Amerika Serikat dan Indonesia, Selamatkan hutan, selamatkan iklim – pangkas emisi sekarang!

Berita - 20 Februari, 2009
Kepemimpinan yang kuat dari Amerika Serikat dan kemitraan yang dijalin dengan negara-negara berkembang seperti Indonesia, menjadi sangat penting untuk mencapai kesepakatan dalam pertemuan perubahan iklim PBB yang akan diselengarakan di Copenhagen, Denmark pada akhir tahun ini. Sebagai negara yang menduduki peringkat ke 2 dan 3 negara pengemisi gas rumahkaca di dunia, Amerika Serikat dan Indonesia mendapatkan kesempatan bersejarah untuk menunjukkan kepemimpinan yang tegas dan memastikan diterapkannya perlindungan iklim yang kuat demi keamanan ekonomi yang nyata dan berkelanjutan.

Foto kehancuran hutan di lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit ini diberikan kepada menteri luar negeri Amerika Serikat Hillary Clinton

Kami mencoba untuk mengirim desakan pesan kepada Presiden Susilo Yudhoyono sesaat sebelum pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton di Jakarta, untuk segera mengambil tindakan untuk menghindari bencana perubahan iklim dan menghentikan tingkat laju deforestasi. Kami menyampaikan pesan ini secara bersama untuk Presiden Yudhoyono dan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton di kedutaan besar Amerika Serikat dan Istana Presiden.

Petugas pengamanan kedutaan Amerika Serikat lebih membiarkan demonstrasi yang lebih militan dibandingkan aksi kami. Termasuk ketika bendera kebangsaan mereka dirusak. Padahal, Kepolisian Indonesia mengijinkan masyarakat untuk menyuarakan pendapat secara terbuka. Tetapi yang terjadi, ketika kami melakukan aksi secara damai dengan membentangkan spanduk kami yang bertuliskan "Selamatkan hutan, selamatkan Iklim, pangkas emisi sekarang" di depan Istana kepresidenan, mereka langsung menyuruh kami keluar dari area dan menyita spanduk kami. 

 

"Musim panas yang melelehkan Kutub Utara, badai yang semakin parah, semakin seringnya kemarau, kebakaran hutan dan lahan serta gelombang panas; semua dampak ini adalah tanda-tanda sistem iklim yang semakin kacau yang akan menjatuhkan tujuan-tujuan ekonomi dan pembangunan semua negara.

Waktu sudah semakin sempit. Dr. James Hansen, seorang ahli iklim dari NASA, baru-baru ini menyatakan bahwa dunia saat ini "dipastikan sedang menuju kehancuran". Jendela untuk menghindari kehancuran ini sangat sempit dan dengan cepat akan menutup. Dengan kepemimpinan yang tepat, kita bisa mengendalikan emisi gas rumahkaca global, menurunkan kecenderungannya dan menghindari dampak yang paling buruk."

-- Dikutip dari surat terbuka untuk Hillary Clinton dan Susilo Bambang Yudhoyono 

Aksi kami lebih sukses di depan kedutaan besar Amerika, dimana kami bisa membentangkan spanduk kami,  memberikan surat dan foto kebakaran hutan dan lahan gambut karena pembukaan hutan untuk kelapa sawit  di Riau. Tetapi kami tetap berkomitmen untuk tetap bisa menyampaikan pesan kami secara langsung kepada Hillary. Selama kurang lebih 2 jam kami mencari informasi dan berkejar-kejaran untuk mengetahui jalan mana yang akan di lintasi rombongan Hillary. Akhirnya kami mendapatkan waktu yang tepat, sehingga pada saat rombongan itu melintas pesan kami telah terpasang dengan baik dan ia pun dapat membaca pesan kami.

Tahun ini Indonesia akan melaksanakan pemilu untuk memilih para wakil rakyat baik daerah maupun tingkat nasional dan pemilihan presiden di bulan september. Indonesia adalah negara pengemisi gas rumah kaca tertinggi di dunia yang berasal dari penghancuran hutan. Kami berpikir bahwa sangat penting untuk Indonesia untuk segera mengurangi emisinya yang berasal dari penghancuran hutan adalah suatu tujuan kebijakan utama untuk para pemimpin partai dan calon presiden.

Presiden Yudhoyono membuat komitmen kepada masyarakat internasional bahwa Indonesia akan mengurangi emisi dari penghancuran hutan pada tahun 2009. Namun sebuah keputusan yang dibuat oleh Departemen Kehutanan dan Departemen Pertanian untuk melakukan pembukaan kawasan hutan dan lahan gambut untuk kertas dan kelapa sawit membuat komitmen yang Presiden Yudhoyono katakan menjadi sangat mustahil untuk dibuktikan. 

Memberikan izin untuk melakukan pembukaan lahan gambut adalah suatu kesalahan fatal bagi perlindungan iklim dan membuat Indonesia tetap pada peringkat ke-3 negara terpolusi di planet bumi kita ini. Dengan pemilu yang sudah dekat, keputusan  para menteri ini sangat mencurigakan seperti ingin menunjukkan kekuatan dari industri kertas dan kelapa sawit dengan mengorbankan masalah lingkungan hidup. Perubahan iklim adalah masalah global, dan dimerlukan tindakan global untuk mengatasinya. Ini berarti memangkas emisi besar-besaran bagi negara-negara maju seperti AS, dan pembentukan dana global untuk menghentikan deforestasi di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Selain itu, pembangunan ekonomi tidak harus mengorbankan masa depan dan hutan. Hutan yang berdiri adalah penyimpan karbon yang luarbiasa dan menawarkan banyak lagi kesempatan ekonomi saat berdiri daripada ditebang dan dibakar.

Greenpeace menyerukan kepada negara-negara industri seperti Amerika Serikat untuk mendukung penghentian deforestasi di negara berkembang seperti Indonesia sehingga dapat mengurangi emisi gas rumahkaca.

Hanya dengan tindakan nyata dari seluruh negara, kita dapat terhindar dari bencana perubahan iklim. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton dan Presiden Yudhoyono harus menunjukan kepemimpinan global ini. Presiden Yudhyono harus dapat mengendalikan para menterinya dan segera menyatakan moratorium pada konversi hutan dan lahan gambut. Hanya dengan itu maka Indonesia dapat merasakan manfaat dari bantuan internasional dalam hal pendanaan yang efektif dan keahlian dari penerapan moratorium.

Katakan Kepada Presiden Indonesia

Ayo, bergabung bersama kami untuk mendesak Presiden menetapkan secepatnya moratorium deforestasi!

Dukung kami

Yup, Greenpeace adalah organisasi kampanye independen. Dukungan finansial dari individu-individu seperti anda adalah tulang punggung untuk kampanye-kampanye Greenpeace

Kategori