Lambannya G-8 dalam memerangi perubahan iklim akan berdampak fatal pada warga pesisir Asia

Greenpeace menyerukan [R]evolusi Energi global

Berita - 7 Juli, 2008
Greenpeace menyerukan negara-negara G8 mengambil tindakan tegas memerangi perubahan iklim, dengan menggarisbawahi bahwa negara berkembang seperti Thailand akan menerima dampak akibat kelambanan negara-negara kaya di dunia ini. Para aktivis yang di atas kapal Greenpeace, Rainbow Warrior, membentangkan spanduk yang menyatakan “G8 Hentikan Perubahan Iklim – Laksanakan Revolusi Energi” di sebuah monumen putri duyung yang terkenal di pantai Samila, Songkhla; sebuah kawasan yang diperkirakan akan menerima dampak kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim.

Para aktivis yang di atas kapal Greenpeace, Rainbow Warrior, membentangkan spanduk yang menyatakan “G8 Hentikan Perubahan Iklim – Laksanakan Revolusi Energi” di sebuah monumen putri duyung yang terkenal di pantai Samila, Songkhla; sebuah kawasan yang diperkirakan akan menerima dampak kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim.

Para aktivis yang di atas kapal Greenpeace, Rainbow Warrior, membentangkan spanduk yang menyatakan “G8 Hentikan Perubahan Iklim – Laksanakan Revolusi Energi” di sebuah monumen putri duyung yang terkenal di pantai Samila, Songkhla; sebuah kawasan yang diperkirakan akan menerima dampak kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim.

Para aktivis yang di atas kapal Greenpeace, Rainbow Warrior, membentangkan spanduk yang menyatakan “G8 Hentikan Perubahan Iklim – Laksanakan Revolusi Energi” di sebuah monumen putri duyung yang terkenal di pantai Samila, Songkhla; sebuah kawasan yang diperkirakan akan menerima dampak kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim.

"Perubahan iklim, yang terutama disebabkan oleh negara-negara G8, merupakan ancaman terbesar yang dihadapi umat manusia. Lebih dari 80 persen emisi yang berada dalam atmosfer pagi ini dihasilkan oleh G8. Kini, negara-negara ini masih menyumbang lebih dari 40 persen emisi CO2 global kendati hanya dihuni oleh 13 persen populasi dunia. Negara berkembang yang akan merasakan akibat dari perubahan iklim. Para pemimpin G8 memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan komitmen yang jelas dan mengikat guna memerangi perubahan iklim," ujar Tara Buakamsri, Manajer Kampanye Greenpeace Asia Tenggara.

Bahkan perkiraan yang paling konservatif sekalipun mengatakan bahwa permukaan laut akan meningkat 40 cm pada akhir abad ke-21, dibandingkan tinggi muka air laut saat ini.dan diperkirakan jumlah warga pesisir yang menjadi korban banjir akan meningkat menjadi 94 juta orang dari 13 juta orang. Hampir 60% dari peningkatan jumlah tersebut akan berada di wilayah Asia Selatan, sementara 20% akan berada di wilayah Asia Tenggara, khususnya dari Thailand hingga Vietnam, termasuk juga Indonesia dan Filipina. (1)

KTT G8 didirikan pada tahun 1975 sebagai bentuk reaksi atas dampak ekonomi yang timbul akibat  harga minyak yang membumbung. Baru akhir-akhir ini perubahan iklim ditambahkan ke dalam agenda G8. Pada tahun 2000 G8 mengusulkan sebuah program perluasan energi terbarukan yang ambisius namun hal ini tidak pernah ditindaklanjuti.

"Dampak lingkungan dan ekonomi kenaikan harga minyak dan batubara serta kenyataan perubahan iklim yang tidak terelakkan menuntut adanya masa depan yang berbasis energi terbarukan sebagai satu-satunya cara mengurangi dampak terburuk perubahan iklim serta menjamin keamanan ekonomi,"

Mareika Britten

juru kampanye Greenpeace Internasional di atas Rainbow Warrior. 

Dukungan bagi batubara harus dihentikan karena 'batubara bersih' hanyalah mitos. Para pemimpin G8 dan Bank Dunia rencananya akan mengumumkan Dana Investasi Iklim (Climate Investment Fund) di Toyako. Inisiatif ini gagal mendefinisikan istilah 'teknologi bersih' yang yang disebut-sebut sebagai target penyaluran dana tersebut. Dengan demikian mereka menjadi bagian dari permasalahan dan bukan solusi; serta mungkin akan mensubsidi pilihan energi terburuk bagi dunia, yakni batubara. Memberi subsidi kepada batubara atas nama perlindungan iklim adalah hal yang tidak masuk akal dan penyaluran dana seperti itu ditentang oleh Grenpeace, masyarakat Asia serta kelompok masyarakat sipil lain.

Greenpeace menuntut para pemimpin G8 di Jepang untuk menahan kenaikan rata-rata suhu dunia serendah mungkin dari kenaikan 2 derajat Celcius suhu bumi sebelum Revolusi Industri. Negara maju harus memimpin proses ini dan mendemonstrasikan kesungguhan mereka untuk mengurangi 30% emisi pada tahun 2020 dan 80-90% emisi pada tahun 2050 dibandingkan dengan tahun 1990.

Greenpeace telah menunjukkan bahwa permintaan dunia akan energi dapat dipenuhi tanpa energi nuklir atau menggunakan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture and storage - CCS) bagi batubara: www.energyblueprint.info

Setelah keberhasilan kampanye di Selandia Baru dan Filipina, kapal Rainbow Warrior berada di Thailand sebagai ujung tombak pelayaran"Hentikan Penggunaan Batubara, Laksanakan [R]evolusi Energi" Greenpeace. Pelayaran ini bertujuan mempromosikan solusi guna menghentikan perubahan iklim - sebuah revolusi energi yang akan membuka pergeseran massif penggunaan energi terbarukan guna menjamin terwujudnya keamanan dan perdamaian.

1) (Wassmann et al., 2004). IPCC 2007, 4th Assessment Report WG2 Chapter 10 P. 484

Ikuti Perjalanan Rainbow Warior

Jadilah bagian dari perjalanan Rainbow Warior dengan click ke wibsite dan lihat bagaimana kamu bisa menjadi bagian dari kampanye ini.