Sebagai orang tua, saya selalu memiliki keprihatinan tentang anak-anak saya: pendidikan, kesehatan, dan masa depan mereka. Dan seperti yang dilakukan orang tua lainnya, saya lebih memikirkan anak-anak saya daripada diri saya sendiri. Salah satu kekhawatiran terbesar saya adalah apakah mereka - sekarang dan di masa depan - akan menikmati udara bersih untuk bernafas. Kedua anak saya menderita penyakit pernapasan akut, dan hati saya hancur ketika saya melihat mereka sulit untuk bernapas.

 

Di seluruh Manila, Jakarta dan Bangkok, orang-orang memakai masker wajah dalam upaya melindungi diri mereka dari polusi telah menjadi pemandangan umum. Apa yang disadari oleh lebih sedikit orang adalah bahwa polusi ini merayap ke dalam rumah, tempat kerja dan sekolah kita juga, dan membahayakan kesehatan secara serius sepanjang hidup kita.

Data baru yang dirilis oleh AirVisual dan Greenpeace Asia Tenggara menggambarkan gambaran tingkat polusi yang mengkhawatirkan di Asia Tenggara: Dari 44 kota dengan data, 12 kota diantaranya  memiliki tingkat polusi PM2,5 lebih dari tiga kali lebih tinggi dari pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)- termasuk kota-kota di Indonesia, Thailand, Vietnam dan Filipina. Dua ibu kota yang paling tercemar, Jakarta dan Hanoi, memiliki tingkat empat kali lebih tinggi dari pedoman WHO.

Tumbuh dan besar di tingkat polusi seperti itu adalah beban yang tidak dapat diterima pada kesehatan anak-anak di kota-kota tersebut. Di Jakarta dan Hanoi, polusi udara meningkatkan risiko kematian akibat infeksi pernapasan sebesar 40% dan serangan asma sebesar 20% untuk anak-anak. Untuk orang dewasa, risiko kanker paru-paru meningkat 25% dan risiko stroke berlipat ganda.

Alasan kenaikan tingkat polusi udara tidak sulit ditemukan - selama dekade terakhir, konsumsi batubara naik dua kali lipat dan konsumsi minyak meningkat sepertiga di seluruh Asia Tenggara, sementara kebakaran hutan terus menyebabkan pencemaran udara naik pada level  darurat di Indonesia dan Thailand.

 

Namun penyebab utama krisis polusi - dari perusahaan listrik batu bara hingga pembuat mobil, perusahaan minyak dan perusahaan penebangan - terus menyangkal dan menggagalkan langkah-langkah untuk mengatasi polusi dari sumbernya. Sebagai salah satu contoh, standar emisi untuk PLTU batu bara di Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam semuanya sudah usang, mencapai hingga 10 kali lipat emisi polutan udara setinggi negara-negara dengan regulasi terkuat, termasuk Cina, Jepang dan Uni Eropa.

Tidak harus seperti ini.

Salah satu contoh kebijakan yang dapat dicapai untuk mengatasi polusi udara adalah Cina. Tingkat PM2.5 rata-rata di kota-kota Cina turun 11% dari 2017 hingga 2018, berkat kebijakan udara bersih yang ambisius. Bagian penting dari kesuksesan Cina adalah dengan memangkas konsumsi batubara, yang memuncak pada tahun 2013. Level PM2.5 Beijing telah turun lebih dari 40% sejak saat itu.

Ada kebutuhan mendesak untuk memperluas pemantauan - tercatat hanya 44 kota yang memiliki stasiun pemantauan dengan cakupan wilayah lebih dari 600 juta orang, jelas tidak mencukupi.

Juga yang tidak kalah penting yaitu, memanfaatkan energi terbarukan yang bersih secara besar-besaran, transportasi berkelanjutan dan melindungi hutan, sejalan dengan standar emisi yang lebih kuat untuk pembangkit listrik, industri dan kendaraan. Kita perlu melindungi anak-anak Asia Tenggara - dan orang dewasa - dari bahaya polusi seumur hidup. Wilayah ini dapat memiliki masa depan yang cerah, dengan mengambil tindakan untuk membersihkan langitnya.

Ada pepatah umum yang mengatakan, “Kami tidak tahu apa yang kami dapatkan sampai hal tersebut hilang.” Tetapi kebenaran yang menyakitkan adalah: kami sangat tahu persis apa yang kami miliki, tetapi kami tidak pernah berpikir kami akan kehilangannya. Sudah saatnya kita berjuang untuk udara yang kita hirup, sebelum terlambat.