Kampanye Greenpeace untuk menghentikan beberapa oknum perusahaan besar kelapa sawit yang dalam operasinya melakukan perusakan hutan mendapat tanggapan luas dari berbagai kalangan. Debat publik seperti ini sangat positif demi tercapainya kemajuan industri sawit yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Seperti di dalam pemberitaan sebuah media masa pada 20 April 2010 yang berjudul "Indonesia Galang Kampanye Putih Sawit" yang mengutip pernyataan dari sekretaris GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) bahwa Greenpeace menerima dana dari Uni Eropa.  Kami tegaskan bahwa ini adalah tuduhan yang tidak benar bahkan cenderung sembrono karena tidak disertai bukti.

Karena salah satu nilai dasar Greenpeace yang telah mendapat reputasi internasional adalah independensi. Greenpeace adalah Lembaga Swadaya Masyarakat yang punya kebijakan tidak menerima donasi dari pemerintah dan perusahaan. Tujuan dari kebijakaan kami ini  adalah menjaga independensi. Sumber pendanaan Greenpeace didapatkan dari lebih 3 juta orang (Supporter) di seluruh dunia yang melakukan donasi rutin setiap bulan dan di Indonesia sendiri sekitar 30 ribu orang telah menjadi bagian dari supporter Greenpeace.

Beberapa pihak menghembuskan berita yang tidak benar bahwa kampanye kelapa sawit kami adalah untuk merusak industri sawit di Indonesia karena Greenpeace ditunggangi oleh kepentingan industri Eropa. Padahal sudah sangat jelas bahwa Greenpeace tidak anti industri kelapa sawit. Bahkan mendukung industri kelapa sawit yang  sudah menjadi primadona ekonomi Indonesia dengan membuka lapangan kerja dan pemasukan bagi negara.

Berkaitan dengan kampanye kelapa sawit dan kaitannya dengan pembabatan hutan, tujuannya tidak lain untuk menghentikan oknum perusahaan besar melakukan perusakan hutan, yang telah sangat merugikan lingkungan Indonesia, mengancam keanekaragaman hayati dan masyarakat lokal yang hidupnya bergantung pada hutan, yang kemudian berdampak buruk terhadap perubahan iklim Indonesia maupun dunia.

Greenpeace terus mendesak pemerintah dan dunia usaha untuk memajukan industri sawit dan meningkatkan taraf hidup petani kecil dengan cara melakukan intensifikasi demi meningkatnya produktivitas kebun sawit di lahan yang telah ada. Satu-satunya yang anti bagi Greenpeace adalah perusakan lingkungan yang dilakukan secara tidak bertanggung jawab. Pembukaan perkebunan dengan merusak hutan alam yang ada.

Kampanye Greenpeace dilakukan setelah melakukan berbagai riset dan penelitian di berbagai wilayah Indonesia. Saat meminta secara keras perusahaan tersebut untuk menghentikan perusakan hutan, Greenpeace juga menyertakan bukti-bukti perusakan hutan yang masih mereka lakukan, bahkan lengkap dengan foto lokasi dan posisi GPS.

Seharusnya demi kemajuan industri sawit Indonesia di dunia internasional, pemerintah (Departemen Pertanian) dan dunia usaha harus menyelidiki dan menindaklanjuti laporan bukti-bukti kami dan menghentikan perusakan yang terjadi. Langkah ini jauh lebih bermanfaat bagi lingkungan dan perekonomian Indonesia dibanding melancarkan kampanye hitam terhadap LSM lingkungan terutama Greenpeace, sambil terus membiarkan perusakan lingkungan terus terjadi.

Selama ini belum ada pernyataan dari Departemen Pertanian apakah bukti yang disodorkan Greenpeace itu benar maupun salah, setelah melakukan penyelidikan mengenai hal ini. Kami melihat sikap ini tidak menghormati pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa pekan lalu yang menyatakan menghargai upaya LSM lingkungan termasuk Greenpeace, dan meminta pemerintah bekerja sama dengan LSM lingkungan demi menyelamatkan lingkungan Indonesia.

Kami juga melihat selama ini pemerintah dan industri sangat berfokus pada ekspansi (perluasan) perkebunan kelapa sawit dan mengabaikan peningkatan produktivitas termasuk petani sawit. Kami melihat justru jika pemerintah dan industri mulai menaruh perhatian kepada peningkatan produktivitas, tidak hanya meningkatkan daya saing produk CPO Indonesia di pasar internasional, tetapi juga akan meningkatkan kesejahteraan petani.

Bustar Maitar Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara

Tulisan ini juga dimuat di Harian Media Indonesia Jumat, 23 April 2010 halaman 29.