Hentikan Ketergantungan Terhadap Batubara

Walhi dan Greenpeace menyerukan Revolusi Energi di Indonesia

Berita - 19 Oktober, 2010
Cirebon - Greenpeace, dan WALHI menyerukan kepada pemerintah Indonesia untuk meninggalkan rencana untuk membangun lebih banyak pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) bertenaga batubara dan mulai membangun masa depan yang memiliki tenaga energi bersih dari sumber-sumber energi terbarukan, pada peluncuran laporan “Batubara mematikan: Biaya tinggi untuk batubara murah, bagaimana rakyat Indonesia membayar mahal untuk bahanbakar terkotor di dunia.”

Para nelayan dari desa Waruwudur bersama dengan para aktivis Greenpeace melumuri diri mereka dengan debu “batubara”, membentangkan spanduk bertuliskan “batubara mematikan” di atas perahu-perahu nelayan di depan PLTU bertenaga batubara di Cirebon.

Polusi udara akibat dari pembakaran batubara merusak mata pencaharian, menurunkan panen dan memberi dampak buruk pada tangkapan ikan dan secara perlahan membunuh masyarakat. Batubara adalah kutukan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar tambang batubara dan di bawah bayang-bayang PLTU bertenaga batubara. Membakar batubara juga mempercepat perubahan iklim yang akan berdampak pada masyarakat seluruh negri. Indonesia adalah termasuk negara yang paling rentan dan yang paling tidak siap dalam menghadapi perubahan iklim

Laporan “Batubara mematikan: Biaya tinggi batubara murah, bagaimana rakyat Indonesia membayar mahal untuk bahanbakar terkotor di dunia” berisi testimoni-testimoni bagaimana tambang batubara dan PLTU bertenaga batubara secara drastis mempengaruhi kesehatan dan sumber mata pencaharian masyarakat yang tinggal di dekatnya. Kisah-kisah ini memaparkan konsekuensi gelap dari ekspansi batubara – polusi beracun, hilangnya mata pencaharian, tergusurnya masyarakat, gangguan kesehatan pada sistem pernafasan dan sistem syaraf, hujan asam, polusi asap dan menurunnya panen pertanian – hal-hal yang diabaikan pemerintah dan industri untuk mendapatkan listrik “murah”.

Laporan Batubara Mematikan

Batubara bisa saja tampak sebagai bahanbakar yang paling murah karena ketersediannya yang sangat besar. Namun, sejak dari penambangannya, pembakarannya sampai pembuangan limbahnya, dan di beberapa kasus, penggunaan kembalinya, batubara menyebabkan dampak yang sangat buruk pada lingkungan, kesehatan manusia dan kehidupan sosial dari masyarakat yang hidup dekat tambang, proyek pembangkit listrik dan situs pembuangan limbah. Selain emisi CO2-nya yang sangat besar ketika bahanbakar ini dibakar, batubara juga berdampak buruk pada ekosistem, dan mengkontaminasi persediaan air. Batubara mengemisi gas rumahkaca lain seperti metana, sulfur oksida dan nitrogen oksidan serta senyawa kimia beracun lainnya seperti arsenik dan merkuri yang dapat merusak kesehatan mental manusia dan perkembangan fisik.

Indonesia saat ini merupakan negara produsen batubara terbesar kelima di dunia dan merupakan eksportir batubara kedua terbesar didunia. Bukti-bukti kuat akibat serius dari penggunaan batubara jelas terlihat pada propinsi-propinsi batubara di negri ini.  Penambangan batubara menyebabkan kerusakan parah pada kehidupan masyarakat adat dan di ibukota Kalimantan Timur, Samarinda, dimana konsesi pertambangan batubara menguasai 70% wilayahnya. Tambang batubara dibuka persis di samping desa-desa dan limbah dari tambang yang terbengkalai tersebar di seluruh kota dengan danau-danau beracunnya. Di Cirebon dan Cilacap, PLTU bertenaga batubara mengakibatkan masyarakat kehilangan mata pencahariannya, dan operasi PLTU selanjutnya akan membahayakan kesehatan mereka.

Saat ini, Indonesia berencana untuk meningkatkan pembangkitan listrik dari batubara sebesar 34,4% pada tahun 2025. Rencana ini adalah bagian dari usaha mengurangi penggunaan minyak bumi dan bergeser ke batubara dan gas, dengan target 10.000 MW dari batubara. Tapi melalui program awal yang seharusnya dicapai pada tahun 2009 dengan rampungnya 35 PLTU bertenaga batubara — 10 diantaranya di Pulau Jawa, dan selebihnya di pulau-pulau lain – kurang dari 60% dari target ini telah tercapai.

Belum terlambat! Indonesia tidak membutuhkan batubara lagi, yang diperlukan adalah sebuah revolusi energi

Energi terbarukan dikombinasi dengan efisiensi energi dapat memangkas emisi CO2 sebagaimana komitmen Presiden Yudhoyono untuk mengurangi emisi gas rumahkaca. Indonesia memiliki sumberdaya surya, angin dan geotermal yang melimpah untuk memenuhi kebutuhan energinya. Jika pemerintah Indonesia meninggalkan rencana energi kotornya, maka lebih dari 40% kebutuhan energi utama akan dapat dipenuhi melalui sumber-sumber terbarukan. Hal ini tidak hanya akan menghentikan kerusakan pada kesehatan manusia dan kemasyarakatan, serta degradasi ekologi dan dampak buruk perubahan iklim, ini akan menjadi kontribusi penting bagi masa depan anak-anak dan cucu kita.

Kategori