Pada Selasa siang yang lalu, saat para karyawan Nestle sedang bersiap untuk break makan siang  kami berhasil mendatangi kantor mereka di Jakarta Selatan.  Aktivis Greenpeace yang berkostum orangutan menyeruak dari kemasan coklat Kitkat raksasa menggemakan suara kesedihan orangutan yang kehilangan hutan tempat tinggal mereka yang dihancurkan untuk perkebunan kelapa sawit yang merupakan bahan baku untuk berbagai produk Nestle termasuk coklat KitKat.

Kampanye yang kami mulai seminggu lalu mendapatkan perhatian yang cukup tinggi dan reaksi yang cepat dari Nestle. Tetapi reaksi tersebut tidak berarti apa-apa jika mereka tidak berkomitmen penuh untuk penyelamatan hutan Indonesia.

Kadang-kadang sebuah perusahaan mengeluarkan pernyataan yg reaktif - seperti yang Nestlé lakukan saat kami meluncurkan kampanye KitKat ini -  dimana mereka melakukan sensor terhadap tayangan video kami di Youtube. Padahal satu hal yang kami kritik dari sebungkus coklat kecil yang terlihat rapih ini adalah kenyataan bahwa Nestle belum melakuan sesuatu perubahaan yang berarti. Nestle dengan coklat KitKat-nya 'tertangkap basah' telah ikut melakukan penghancuran hutan Indonesia -  dan berakibat pada menurunnya kepercayaan masyarakat.

Nestlé mengeluarkan pengumuman bahwa mereka akan membatalkan kontrak dengan Sinar Mas, produsen minyak kelapa sawit terbesar di Indonesia yang juga terkenal sebagai penhancur hutan Indonesia, setelah kami merilis sebuah laporan yang  memperlihatkan seluruh kelicikan Sinar Mas dalam menghancurkan hutan dan lahan gambut untuk dijadikan perkebunan kelapa kelapa sawit mereka. Laporan itu dirilis hari yang sama dengan  video spuff iklan 'Have a break?' .

Pengumuman dari Nestlé tersebut bukanlah  sesuatu yang baru - pernyataan itu tidak akan mengubah apapun untuk melindungi hutan Indonesia, orangutan, lahan gambut maupun masyarakat lokal yang hidupnya tergantung dari hutan. Perusahaan bersikap seolah-olah mereka telah melakukan sesuatu yang berarti dengan perngumuman tersebut, namun untungnya pernyataan tersebut tidak dapat membodohi kami.

Pernyataan mereka di halaman jejaring sosial Facebook mengisyaratkan adanya tekanan yang berat, dan kritik atas beberapa kasus - namun mengapa perusahaan ini tidak langsung melakukan tindakan nyata?! Slogan mereka yaitu "Good Food, Good Life" tidak membuktikan apapun kepada konsumen jika mereka tetap tutup mata pada kehancuran hutan dimana mereka secara langsung terlibat karena kebutuhan bahan baku.

break7 Kami meluncurkan kampanye dengan video yang sangat kontroversial (Anda mungkin telah melihat hal itu - sebatang coklat KitKat, jari orangutan dan darah yang keluar dari coklat tersebut). Semua gambar tersebut  untuk menarik perhatian bahwa perusakaan hutan untuk pembukaan kelapa sawit di Indonesia sangat menyedihkan. Sejak hari pertama kampanye online yang kami rilis, kami tidak menyangka akan memdapat perhatian yang sangat tinggi.

Seminggu kami berkampanye, masyarakat dari berbagai belahan dunia telah mengirim  lebih dari 100.000 email kepada CEO Nestle. Karena itulah perusahaan mulai menutup akun email Paul Backle (CEO Nestle).

Sebagai perusahaan raksasa produk makanan dan minuman mereka seharusnya bertindak positif terhadap semua kehancuran hutan yang terjadi di Indonesia. Dan turut mendukung kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada hutan di Indonesia.

Oleh karena itu, sekali lagi kami serukan, Nestle: Berikan break pada hutan Indonesia! www.greenpeace.org/breakuntukhutan