Masalah: Ketidak-adilan Energi

Di sebuah kesempatan bertemu dengan beberapa anak muda, saya pernah bertanya apa yang mereka lakukan pada malam hari kalau di rumah mereka belum pernah tersedialistrik. Sungguh menarik melihat mereka memerlukan beberapa saat untuk memikirkan apa yang dapat mereka lakukan pada malam hari tanpa listrik.

Mungkin bagi kebanyakan kita, masalah penerangan adalah semudah menekansebuah tombol listrik di rumah, dan mungkin sulitbagi kita membayangkan kehidupan yang gelap gulita selepas matahari terbenam. Namun tidak demikian bagi lebih dari 40 juta orang Indonesia yang belum menikmati energi listrik di rumah mereka. Untuk menerangi rumahnya, sebagian dari mereka mengandalkan kayu bakar dengan asap yang membuat sesak paru-paru  atau sebagian lagi harus membeli minyak tanah atau solar yang harganya sangat mahal mencapai 15.000 hingga 30.000 per liter.

Inilah contoh ketidak-adilan energi, dimana masih terdapat puluhan juta orang Indonesia yang belum memiliki akses  listrik, dan dimana jutaan masyarakat yang lebih miskin membayar biaya energi lebih mahal daripada masyarakat yang lebih mampu.Karena itu saya sangat senang membaca blog Lentera untuk Sui Utik yang ditulis oleh Aghnia Fasza Tides, volunteer Greenpeace yang barus saja menyelesaikan kegiatan pelatihan dan instalasi energi tenaga surya di sebuah desa di pedalaman Kalimantan Barat sana.

Setelah bertahun-tahun hidup dalam kegelapan, masyarakat Sui Utik kini dapat menikmati penerangan di malam hari. Melalui sebuah kegiatan kecil yang diprakarsai oleh Greenpeace dan AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nuasantara) ini,masyarakat Sui Utik dapat menikmati energi bersih tanpa emisi karbon karena diperoleh langsung dari sinar surya. Sinar surya yang melimpah di siang hari ditangkap oleh panel-panel surya dan energinya diubah menjadi energi listrik yang disimpan dalam batere yang digunakan di malam hari.

 

Masalah listrik bukan saja masalah mereka yang tinggal di desa-desa. Kita yang tinggal di perkotaan juga sering mengalami masalah pemadaman listrik. Bahkan di beberapa tempat di Sumatera atau di Kalimantan hal ini telah menjadi rutin. Lihat saja kota Samarinda di Kalimantan Timur, dimana lebih dari 70% wilayahnya dikuasai konsesi tambang batu bara, namun kota ini tetap saja mengalami masalah listrik.

Energi yang mencukupi adalah merupakan kebutuhan penting bagi seluruh lapisan masyarakat.Dengan listrik  seorang perawat dapat merawat orang sakit di klinik atau Puskesmas, anak-anak dapat belajar dan menyelesaikan PR mereka,  kegiatan seperti membaca, memasak, makan atau berkumpul dengan orang lain dapat kita lakukan pada malam hari dengan bantuan listrik.

Solusi: (R)evolusi Energi

Namun sayangnya sebagian besar energi kita berbasispada energi fosil (minyak, batubara dan gas) yang merupakan salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca penyebab utama perubahan iklim. Seperti makan buah simalakama, di satu sisi kebutuhan energi kita berkembang pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara di sisi lain masalah perubahan iklim telah menjadi ancaman nyata bagi kehidupan dan planet kita.

Kita sudah melihat bagaimana kondisi perubahan iklim yang semakin buruk, dimana iklim menjadi ekstrim dan mematikan. Dampak perubahan iklim ini termasuk kekeringan, meningkatnya badai di daerah laut dan pesisir, banjir dan dampak-dampak negatif lain yang mengakibatkan jutaan orang terkena dampaknya dan menelan ratusan ribu korban jiwa setiap tahunnya. Kita tidak punya banyak pilihan dan waktu selain harus meninggalkan penggunaan energi fosil yang kotor penyebab utama perubahan iklim dan segera beralih ke energi terbarukan (panas bumi, matahari, angin, mikro-hidro) dengantarget-target yang ambisius. Kita berkejaran dengan waktu untuk menghentikan dampak buruk perubahan iklim ini.

Membangun sistem energi yang terpusat di negara kepulauan seluas Indonesia adalah cara yang tidak efisien yang tidak dapat menjangkau wilayah yang demkian luas ini dan membuat harga listrik menjadi mahal. Kita perlu mendorong sistem energi yang demokratis, terdesentralisasi dan berkelanjutan, yang menggambarkan kebutuhan sosial dan karateristik dan potensi daerah setempat. Kita perlu memajukan bentuk produksi dan pengelolaan yang terdiri dari koperasi koperasi lokal.

Penggunaan energi di sektor transport juga tinggi, oleh karena itu kita perlu mendorong model transportasi yang efisien energi dengan mengintegrasikan bentuk-bentuk transportasi (sungai, darat) dan mengutamakan transportasi kolektif yang berkualitas tinggi sebagai alternatif dari  sistem yang tergantung pada BBM yang mengutamakan kebutuhan transportasi individual.

Kita perlu mendesak pemerintah untuk menjamin kebijakan yang mendukung kedaulatan energi di negara ini. Untuk mencapainya kita memerlukan lembaga publik serta kebijakan yang menjamin peran efektif warga.  Pemerintah baru perlu memilih model pembangunan yang tidak mengorbankan kelestarian lingkungan dan mendorong pengembangan energi yang dan rendah karbon.Pemerintah baru harus berani memilih model pembangunan hijau yang berkelanjutan dan berdauluat untuk menyediakan energi sekaligus mengatasi masalah perubahan iklim.

Kita bisa mewujudkan hal ini bersama-sama. Itulah yang sedang kami lakukan melalui kampanye 100% Indonesia Hijau Damai. Kami menggalang suara yang besar untuk mendesak mendorong ini. Kita butuh energi bersih. Kita butuh target ambisus untuk beralih pada energi bersih terbarukan hingga 40% pada tahun 2030. Inilah pesan yang ingin kita sampaikan kepada Capres yang akanbertanding pada Pemilu Presiden pada tanggal 9 Juli nanti. Telah puluhan ribu orang bergabung dalam dalam kampanye ini. Apakah kamu ingin ikut memperkuat gerakan ini? Silahkan menandatangani petisi 100% Indonesia Hijau Damai ini dan bergabunglah untuk membuat perubahan berarti bagi lingkungan Indonesia. Salam hijau damai!