Ancaman pencemaran laut sepanjang tahun disebabkan tumpahan dan buangan minyak hampir lumrah dialami oleh kawasan pesisir dan laut di sepanjang Selat Malaka yang dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran laut tersibuk didunia. Seperti yang sudah lazim terjadi di kawasan pesisir Bintan, Batam dan Karimun Provinsi Kepulauan Riau.

Akan tetapi, pencemaran laut akibat buangan minyak yang terekam di Bintan yang terpantau sejak awal bulanApril 2014, sudah tidak bisa lagi dianggap peristiwa biasa dan lazim. Pencemaran akibat buangan minyak kotor semakin serius. Diperkirakan 5 ribu sampai dengan 10 ribu barel, atau kira-kira setara hingga 1.590 meter kubik minyak kotor yang tiba dan mencemari kawasan pantai.


Minyak kotor tersebut dibuang ke laut oleh kapal-kapal tanker di wilayah Laut China Selatan, Laut Natuna dan Selat Malaka sebelum bersandar ataupun saat melego jangkar disekitar pelabuhan-pelabuhan utama di Indonesia, Malaysia dan Singapura. Aktivitas pembuangan minyak kotor juga diduga dilakukan oleh sejumlah industri galangan kapal di Kepulauan Riau. Greenpeace menerima kabar buruk ini dari seorang sahabat yang menjadi sumber terpercaya kita disana.

Pencemaran oleh minyak kotor ini mengancam sumber-sumber penghidupan dan matapencaharian masyarakat setempat termasuk mengancam keberlanjutan sektor perikanan dan pariwisata.

Ratusan-juta hingga milyaran rupiah potensi per tahun pendapatan daerah yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat setempat dari kedua sektor diatas akan hilang selamanya jika tidak ada tindakan-tindakan serius dan nyata yang dilakukan oleh pemerintah untuk menghentikan pembuangan minyak kotor secara ilegal ke laut tersebut.

Dampak yang ditimbulkan dari aktivitas pembuangan minyak kotor itu baik dalam jangka pendek dan jangka panjang akan sangat merugikan lingkungan dan kehidupan manusia.

“Saya tidak bisa pergi memancing selama 3 hari. Ikan-ikan pergi. Laut menjadi hitam dan sangat hitam. Saya tidak bisa tidur karena bau minyak kotor.” Pengakuan seorang nelayan dari wilayah Malang Rapat, Bintan.

Apakah pemerintah Indonesia, Singapura dan Malaysia memiliki kemampuan dan keinginan untuk segera mengambil langkah pemulihan dan pencegahan kedepan? Masih diragukan! Atau malah pada kondisi seperti inilah pemerintah akan bangga menyatakan keberhasilannya dalam menjalankan “pembangunan yang berkelanjutan”?

Jika peristiwa ini dan kejadian serupa lainnya terus berlangsung, tidak ada lagi yang yang pantas untuk kita lindungi dan banggakan, karena wilayah laut dan pesisir kita akan lebih terkenal dengan pantai-pantai hitam kaya minyak kotor.

Namun masih ada harapan untuk mewujudkan laut sehat dan terlindungi jika kita tetap  bergerak bersama mendesak pemerintah segera melakukan tindakan pemulihan dan pencegahan.

Bersuaralah untuk laut Indonesia. Jadilah pembela lautan. Ingatkan para pemimpin kita untuk bertindak cepat, nyata dan bijak.

Jadilah Pembela Lautan dan pastikan kamu menjadi bagian dari #OceanLovers untuk mewujudkan #lautsehat dan terlindungi!