Greenpeace menantang RSPO untuk berhenti menjadi tameng hijau anggota-anggotanya

mengentikan tanker pengapalan minyak kelapa sawit Sinar Mas di Dumai

Berita - 14 Nopember, 2008
Aktivis Greenpeace hari ini kembali mencegah pengapalan minyak sawit di sebuah kapal tanker, Isola Corallo, bertujuan Rotterdam di Dumai, pelabuhan minyak kelapa sawit terbesar di Indonesia. Greenpeace menyerukan kepada Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO)(1) yang akan bertemu di Bali minggu depan untuk segera mengambil tindakan terhadap anggotanya yang merusak hutan dan lahan gambut.

Kapal penunda diturunkan oleh pelabuhan dumai agar kapal Esperanza melepas kapal tanker 'Isola Corallo yang sedang melakukan bongkar muat 29000 metrik ton minyak kelapa sawit milik perusahaan Sinar Mas dengan tujuan Rotterdam.

Seorang aktivis Greenpeace menguncikan dirinya ke rantai jangkar kapal Isola Corallo guna mencegahnya merapat ke pelabuhan selama lebih dari 36 jam untuk mencegahnya bergerak. Kapal Greenpeace Esperanza kemudian masuk dan menempati dermaga pengapalan minyak kelapa sawit untuk mencegah kapal tanker Isola Corallo merapat dan mengisi muatannya. Akhirnya, kapal Esperanza dipaksa keluar dengan kapal-kapal tunda setelah 7 jam menempati dermaga untuk memberi ruang bagi kapal tanker tersebut merapat.

Kelompok Sinar Mas adalah perusahaan industri kelapa sawit terbesar di Indonesia dengan produksi 10% dari produksi nasional. Sinar Mas adalah anggota kunci RSPO, organisasi yang kemarin baru merayakan pengapalan pertama ke Eropa "minyak kelapa sawit ramah lingkungan". Kendati demikian, penelitian Greenpeace menunjukkan bahwa RSPO tidak lebih dari sekedar tameng agar perusahaan terlihat ramah lingkungan.

Perusahaan yang menerima sertifikasi RSPO - United Plantations, salah satu pemasok Nestlé dan Unilever - terlibat kegiatan deforestasi di lahan gambut Kalimantan yang rentan. Sinar Mas juga terlibat kegiatan deforestasi di tempat lain di Indonesia, termasuk Kalimantan dan Papua dan mempunyai rencana-rencana perluasan perkebunan yang agresif.

"Para pembeli minyak kelapa sawit harus membatalkan kontrak mereka dengan pemasok yang terus menerus melakukan pengrusakan hutan dan pembukaan lahan gambut.  Penghentian sementara (moratorium) semua kegiatan pembukaan hutan dan lahan gambut merupakan prasyarat sebelum mengklaim diproduksinya minyak kelapa sawit 'ramah lingkungan," kata Bustar Maitar, Juru Kampanye Greenpeace Asia Tenggara, "Minggu depan pelaku-pelaku industri kelapa sawit dunia akan bertemu di Bali dalam pertemuan RSPO keenam. Kami mengharapkan RSPO dapat mengawali dengan mengambil tindakan segera terhadap perusahaan-perusahaan seperti Sinar Mas dan United Plantations terus merusak hutan dan lahan gambut."

Sertifikasi RSPO menuntut pematuhan dan penaatan ketentuan-ketentuan dan standar pada tingkat perkebunan sebelum diberikannya sertifikat. , Namun deretan ketentuan dan standar ini tidak sepenuhnya melarang pembukaan hutan, bahkan di atas lahan gambut, yang merupakan langkah kunci dalam perang melawan perubahan iklim. Terutama karena pembukaan lahan, pengeringan dan pembakaran hutan-hutan gambut ini telah menempatkan Indonesia sebagai pengemisi gas rumah kaca ketiga terbesar di dunia (2). Kenyataannya, anggota-anggota RSPO tidak diwajibkan mengubah perilaku kerjanya, sampai mereka memasuki proses sertifikasi.

"Dengan laju pembukaan dan pembakaran hutan saat ini, hutan dataran rendah Indonesia  sebagian besar akan hilang dalam waktu 15 tahun mendatang (3), standar RSPO tidak memadai, dan dalam kerangka kerjanya yang bersifat sukarela RSPO tidak akan memecahkan masalah deforestasi di Asia Tenggara. Industri bersama dengan Pemerintah harus mengambil tindakan segera untuk melindungi hutan kita," tambah Bustar.

Greenpeace menyerukan Pemerintah Indonesia untuk secepatnya melaksanakan jeda atau moratorium terhadap semua bentuk konversi hutan, termasuk perluasan perkebunan kelapa sawit, industri penebangan dan bentuk-bentuk pendorong deforestasi lainnya.

(1) Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) atau Konferensi untuk Kelapa Sawit Berkelanjutan adalah asosiasi yang dibentuk oleh berbagai organisasi yang terlibat dalam rangkaian rantai penyedia minyak kelapa sawit. Tujuan organisasi ini adalah untuk "mempromosikan pengembangan dan penggunaan minyak kelapa sawit yang berkelanjutan dengan kerjasama di antara mata-mata rantai penyedia produksi dan dialog terbuka dengan stakeholder lainnya." (2) Lihat, misalnya: Hooijer, A, M Silvius, H Wösten, H and S Page (2006) PEAT-CO2, Assessment of CO2 emissions from drained peatlands in SE Asia Delft Hydraulics report Q3943 7 December 2006 www.wetlands.org/ckpp/publication.aspx?ID=f84f160f-d851-45c6-acc4-d67e78b39699 (3) Nellemann, C, L Miles, BP Kaltenborn, M Virtue, and H Ahlenius (Eds) (2007) The last stand of the orangutan - State of emergency: Illegal logging, fire and palm oil in Indonesia's national parks, United Nations Environment Programme
www.unep.org/grasp/docs/2007Jan-LastStand-of-Orangutan-report.pdf

Katakan Kepada Presiden Indonesia!

Ayo, bergabung bersama kami untuk mendesak Presiden menetapkan secepatnya moratorium deforestasi!

Dukung kami

Greenpeace adalah organisasi kampanye independen. Dukungan finansial dari individu-individu seperti anda adalah tulang punggung untuk kampanye-kampanye Greenpeace