Selama 17 tahun Riau diselimuti asap tebal kebakaran hutan dan lahan musiman. Selama ini asap ditengarai menyebabkan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas), padahal lebih buruk dari itu, asap ternyata menyimpan bahaya yang lebih menakutkan bagi masa depan masyarakat Riau.

Tahukah kamu bahwa kabut asap mengandung berbagai partikel racun yang berbahaya?

Kabut asap mengandung berbagai bahan polutan seperti particulat matter (PM), karbonmonoksida (CO), nitrogen dioksida (NO2), sulfur dioksida (SO2), dan ozone (O3). Zat-zat ini memiliki dampak bagi kesehatan setiap orang yang menghirup asap tersebut, dan salah satunya adalah kanker.

Kanker disebabkan oleh terjadinya mutasi gen karena sel tubuh membelah lebih dari jumlah yang seharusnya. Sel tubuh yang membelah tanpa terkontrol inilah yang akan menyebabkan kanker.

Menurut WHO-yang dikutip oleh Ibu Nurul Huda dari tim medis Pusat Studi Bencana Universitas Riau-, particulat matter (PM) adalah zat yang dapat menyebabkan kanker terutama asap yang dihasilkan dari pembakaran bahan organik.Asap jenis ini bersifatkarsinogen terhadap paru-paru karena“Zat itu akan menembus sampai paru-paru terdalam, dia mengendap di paru-paru. Nah, partikel-partikel kecil ini merangsang sel-sel membelah lebih cepat”.

Permasalahannya, pengaruh partikel penyebab kanker dari kabut asap baru dapat terdeteksi setelah rentan waktu 5 hingga 10 tahun, ketika sel tubuh membelah hingga 10 pangkat 7. Sehingga efek keseluruhan dari menghirup kabut asap tidak dapat langsung diketahui.

Selain resiko terkena kanker yang tidak banyak disadari oleh masyarakat Riau, terdapat dampak berbahaya lainnya bagi generasi masa depan Riau. Asap yang tebal menyebabkan suplai oksigen berkurang ke otak, hal ini dapat menyebabkan kinerja otak bayi dan anak-anak berada di bawah batas normal, iniyang disebut dengan retardasi mental.

Mereka yang paling rentan pada resiko retardasi mental ini adalah janin di dalam kandungan dan bayi. Ibu Nurul Huda menjelaskan, usia kehamilan 3 bulan merupakan masa pembentukan otak. Sehingga semakin sedikit oksigen yang dialirkan oleh ibu ke bayi,akan semakin menghambat perkembangan otak calon bayinya.

Begitu pun halnya dengan bayi yang menghisap asap terus-menerus, masa pertumbuhan otaknya juga akan terganggu. Hal ini akan terlihat jelas setelah bayi tumbuh besar danmemiliki daya tangkap yang rendah.

Penurunan fungsi otak inilah yang menjadi hal menakutkan bagi generasi masa depan Riau, karena memang efeknya tidak langsung, namun delay effectberlangsung dalam rentan waktu hingga 5 tahun yang akan datang. Efek yang tak langsung terlihat inilah yang justru sangat menakutkan.

“Kalau sudah terjadi kerusakan otak mau diapakan, berarti kan menambah cost kesehatan utk meningkatkan kualitas hidup si anak. Karena mau diapakan, dikasih obat juga ngga bisa. Karena otaknya sudah terbentuk seperti itu. Nah ini yang ditakutkan dan tidak disadari oleh masyarakat kita”,ujar Ibu Nurul Huda sedih.

Masalah yang ditimbulkan asap bukan hanya ISPA semata, seperti yang selama ini diyakini oleh sebagian besar masyarakat Riau. Hal yang paling mengerikan justru adalah retardasi mental yang dapat terjadi pada setiap calon bayi dan bayi yang terpapar asap tebal setiap tahunnya. Retardasi mental akan memberikan pengaruh signifikan terhadap masa depan generasi penerus di Riau karenamenyebabkan turunnya kualitas SDM.

Masihkah kita tidak peduli dengan asap yang melanda Riau setiap tahunnya? Seolah masalah hanya ada ketika ada asap, dan akan hilang ketika asap telah lenyap?

Masa depan Riau juga ada di tangan kamu. Yuk bersama-sama meminta Presiden SBY membuat komitmen kuat untuk perlindungan lahan gambut di Riau! Menuju masa depan tanpa asap untuk generasi penerus Riau.