Usia boleh jadi hambatan bagi seseorang untuk melakukan hal luar biasa. Namun tidak demikian dengan Asep Cahya Setiawan (21 tahun) dan Waya Pesik Maweru (19 tahun). Dua anak muda ini adalah anggota tim pemanjat Greenpeace, yang memanjat Monumen Sejarah “Selamat Datang” pada hari Minggu 11 Mei 2014 kemarin.

Asep dan Waya tidak sendiri, aksi heroik mereka itu didukung oleh tim pemanjat Greenpeace lainnya, yaitu Muhammad Adhonian Canarisla, Edsah Setiawan, Prima Cahya, Arie Ikhwan, Wiwit dan Elba. Mereka muda, berani, profesional dan peduli terhadap masa depan lingkungan Indonesia.

Aksi membentangkan banner pada ketinggian 30 meter di Monumen “Selamat Datang” di Bunderan HI, menjadi pembuka kampanye 100% Indonesia Hijau Damai. Greenpeace menuntut calon pemimpin Indonesia untuk memiliki komitmen kuat untuk menjadikan lingkungan yang lebih hijau lestari. Keberlangsungan masa depan hutan, laut, air serta iklim yang lebih terlindungi dan berkelanjutan seharusnya menjadi wacana prioritas bagi calon pemimpin dalam membuat kebijakan kelak.

Saya mendapat kesempatan berbincang-bincang dengan Asep dan Waya. Ketika saya bertemu mereka, saya tidak menyangka mereka berusia 20 tahunan. Mereka berperawakan sedang, suka tertawa dan becerita layaknya anak muda seusia mereka. Asep adalah salah satu pemanjat yang membentangkan banner, melawan angin dan kecemasan ia akhirnya berhasil membentangkan banner.

Asep mengaku sangat gugup menjelang aksi dilakukan. Namun persiapan yang matang dan latihan yang rutin membuatnya percaya diri. Ini adalah aksi memanjat pertamanya, dan ia merasa senang terlibat dalam aksi ini. Sementara Waya, wanita muda yang cantik, harus berada di dalam air setinggi dada selama 3 jam lebih dalam aksi tersebut. Air yang dingin dapat mengakibatkan hiportermia, tapi wanita muda ini dapat bertahan. Mereka mengaku tetap fokus selama aksi karena memiliki motivasi kuat untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat. Pesan agar masyarakat memilih pemimpin yang peduli lingkungan.

Mereka mengaku senang dan bangga terlibat aksi ini karena mereka merasa menjadi bagian darisejarah dan memiliki kesempatan untuk memperlihatkan apa yang mereka pikirkan tentang masa depan Indonesia. Mereka peduli dengan apa yang terjadi di Citarum ataupun Batang, karena meski mereka tidak berada di sana, mereka dapat merasakan apa yang menimpa masyarakat lokal tersebut.

Saya kagum dengan apa yang dilakukan Asep, Waya dan teman-teman aktivis lainnya yang ikut dalam aksi tersebut. Saya bertanya, kenapa mereka mau melakukannya. Dari segala hal yang mungkin dan dapat mereka lakukan, kenapa mereka memilih menjadi volunteer Greenpeace? Sambil tersenyum, Waya mengatakan bahwa menjadi volunteer adalah sebuah pilihan hidup bukan pekerjaan. “Menyenangkan, fun banget. Selain itu juga dapat pengetahuan tentang skill manjat, tentang lingkungan. Padahal awalnya aku ngga tahu apa-apa soal manjat”, ujar Waya lagi. Asep juga menambahkan bahwa menjadi volunteer itu asik dan bisa memiliki teman baru dari seluruh Indonesia.

Apa yang Asep, Waya dan teman-teman aktivis lakukan adalah sebuah sikap tegas, yang disampaikan oleh kaum muda. Kegelisahan untuk memiliki pemimpin yang berkomitmen terhadap lingkungan, keberanian untuk melakukan aksi, mengambil resiko, melawan comfort zone, untuk menyampaikan suara mereka. Suara kaum muda.

Aksi Greenpeace di Bunderan HI tidak hanya menyuarakan betapa Indonesia memerlukan pemimpin yang pro lingkungan, namun merepresentasikan suara kaum muda itu sendiri. Pergerakan kaum muda dan suara mereka pada Pemilu. Inilah yang dilakukan aktivis muda Greenpeace. Mereka muda, mereka berani, mereka bersuara untuk 100% Indonesia hijau dan damai.

Kamu sudah ikut bersuara?