Momentum Meningkat di Cancun

masih banyak pekerjaan untuk menyelamatkan iklim

Berita - 13 Desember, 2010
Para Kepala Pemerintahan dalam pembicaraan di KTT Iklim Cancun telah memilih harapan daripada ketakutan dan membawa dunia menuju jalan yang sulit tapi sekarang bisa di kendalikan menuju kesepakatan global untuk menghentikan perubahan iklim yang berbahaya.

“Dari hambatan menjadi kelancaran, para kepala pemerintahan di Cancun telah menunjukkan bahwa mereka dapat bekerjasama dan dapat maju ke muka untuk mencapai kesepakatan global untuk menyelamatkan iklim,” kata Shailendra Yashwant, Direktur Kampanye, Greenpeace Asia Tenggara.

“Tahun ini dunia mengalami banyak kejadian sebagai konsekuensi perubahan iklim – suhu tertinggi dalam sejarah, bencana alam, dan hampir mencapai rekor pelelehan es di kutub.  Ini sebabnya mengapa pembicaraan tahun depan di Durban, Afrika Selatan, harus menjadi tujuan tercapainya kesepakatan kuat, bukan hanya satu lagi titik singgah.”

Pada pertemuan akhir di Cancun, para kepala pemerintahan bukan hanya mengakui adanya jarak antara janji-janji mereka yang lemah dan di mana seharusnya mereka berada, mereka juga menyatakan bahwa pemotongan emisi harus sejalan dengan segi kenyataan ilmiahnya – potongan 25-40% pada 2020 – dan mereka harus menjaga kenaikan suhu global di bawah dua derajat.

Mengenai masalah kunci pembiayaan iklim, para kepala pemerintahan menetapkan sebuah dana iklim untuk menyalurkan milyaran yang dibutuhkan negara berkembang dalam menghadapi perubahan iklim dan menghentikan deforestasi. Namun mereka tidak menetapkan cara untuk memberikan dana tersebut.

Kesepakatan besar lainnya di Cancun adalah mengenai bagaimana mekanisme yang dapat melindungi hutan tropis sementara melindungi hak-hak masyarakat adat dan keanekaragaman hayati. Kesepakatan REDD (Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan pada Negara-negara Berkembang) melangkahi beberapa bagian kritis yang harus didefinisikan dan diperkuat selama beberapa bulan mendatang.

ASEAN memegang peran sangat positif dan sepakat dengan satu suara pada pembicaraan iklim Cancun, yang ditunjukkan dengan pernyataan tingkat tinggi Vietnam atas nama ASEAN, yang menyerukan diprioritaskannya dukungan finansial dan teknis, mengingat ASEAN sebagai produsen dan eksportir pangan global dan salah satu wilayah paling rentan dalam menghadapi perubahan iklim.

Vietnam juga menggaungkan posisi ASEAN bahwa Protokol Kyoto harus diteruskan sebagai dasar kerangka hukum dan instrumen legal bagi masyarakat internasional dalam memerangi perubahan iklim; negara-negara maju harus membuat komitmen yang lebih berambisi dan menetapkan target-target spesifik dan mengikat dalam pengurangan emisi gas rumahkaca;  negara-negara berkembang harus didorong untuk berkembang dan menerapkan Aksi Mitigasi Sesuai Negara (Nationally Appropriate Mitigation Action, NAMAs) dengan dasar sukarela; dan mencapai kesepakatan mengenai REDD plus.

Zelda Soriano, Penasihat Politik Greenpeace dari Cancun mengatakan “Para pemerintah ASEAN harus melanjutkan kerja positif yang mereka lakukan di Cancun dan memberkian kontribusi lebih dalam proses menuju COP di Afrika Selatan tahun 2011. Koalisi A-FAB (ASEAN for a Fair, Ambitious, and Binding Global Deal, atau ASEAN demi Kesepakatan Global yang Adil, Berambisi dan Mengikat) menghargai kepemimpinan Vietnam di Cancun; inisiatif Thailand dan peran positif Filipina dalam pertemuan tingkat menteri untuk mewujudkan ASEAN sebagai suara kuat dan penting dalam negosiasi internasional perubahan iklim. A-FAB mendukung ASEAN dalam usahanya dan komitmen-komitmen ASEAN dalam jajaran regionalnya, dan Inisiatif Perubahan Iklim ASEAN.”