“Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu, jahat.” Itu yang dikatakan oleh Cinta setelah 14 tahun tidak bertemu Rangga, janji satu purnama itu ternyata molor sangat lama. Tapi tidak selama kisah AADC yang ini.

Ada Apa Dengan Cikijing.

Iya, jika Cinta harus menunggu 14 tahun untuk sekali lagi bertemu dengan Rangga, Cikijing telah menunggu lebih dari 23 tahun tanpa kepastian.

Cikijing adalah nama sebuah Anak Sungai Citarum yang hulunya berada di Kabupaten Sumedang akan tetapi sebagian besar alirannya berada di Rancaekek, Bandung.

Sungai Cikijing telah sekian lama terluka. Jauh lebih lama dari Cinta.

Aliran Cikijing yang sebagian besar dimanfaatkan untuk irigasi pertanian dan perikanan tercemar berat limbah beracun berbahaya industri yang berada di wilayah hulu Sungai Cikijing. Sebagian besar didominasi industri tekstil.

Yang tidak berani merawat layak digugat

Pencemaran dari industri tekstil ini sangat terasa dampaknya. Pencemaran ini seolah dilegalkan, karena Pemerintah Kabupaten Sumedang tetap saja mengeluarkan Izin Pembuangan Limbah Cair (IPLC) meski kondisi sungai sudah tercemar berat.

Izin ini yang kemudian digugat.

Koalisi Melawan Limbah melayangkan gugatan kepada Bupati Sumedang atas terbitan Surat Keputusan Bupati Sumedang Izin Pembuangan Limbah Cair (IPLC) ke Sungai Cikijing Kepada PT. Kahatex, PT. Five Star Texile Indonesia dan  PT. Insan Sandang Internusa.

IPLC ini digugat karena Bupati dalam menerbitkannya, bertentangan dengan peraturan perundang undangan yaitu. UU 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, PP No 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air dan Permen LH No 01 Tahun 2010 tentang Tata Laksana Pengendalian Pencemaran Air. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Sumedang juga telah melanggar atau tidak memperhatikan azas umum pemerintahan yang baik dan IPLC tersebut tidak sah dan harus dibatalkan.

Yang merana dan terluka

Mereka yang tak punya kuasa selalu menjadi yang menderita, dan yang itu yang harus dihadapi abah Uban, warga asli Rancaekek yang telah puluhan tahun menjadi petani. Abah—begitu saya memanggilnya, menggarap beberapa petak sawah milik sendiri dan keluarga yang berada di sekeliling rumahnya. Kini Abah hidup dikepung limbah.

Dahulu dengan irigasi yang lancar, Rancaekek pernah menjadi lumbung padi untuk wilayah Jawa Barat bahkan melimpahnya air bersih membuat Rancaekek pernah tersohor sebagai pusat pemeliharaan ikan nila dan mujair. Hasil yang melimpah tersebut membuat warga setempat, tidak terkecuali abah Uban, menggantungkan hidup pada sektor agraris.

Hasil panen Abah kini telah sangat berbeda, turun drastis karena sawahnya telah tercemar limbah beracun. Hal tersebut berawal ketika pada tahun 1980an beberapa pabrik tekstil seperti PT. Kahatex—yang terbesar, mulai berdiri di daerah Rancaekek. Beberapa dampak mulai dirasakan, mulai berkurangnya lahan sawah, kolam ikan, hingga mengalirnya limbah tekstil beracun ke sungai-sungai sumber air warga pada awal tahun 1990an.

Tidak ada lagi ikan-ikan yang berenang bebas di sungai, bahkan biota air tawar yang lazim hidup di area persawahan dan sungai juga lenyap, yang ada air berwarna hitam pekat yang pada waktu tertentu, baunya sangat menyengat.

Menanti akhir bahagia?

Seperti halnya penantian panjang Cinta sekian purnama, demikian juga penantian panjang  Sungai Cikijing yang telah puluhan tahun terluka akibat ulah manusia.

Penantian panjang itu setidaknya kini sedikit terjawab, gugatan Koalisi Melawan Limbah memasuki masa akhir persidangan, sedang pada tahap kesimpulan, dijadwalkan akhir Mei 2016 akan ada pembacaan putusan. Kita tunggu saja, apakah kisah ini akan kembali berujung luka atau Majelis Hakim membuat akhir bahagia? Tentu yang kita harapakan putusan yang seadil-adilnya.

Itulah kisah lain AADC, tanpa Rangga tanpa Cinta, pun tanpa rangkaian kata-kata indah Aan Mansyur tetapi jika Sungai Cikijing mampu bicara tentu ia tak akan ragu berkata “Manusia, yang kamu lakukan ke saya itu, jahat.”