Di Greenpeace kami percaya, di setiap kampanye kami, bahwa setiap orang mempunyai sisi baik. Sisi diri yang mendambakan hidup yang harmonis dengan alam; sisi diri yang butuh dan ingin menjaga dan merawat lingkungan ketimbang merusaknya untuk kepentingan sesaat; sisi diri yang butuh dan ingin berlaku adil, tidak menyakiti sesamanya. Begitu pun dengan kampanye kami di Citarum. Setiap nafas kampanye diniatkan untuk menciptakan momen tersebut. Momen di mana kita bisa melihat, baik secara invidu namun terutama secara kolektif, bahwa kita selalu mempunyai pilihan, untuk menjadi versi terbaik dari diri kita. 

Sebagai pribadi saya selalu meyakini bahwa bangsa ini ya bangsa yang sejatinya hidup dan tumbuh selaras dengan alam. Kita akrab, memahami, belajar dan terinspirasi dari alam. Wawasan kita akan pentingnya harmoni, keanekaragaman, keberlanjutan, bahwa kita hidup saling bergantungan, pastilah hadir dari hidup yang mengakrabi alam. Pandangan tersebut (masih) ada, kuat dan menggeliat, tercermin dalam seni dan kebudayaan kita,  dalam kearifan-kearifan lokal masyarakat kita. Ia menunggu untuk diseriusi, dipelajari dan dipahami, dikembangkan. Melihat ke dalam, boleh jadi adalah kunci yang selama ini kita cari-cari. 

Kalaupun Citarum selama berpuluh-puluh tahun terakhir ini kuat menceritakan sisi diri kita yang lain, kita harus yakin bahwa itu hanyalah sementara, kita mungkin lupa, atau terlena, atau inersia dalam apa yang mungkin kita persepsikan sebagai keterpaksaan. Lagipula, cerita soal Citarum tidak melulu kisah yang pilu. Itu kalau kita mau benar-benar mendengarkan.

Main lah ke Citarum, temui masyarakatnya yang tinggal di sana, yang tinggal di pinggiran sungainya hingga mereka yang tinggal di tepian daerah aliran sungai di kaki-kaki gunungnya. Temukan cerita tentang keyakinan, harapan, semangat, perjuangan, kerjasama, perlawanan, kesederhanaan, keikhlasan, tentang masyarakat yang senang berbagi dan membantu sesama walau serba kekurangan, yang tetap tersenyum walau dalam himpitan kesusahan. Begitulah mungkin manusia kalau sudah menjadi satu dengan tanah air tumpah darahnya, yakin tidak akan ingkar janji tentang keadilan, kemakmuran, kesejahteraan.

Kenapa Citarum?

Kampanye Greenpeace di Citarum merupakan bagian dari kampanye Greenpeace di berbagai penjuru bumi untuk menghentikan pencemaran bahan kimia berbahaya beracun industri terhadap sumber-sumber air kita, terhadap kehidupan kita. Di berbagai tempat di seluruh dunia, di sungai Chao Phraya di Thailand, sungai Pasig di Filipina, sungai Yangtze di Tiongkok, sungai Santiago di Meksiko, dan di berbagai sungai lain, sumber-sumber air kita sedang berada dalam ancaman jangka panjang akibat pencemaran bahan kimia beracun industri.

Baik di Citarum ataupun di sungai-sungai lain tersebut, kita dapat melihat bahwa sebagian kecil pihak tidak hanya secara serakah mengambil keuntungan yang begitu besar dari sumber daya yang dibutuhkan banyak orang dan makhluk hidup lain tersebut, tapi juga merusaknya hingga sulit bahkan mustahil untuk dimanfaatkan oleh sebagian besar pihak yang lain. Tidak cukup sampai disitu, bahaya yang ditimbulkan begitu besar dan berdampak jangka panjang. Ya, kita sedang bicara tentang ancaman kesehatan serius bagi generasi mendatang kita. 

Yang paling tidak bisa diterima, seperti studi yang Greenpeace dokumentasikan dalam laporan ‘Konsekuensi Tersembunyi’, para industri pencemar dan perusak lingkungan tersebut seringkali tidak bertanggungjawab, atau tidak dimintai pertanggungjawaban untuk membayar penuh kerusakan yang disebabkannya. Bila ini terus dibiarkan, bukan hanya lingkungan, kehidupan sosial, dan ekonomi kita yang rusak, tapi juga pondasi dari kehidupan bernegara kita.

Sungai Citarum, yang berjarak begitu dekat dengan Ibu Kota Indonesia, dan dengan segala signifikansinya, bisa menjadi potret tidak hanya untuk sungai-sungai lain di Indonesia, tapi juga bagaimana kita mengelola sumber daya alam milik bersama kita. Sudahkah sumber daya alam kita dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat? Citarum secara cepat dan jujur bisa memberikan jawabannya.

 

Dimulai dengan [?]

Banyak dari kita mungkin sudah mulai mendengar dan mengetahui tentang apa yang terjadi di Citarum secara kasat mata. Terkotor di dunia lah, paling tercemar toksik lah. Tentu harusnya setiap kita tersinggung dan marah dipredikati seperti itu, jika kita bisa mulai mengingat bagaimana sejatinya kita. Tapi mari kita coba mulai melihat apa yang Citarum ceritakan, terus ke bawah menuruni puncak dari gunung es permasalahannya. Tapi sebelum itu, mungkin layak kita nobatkan bahwa Sungai Citarum mempunyai banyak puncak. Jika dia Gunung es, mungkin seperti Gunung Jayawijaya di Papua. Oke, mari kita pilih satu dari sekian banyak puncak dan punggungan gunung es tersebut. Puncak gunung es nya adalah pencemaran di Citarum, punggungan yang kita turuni adalah pencemaran oleh industri.

Kita mungkin sudah lama tahu bahwa salah satu pencemar Sungai Citarum adalah limbah industri. Tapi pernahkah kita bertanya industri apa saja yang mencemari Citarum, siapa saja tepatnya nama perusahaannya, di mana lokasi pembuangannya, bahan kimia berbahaya beracun apa saja yang dibuangnya, berapa banyak, apa bahayanya, dampak apa saja yang telah dan mungkin terjadi?. Lalu kita juga harus bertanya kenapa hal tersebut bisa terjadi. Apakah pemerintah kita memperbolehkan penggunaan bahan kimia berbahaya beracun yang digunakan oleh industri tersebut, seperti apa persyaratannya, apakah pemerintah mengizinkan pembuangan bahan kimia berbahaya beracun tersebut, apakah pemerintah mengawasinya, apakah bila ada pelanggaran pemerintah memastikan mereka yang melanggar bertanggung jawab penuh terhadap perbuatannya, dan banyak lagi pertanyaan lainnya. 

Pertanyaan berikutnya adalah apa alternatif solusinya. Apakah sudah dilakukan, apakah efektif, apakah masyarakat benar-benar dilibatkan dan merasakan manfaatnya, bagaimana evaluasinya?.  Lalu kita pun mesti bertanya, peran apa yang bisa kita kontribusikan untuk penyelesaian masalah tersebut, sebagai apapun kita, sebagai aparat pemerintahan, sebagai pekerja atau eksekutif di perusahaan,  sebagai konsumen, sebagai anggota komunitas, sebagai warga negara. Lebih jauh, sudah difasilitasikah kita untuk berkontribusi?

 

Pertanyaan penting. Citarum Harum untuk siapa?

Untuk kesekian kalinya, usaha masif untuk mengembalikan Citarum seperti sedia kala kembali digelar. Kali ini usaha tersebut dinamakan Citarum Harum. Berhasil tidaknya usaha tersebut akan kita saksikan bersama tujuh tahun mendatang. Apakah benar air Citarum akan kembali bisa diminum di tahun ketujuh nanti.

Melihat berbagai usaha yang telah lalu untuk merehabilitasi Citarum, secara jujur harus kita akui bahwa tidak banyak perubahan yang terjadi. Airnya masih tercemar, masyarakatnya pun belum sejahtera. Apakah usaha-usaha yang telah lalu tersebut tidak mengambil langkah yang seharusnya dilakukan? Yang pasti Citarum selalu menjawab, dengan jeda. 

Mengharumkan Citarum hingga seperti sedia kala adalah ujian kepemimpinan. Ia akan menuntut ketulusan, niat yang lurus dan tekad yang kuat, bahwa sumber daya alam milik bersama seperti Sungai Citarum haruslah bermanfaat bagi semua, adil. Ia akan meminta seseorang untuk mengambil langkah-langkah yang benar, walaupun sulit. Ia akan mensyaratkan seseorang untuk tidak hanya mengambil langkah-langkah pendek yang bisa jadi hanya memperparah permasalahan. Citarum selalu menjawab, dengan jeda. Citarum akan mulai harum saat langkah-langkah benar tersebut berani diambil.

Pemerintahan kali ini telah berkomitmen untuk membangun sumber daya manusianya. Ini komitmen serius. Konsekuensi logisnya seharusnya bisa dilihat juga dari langkah-langkah yang diambil di Citarum. Bahan-bahan kimia berbahaya beracun yang dibuang industri ke Sungai Citarum mempunyai berbagai dampak jangka panjang serius bagi kesehatan manusia. Ada yang dapat memicu kanker, gangguan pada sistem hormon, gangguan pada sistem reproduksi, dan berbagai bahaya lainnya. Ia dapat sampai  kepada manusia melalui berbagai jalur, secara langsung lewat kontak fisik dengan air yang tecemar, melalui udara yang kita hirup, melalui rantai makanan, melalui air susu ibu!. Bukankah itu ancaman yang super serius bagi kualitas sumber daya manusia kita? Dan tidak hanya untuk generasi ini, tapi juga generasi mendatang. 

Jeda dari konsekuensi kita gagal mencegah bahaya itu selama ini pasti akan datang suatu saat, dan kita harus menerimanya. Persoalannya adalah, apakah keadilan akan ditegakkan dan yang bersalah akan dimintai pertanggungjawaban. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Mencegah adalah salah satu langkah utama yang harus diambil oleh Citarum Harum, jika kita memang benar ingin membangun sumber daya manusia kita.

 

Keberanian dibutuhkan agar Citarum Harum

Kampanye Greenpeace sejak tahun 2011 telah berhasil mengunci komitmen lebih dari 90 brand mode dunia, peritel, dan juga beberapa produsen, yang banyak di antaranya memproduksi produknya di pabrik-pabrik yang berdiri di Sungai Citarum dan juga di daerah aliran sungai lainnya di Indonesia. Komitmen tersebut terdiri dari dua kelompok besar. Pertama, brand-brand tersebut berkomitmen untuk menghapuskan penggunaan semua bahan kimia berbahaya beracun dalam produk dan proses produksinya pada tahun 2020. Kedua, brand-brand tersebut berkomitmen untuk membuka data-data pembuangan bahan kimia berbahaya beracun dari  semua fasilitas produksi mereka kepada publik secara luas dan dengan akses yang mudah dan cuma-cuma, termasuk di Indonesia, juga pada 2020. Seharusnya ini menjadi momentum di mana langkah-langkah yang benar bisa diambil oleh pemerintah.

Pemerintah pun, baru saja menetapkan daya tampung beban pencemaran beberapa Sungai, termasuk Citarum. Langkah-langkah logis turunan dari itu harus segera diambil. Namun juga harus dipastikan, sesuai dengan cita-cita pemerintah di Citarum, bahwa langkah-langkah tersebut tidak hanya memindahkan masalah ke tempat lain, ke sungai-sungai lainnya di Indonesia. 

Pertanyaan akhir yang harus kita layangkan adalah, seserius apa kita ingin Citarum menjadi harum kembali. Keseriusan itu harus tampak dalam langkah-langkah yang kita ambil ke depan. Karena Citarum Harum seharusnya bukan hanya soal kita membersihkan satu sungai saja, tapi ini juga soal mengingatkan bagaimana sejatinya kita, untuk menjadi versi terbaik dari diri kita bersama. Mari bergerak!