, atau membiarkan lebih banyak lagi zat karbon terlepas ke udara tentunya bukan jawaban yang kita harapkan.

Semoga potret suram kebakaran hutan dan lahan gambut di Sumatra bisa segera berganti menjadi cerita tentang harapan yang kemudian berakhir dengan senyuman lebar warga tanpa harus ditutupi masker.