Setiap tahunnya, kebakaran hutan dan lahan gambut di Riau tidak menyisakan apa-apa kecuali kerugian. Dari tahun ke tahun kerugian semakin besar bahkan mencapai angka Triliunan.

Dari bibir ke bibir, orang membicarakan Riau sebagai daerah kaya. Sebagai provinsi terkaya nomor dua setelah Kalimantan Timur, biaya hidup di provinsi yang beribukota di Pekanbaru ini juga tinggi. 

Ironisnya, kekayaan 8,5 triliun yang didapat dari APBD setiap tahun tidak sebanding dengan kerugian yang didapatkan akibat kebakaran lahan gambut. Bahkan tahun ini, kerugian mencapai 15 triliun. Hanya dalam dua bulan, Riau mengalami kerugian yang mencapai dua kali lipat dari APBD-nya.

Begitu besar biaya yang harus ditanggung oleh Riau hanya untuk belanja asap dari lahan gambut yang terbakar. Biaya ini terus meningkat setiap tahun, seiring dengan semakin bertambahnya luas lahan gambut yang terbakar. Tahun lalu kebakaran menghanguskan16.000 hektar, tetapi pada Februari tahun ini saja kebakaran telah menyebabkan 21.900 hektar hutan dan lahan gambut terbakar.

Belum lagi biaya yang diperlukan untuk pemadaman dan penanggulangan bencana nasional yang mencapai angka 150 miliar. Angka fantastis untuk mengusir asap dari langit Riau. Tidak hanya melumpuhkan kegiatan ekonomi dalam waktu dua bulan, bencana asap di Riau juga menyebabkan sekolah harus diliburkan, bandara lumpuh sertaribuan warga yang terserang ISPA (Infeksi saluran Pernafasan Atas).

Dalam siaran persnya, Rektor Universitas Riau, Prof.Dr.Ir. H. Aras Mulyadi, DEAmenyebutkan bahwa bencana asap yang disebabkan terbakarnya lahan gambut di Riau mengindikasikan kegagalan pendekatan pembangunan ekonomi terutama pemanfaatan lahan gambut.

Pembukaan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit menjadikan Riau sebagai bom waktu kebakaran dengan bahan bakar (gambut kering) yang ada dimana-mana. Lahan gambut yang dibuka untuk perkebunan kelapa sawit membutuhkanpengeringan yang dilakukan dengan membangun kanal-kanal di lahan gambut. Lahan gambut yang kering menjadi mudah terbakar karena tidak ada air sebagai pemadamnya. Bahkan api bisa meloncat diantara kanal-kanal dan berada jauh di dalam tanah, sehingga tidak terlihat.

Saya pernah berbincang dengan Bu Saidah (51), warga yang menjadi saksi dari kebakaran lahan gambut di Bukit Lengkung Kabupaten Bengkalis. Dia bercerita, “Tak tahulah bu, api tu seperti setan. Bisa balik lagi api tu, padahal sudah lewat”. Api begitu cepat, tidak terlihat tiba-tiba muncul begitu saja melahap apapun yang ada disekitarnya.

Fenomena api yang meloncat ini dibenarkan oleh Dr. Haris Gunawan, Direktur Pusat Studi bencana Universitas Riau. Menurut beliau, permukaan atas dan bawah gambut yang kering merupakan kombinasi mengapa kebakaran di lahan gambut sulit untuk dipadamkan. “Kalau terjadi kebakaran, apinya kelihatan. Itu terbakarnya pada lapisan gambut bagian atas. Tetapi kalau sudah terbakar di lapisan bawah, yang akan muncul asap putih dan itu sulit untuk dipadamkan”.

Lahan gambut seharusnya tidak dibakar, apalagi untuk perkebunan kelapa sawit. Jika dibiarkan ancaman asap akan terus meneror Riau. Jika Presiden SBY tidak segera membuat kebijakan yang kuat untuk melindungi lahan gambut, Riau akan terus menderita karena asap. Dan triliunan akan menguap bersama abu hitam pekat di langit Riau. Kita benar-benar berkejaran dengan waktu. Mari melawan asap! Klik www.100persenindonesia.org