“Pertama mereka akan mengacuhkanmu, mereka menertawakanmu, melawanmu, kemudian kamu menang.”
~ Mahatma Gandhi

Ini adalah cerita tentang sebuah  perjuangan yang secara persisten  dilakukan untuk perubahan akhirnya dapat membalikkan haluan yang tidak terbayangkan sebelumnya.

November 2009, seharusnya saya berada di sebuah mall di Jakarta untuk bekerja demi memenuhi biaya hidup sehari-hari. Tapi waktu itu, saya lebih memilih berhenti sementara waktu alias cuti. Ada hal yang sangat mendesak yang ketika itu perlu saya lakukan, yakni bergabung dalam sebuah aksi langsung menyelamatkan hutan gambut Indonesia.

Banyak dari kita, khususnya orang Indonesia di perkotaan yang mengira bahwa penghancuran hutan di tempat nan jauh dari tempat kita tinggal sama sekali tak mempengaruhi kehidupan kita. Banyak orang yang tidak peduli atas penghancuran hutan apabila hal itu tidak mengusik kesenangan dan tempat tinggalnya.

Hal yang membuat hati saya sedih sejak tahun 2008 adalah mengetahui bahwa Indonesia merupakan salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim terbesar ketiga setelah Cina dan Amerika Serikat. Dampak dari pemanasan global begitu nyata, perubahan iklim yang ekstrim membuat sebagian dari bumi ini tidak layak untuk ditinggali dan itu mengubah siklus pertanian yang akhirnya ketersediaan pangan semakin terancam.

Saya harus melakukan sesuatu! Idealisme itu sejalan dengan apa yang sedang dilakukan Greenpeace. Tahun 2009, Greenpeace membangun Kamp Pembela Iklim di Riau, tepat di lahan gambut seluas 700 ribu hektar yang tengah dihancurkan oleh sebuah perusahaan pulp dan kertas raksasa. Saya tertarik bergabung dengan banyak aktivis baik dari dalam maupun luar negeri. Semuanya punya tujuan yang sama: Menghentikan deforestasi dan pengrusakan lahan gambut, dan melawan perubahan iklim.

Di Riau, deforestasi terjadi dengan kecepatan tinggi dan masif. Hutan-hutan gambut yang basah dan kaya karbon dikeringkan dengan membuat kanal-kanal yang nantinya akan mengalirkan air gambut tersebut ke sungai atau laut. Hal itu mengakibatkan lahan gambut menjadi  kering melepaskan emisi CO2 yang selama ini tersimpan selama jutaan tahun di dalam gambut ke udara sebagai penyebab pemanasan global. Selain itu, lahan kering juga akan memicu kebakaran. Di Riau, kebakaran hutan dan lahan telah berlangsung selama 18 tahun lamanya.

Waktu itu saya terlibat langsung dalam pembuatan dam (sekat) kanal yang nantinya akan menahan laju air, sehingga air berhenti mengalir keluar dari kawasan gambut dan menjaga kawasan tersebut  tetap basah. Tugas saya waktu itu adalah mengangkut gelondongan kayu besar dari pinggir pantai hingga ke titik kanal yang akan disekat. Jaraknya bisa mencapai 100 meter kalau air sungai Kampar sedang surut. Kami bahu-membahu menancapkan gelondongan kayu berat itu ke dalam kanal.

Berhari-hari bahkan berminggu-minggu kami melakukan hal yang sama. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Jujur, itu adalah aksi relawan saya yang cukup berat dan menguras tenaga.

Pada saat itu kita menghadapi tantangan yang tidak kecil. Kita menemukan diri kita berhadapan dengan polisi, banyak aktivis ditangkap, dan kamp kami akhirnya dibakar.

Minggu lalu saya mendapat kabar bahwa APP (Asia Pulp and Paper), perusahaan besar kertas dan bubur kertas raksasa yang waktu itu turut merusak hutan lalu berkomitmen nol deforestasi pada tahun 2013, pada hari ini, Kamis 13 Agustus memutuskan sesuatu yang membuat saya terdiam. APP memutuskan untuk mengairi kembali lahan gambut seluas 7000 hektar di lahan konsesi mereka yang sebelumnya telah dikeringkan.

APP mengambil langkah ini berdasarkan saran dari grup ahli gambut independen yang melakukan pemetaan gambut dengan menggunakan teknologi baru LiDAR. Analisa ini mencakup lahan gambut seluas 5 juta hektar setara hampir 25% gambut Indonesia, sebuah kawasan yang lebih besar daripada Belanda. Inisiatif pemetaan dengan teknologi LiDAR ini membuat foto kubah gambut besar akurat yang membutuhkan perlindungan. Ini jelas merupakan data yang paling komprehensif dan kredibel di lahan gambut yang pernah diperoleh di Indonesia. Yang tidak kalah penting lainnya adalah APP setuju untuk mengambil langkah untuk merestorasi total 7000 ha kawasan gambut di dalam wilayah perkebunan mereka.

Tentu saja ini masih jauh dari perjalanan untuk melindungi hutan gambut Indonesia - tetapi sangat jelas bahwa gelombang itu sudah mulai berbalik, dan saya bangga menjadi pionir dari upaya ini enam tahun lalu. Ini baru permulaan bagi APP untuk mengelola gambut dalam operasi mereka di Sumatra. APP tidak bisa melakukan ini sendiri, dan peran pemerintah dan pelaku usaha lainnya sangat penting. Saya dan anda juga harus tetap menjadi bagian dari usaha ini. Para ahli merekomendasikan agar APP bisa mengurangi dampak lainnya dari pengeringan gambut, dan masyarakat akan menyaksikan jika rekomendasi-rekomendasi ini diikuti atau tidak oleh mereka. Kita juga masih menanti APRIL, salah perusahaan kertas besar lainnya di Indonesia yang juga telah membuat komitmen yang relatif sama di awal tahun ini untuk melindungi hutan gambut untuk memberikan sinyal bahwa komitmen mereka akan  ditindaklanjuti dengan kredibel.

Ada trend yang berkembang di sektor industri di mana banyak perusahaan tidak ingin terlibat dalam deforestasi. Namun tetap saja deforestasi terus terjadi. Kebakaran hutan akibat pengeringan gambut kembali berulang setiap tahun. Bantu Greenpeace untuk memastikan hutan hujan Indonesia dilindungi karena apa yang kita yakini harus diperbuat adalah benar.

Awang Kuswara

Ayah dari satu anak ini sekarang bekerja sebagai guru komputer dan olahraga di sekolah dasar swasta di Bekasi dan tengah menempuh pendidikan di Univeritas Terbuka.