Aksi Masyarakat Mengembalikan Sumber Kehidupan di Hutan Semenanjung Kampar

Berita - 21 Juni, 2010
Masyarakat Semenanjung Kampar memulai tahap pembibitan tanaman dan tumbuhan hutan asli semenanjung Kampar saat "kamp masyarakat untuk perlindungan semenanjung Kampar" di desa Teluk Meranti, Riau.

anak-anak Desa Teluk Meranti, Riau tertawa gembira ketika menerima sebuah bibit dari tangan temannya dalam sebuah polybag di kebun pembibitan.

Kamp yang dulu sempat terjadi pembakaraan oleh pihak tertentu kini telah berdiri kembali karena usaha masyarakat yang ingin tetap berjuang melindungi hutan mereka di Semenanjung Kampar. Mereka sadar hutan mereka telah habis dan kini saatnya mengembalikan hutan yang telah di hancurkan oleh perusahaan sawit dan kertas. Pembibitan di lakukan di sekitar kamp, bibit tersebut akan memperbaharui, memulihkan dan mengembalikan ekosistem yang rentan sumber kehidupan masyarakat Teluk Meranti

"Pembukaan kembali kamp adalah bukti bahwa kami berkomitmen untuk melindungi hutan kami yang saat ini secara cepat dihancurkan oleh perusahaan, dan itu menghalangi tradisi mencari kehidupan dan menyebabkan pelepasan karbon  karena penghancuran hutan lahan gambut. Hari ini kami meminta pemerintah untuk menghormati komitmennya pada dunia dengan membantu kami melindungi dan memulihkan kembali hutan ini demi  kelangsungan hidup anak-anak kami dan generasi masa depan," kata Deli Saputra, Ketua FMPSK.

Perusahaan seperti RAPP terus menghancurkan hutan dan gambut di sepanjang Sumatera di Kerumutan, Bukit Tigapuluh, Jambi dan Sumatera Selatan, dan hal itu menjadi penghalang dan tantangan atas target penurunan emisi yang telah di komitmenkan Presiden Yudhoyono. Oleh karenanya itu, penting bagi pemerintah Indonesia yang baru saja mengumumkan niatnya untuk melakukan moratorium dan menerapkannya di seluruh konsesi yang berada di lahan gambut dan pihak berwenang harus mencabut seluruh izin yang sudah ada dan secepatnya menghentikan perusakan hutan di sini dan sekarang.

Bagaimana pun, baru-baru ini, Menteri memperbolehkan RAPP kembali beroperasi di Semenanjung Kampar dan sekarang ini perusahaan tersebut tengah menghancurkan hutan gambut di bagian selatan Semenanjung Kampar. Dan hasilnya, sertifikat FSC Smartwood RAPP telah ditunda karena mereka tidak memenuhi persyaratan standar lingkungan dan sosial. Namun pemerintah belum mengambil tindakan.

Koordinator Jikalahari mengatakan, penghancuran hutan Semenanjung Kampar adalah ilegal karena berdasarkan hukum Indonesia No.26/2007 dan Peraturan Pemerintah No.26/2008, Semenanjung Kampar ditetapkan sebagai kawasan lindung. Dan Jikalahari mendesak pemerintah untuk memastikan penegakkan hukum dan mengambil tindakan untuk menghentikan penghancuran hutan yang terjadi. Jikalahari akan terus membantu masyarakat yang mempertahankan sumber kehidupan masyarakat Semenanjung Kampar dari aktifitas perusahaan yang menghancurkan.

"Jika pemerintah Presiden Yudhoyono mengambil tindakan tegas di Semenanjung Kampar dalam penerapan moratorium, ini akan menjadi sinyal yang jelas bagi Norwegia, yang sudah berkomitmen memberikan dana perlindungan hutan sebesar 1 miliar dolar Amerika, serta kepada negara pendonor potensial lainnya, dimana Indonesia serius menghentikan deforestasi, menurunkan emisi karbon dan menjamin sumber kehidupan masyarakat dan kekayaan keanekaragamana hayati," kata Zulfahmi