Hutan Alam

Saya sangat beruntung pernah tinggal dan hidup bersama keluarga masyarakat Dayak di pedalaman Kalimantan. Waktu itu saya sedang kuliah di Samarinda, Kalimantan Timur, dan kerap menghabiskan waktu berbulan-bulan tinggal di kampung-kampung masyarakat adat Dayak di daerah Mahakam Tengah. Saya belajar banyak mengenai hutan dari kearifan, pengetahuan dan budaya mereka yang sangat kaya. Pengetahuan yang saya pelajari dari ilmu-ilmu kehutanan di perguruan tinggi, rasanya seperti bumi dan langit dari apa yang saya lihat dan alami dari masyarakat yang hidupnya sangat dekat dengan hutan ini.

Hutan adalah rumah dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka. Mereka mengenal hutan seperti mereka mengenal telapak tangan mereka. Mereka memberi nama pohon-pohon tanyut (pohon madu), seperti mereka memberi nama kepada anak-anak mereka. Pohon-pohon madu itu bahkan dipilih dan dipelihara sejak pohon itu kecil dengan teliti dan disiapkan menjadi pohon-pohon madu yang produktif kelak.

Mereka juga mengembangkan cara-cara canggih dalam menanam dan memelihara ratusan jenis padi lokal sumber pangan mereka. Sistem pertanian padi atau ladang mereka terintegrasi dengan sistem hutan yang kompleks. Karena tanah-tanah di Kalimantan tidak subur, nutrisi bagi tanah yang diperlukan diperoleh dari hasil pembakaran vegetasi hasil pembersihan lahan. Setelah masa panen, lahan ini dikembalikan menjadi hutan dengan tanaman rotan atau buah-buahan tropis. Dalam beberapa tahun kemudian lahan ini terlihat dan berfungsi seperti hutan kembali. Begitulah seterusnya ladang-hutan ini dikelola dengan cermat sehingga haampir tidak ada hutan yang terdegradasi.

Namun sayangnya pengetahuan modern sering tidak memahami kearifan pengetahuan lokal, dan sering menilai bahwa sistem ini tidak produktif dan tidak menguntungkan secara ekonomi pasar. Lebih buruk lagi mereka sering disalahkan atas kerusakan hutan, karena mereka menebang dan membakar hutan. Saya pernah tinggal cukup lama dengan mereka untuk mengetahui bahwa kesalah-pahaman ini sangat menyakitkan hati mereka. Sebab mereka melihat sendiri bahwa pembalakan hutan komersial, pembangunan kebun-kebun kayu dan sawit monokultur yang tidak bertanggung-jawab justru adalah penyebab kehancuran hutan yang sebenarnya.

Ilmu kehutanan yang saya pelajari di bangku kuliah mengajarkan cara pandang bahwa hutan-hutan adalah kayu atau sumber komoditas tertentu. Kami belajar bagaimana memfokuskan peningkatan produktivitas dan pertumbuhan kayu di hutan atau mengubahnya menjadi komoditas lain yang lebih “produktif”. Oleh karenanya struktur hutan perlu disederhanakan. Lebih sederhana lebih baik, karena hutan alam terlalu kompleks, karena itu dengan hanya beberapa jenis (komoditas) saja, “hutan” menjadi lebih mudah diatur.

Dari pemahaman inilah muncul konsep yang mengembangkan kebun-kebun kayu dan sawit monokultur menggantikan hutan alam yang heterogen dan kaya jenis. Padalah tidak ada kehidupan di kebun-kebun monokultur. Masyarakat lokal menyebutnya “hutan mati” atau “gurun hijau”. Kamu pasti sudah sering menyaksikan foto atau film yang menunjukkan bagaimana orang-orang utan tersasar di kawasan seperti ini dan sering hidupnya berakhir menyedihkan karena dibunuh atau ditangkap.

 

Gurun Hijau

Pengelolaan hutan yang eksploitatif seperti pembalakan kayu dan pembukaan hutan menjadi kebun-kebun monokultur mempunyai biaya sosial dan lingkungan yang sangat tinggi. Lihat saja apa yang terjadi di Riau, dimana kebakaran hutan telah menjadi bencana menahun tanpa bisa diatasi. Banjir bandang yang berdaya rusak tinggi dan mematikan juga lebih sering terjadi dari Aceh hingga Papua. Belum lagi konflik tanah yang sering berujung pada kekerasan dan konflik sosial yang meluas.

Di sisi lain, pengetahuan dan kearifan lokal melihat hutan sebagai sumber kehidupan. Sumber pangan, obat-obatan dan juga sumber spiritualitas. Hutan bukan hanya kayu. Di sana ada pohon-pohon  madu, pohon-pohon karet, buah-buahan, rotan, kolam ikan serta tempat-tempat sakral bagi masyarakat setempat. Kenyataannya ada banyak kawasan yang bagi orang luar adalah merupakan ‘hutan alam’, namun sebenarnya adalah hutan yang dikelola oleh masyarakat lokal dimana ribuan menggantungkan hidupnya di sana.

Saat ini kita ada di persimpangan jalan, antara untuk meneruskan sistem pengelolaan hutan yang serakah atas alam, tidak berkelanjutan serta sarat dengan kerusakan atau memilih jalan pengelolaan yang lebih arif dan berkelanjutan. Kita bisa belajar dari pengetahuan dan kearifan masyarakat adat untuk hidup dalam hubungan yang lebih harmonis dengan alam.

Minggu ini kita memperingati tiga tahun pelaksanaan moratorium penebangan hutan alam. Masa pelaksanaan moratorium hutan ini sebenarnya bisa menjadi waktu paling tepat untuk menata-ulang pengelolaan hutan yang saat ini menjadi lebih berkeadilan dan berkelanjutan. Kita perlu mendorong dan memastian bahwa kebijakan moratorium hutan akan diteruskan, dan pemerintah yang akan datang dapat memilih jalan perlindungan hutan, dan tidak mengkompromikan kelestarian hutan kita yang sangat vital bagi kehidupan masayrakat adat seperti keluarga dimana pernah saya pernah tinggal serta puluhan juta orang masyarakat adat dan lokal lainnya di seluruh Nusantara.

Mari pastikan pemerintah baru nanti bisa melindungi hutan-hutan alam sumber kehidupan kita. Mari bersuara, Tanda-tanganilah petisi disini, dan bergabunglah dengan gerakan 100% Indonesia Hijau Damai.