Hari ini 45 tahun lalu sebuah kesadaran baru akan masalah lingkungan hidup telah muncul dan menjadi sebuah energi gerakan yang dapat menyatukan jutaan orang di seluruh dunia untuk turun ke jalan, berseru dan melakukan aksi untuk bumi. 22 April ditandai dengan sebuah kelahiran gerakan lingkungan hidup di era modern – yang dikenal sebagai Hari Bumi.

Di Hari Bumi ini, saya ingin mengajak kamu untuk melakukan hal yang penting bagi bumi dan sangat berarti bagi hutan alam kita. Saya ingin mengajak kamu bergabung dengan sebuah gerakan yang telah diikuti oleh lebih dari 24.000 orang yang bersatu menyerukan pentingnya menyelamatkan hutan alam Indonesia yang tersisa.

Kini adalah masa yang sangat genting dimana jutaan hektar hutan alam berserta isinya tengah ditentukan nasibnya. Kurang dari tiga minggu saja, masa jeda pemberian ijin penebangan di hutan alam (atau yang dikenal dengan Moratorium Hutan) akan segera kadaluarsa. Selama masa moratorium hutan, pemberian ijin-ijin baru bagi penebangan hutan atau pembukaan kawasan hutan untuk membangun kebun-kebun kayu atau sawit monokultur tengah dibekukan. Moratorium atau jeda tebang dua tahun dimulai pada tahun 2011 dan telah diperpanjang pada tahun 2013 yang mana akan segera berakhir segera pada tanggal 13 Mei.

Bila masa moratorium hutan ini tidak diperpanjanglagi maka ijin-ijin tebang untuk HPH atau HTI dapat dikeluarkan oleh pemerintah dimana dipastikan perusakan hutan akan tidak dapat dibendung lagi. Padahal masa jeda tebang sangat dibutuhkan oleh hutan kita untuk dapat bernafas sedikit dari eksploitasi yang intensif. Bayangkan tingkat kerusakan hutan kita (deforestasi) saat ini mencapai 840.000 ha per tahun (tahun 2012) yang merupakan tingkat deforestasi tertinggi di dunia. Ini tentu saja sangat mengkuatirkan karena lebih dari 34% hutan kita telah rusak parah atau telah hilang sama sekali akibat penebangan merusak atau telah berubah menjadi kebun-kebun monokultur.



Nasib hutan alam primer dan sekunder seluas 93,6 juta hektar ada di ujung tanduk, namun bersama-sama kita dapat bersuara keras hingga didengar oleh Presiden Jokowi yang akan menjadi penentu akhir dari keputusan ini. Kampanye dan aksi yang kita lakukan selama ini telah mendorong komitmen pemerintah untuk memperpanjang moratorium ini, namun kita ingin bahwa hal ini benar-benar terwujud.

Lebih dari itu, kita juga tidak ingin bahwa moratorium hutan ini tidak hanya diperpanjang masa waktunya, namun juga ditingkatkan kualitasnya. Kita ingin pada masa jeda tebang ini Kementerian Kehutanan melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa pengelolaan hutan kita benar-benar lestari, tidak hanya mementingkan kepentingan ekonomi jangka pendek yang eksploitatif namun juga mementingkan kelestarian hutan untuk satwa liar, sumber-sumber air dan pangan serta obat-obatan dan yang lebih terpenting lagi bagi puluhan juta masyarakat adat dan masyarakat lokal yang melihat hutan adalah rumah mereka.

Mari merayakan Hari Bumi hari ini dengan melakukan sebuah aksi penting bagi nasib dan
keselamatan hutan alam kita yan tersisa. Bersama puluhan ribu orang lain suara kita akan terdengar lantang dan keras.  Mari kirimkan email ke Presiden Jokowi untuk memperpanjang dan memperkuat moratorium hutan. Kirimkan email kamu di sini.