Pemerintah Jerman Menyediakan dana untuk “Forest for Climate”

Berita - 28 Mei, 2008
Aktivis Greenpeace menyalakan kobaran api di bonggol pohon yang berasal dari hutan Amazon, di sungai Rhine, Bonn Jerman. Bonggol pohon tersebut di bawa bersama sepuluh kapal motor dengan spanduk yang bertuliskan: Save The Forests: (Selamatkan Hutan) dengan tujuh bahasa yang berbeda.

Aktivis Greenpeace menyalakan kobaran api di bonggol pohon yang berasal dari hutan Amazon, di sungai Rhine, Bonn Jerman. Bonggol pohon tersebut di bawa bersama sepuluh kapal motor dengan spanduk yang bertuliskan: Save The Forests: (Selamatkan Hutan) dengan tujuh bahasa yang berbeda.

Bonn, Internasional - Hari ini, di saat Perserikatan Bangsa-Bangsa melakukan Konferensi Keanekaragaman Hayati, yang di laksanakan di Bonn, Perdana Menteri (PM)  Jerman Angela Merkel, bersedia meyediakan dana sebesar 500 juta Euro untuk empat tahun mendatang yang bertujuan membantu melindungi hutan-hutan di dunia. Dia juga mengumumkan bahwa pada tahun 2013 akan terus  meningkatkan penyediaan dana sebesar 500 juta Euro setiap tahun.

Untuk mengingatkan PM. Merkel betapa penting melakukan penyelamatan hutan yang tersisa di dunia, pada pagi ini aktivis Greenpeace melakukan aksi menyalakan bonggol kayu setinggi lima meter  yang berasal dari hutan Amazon, di sungai Rhine di Bonn. Tepat berada di dekat tempat berlangsungnya acara konferensi tersebut. Limapuluh orang aktivis Greenpeace dengan sepuluh kapal motor membentangkan spanduk bertuliskan : "Forests are Burning.Save the Climate" (Hutan  Terbakar, Selamatkan Iklim).

Setelah itu Merkel tiba untuk bergabung dengan para pemimpin dunia menghadiri pertemuan tingkat menteri pada Konferensi Keanekaragaman Hayati di Bonn. Perwakilan dari 191 negara - termasuk perwakilan pemerintah Indonesia - berupaya menyamakan pendapat tentang bagaimana mereka dapat melakukan penyelamatan pada tumbuhan, hewan dan sumber daya alam lainnya serta menyelamatkan iklim.

Pemerintah Jerman mengumumkan dukungan untuk penyelamatan hutan dengan mengumumkan bantuan dana tersebut tepat seminggu setelah Greenpeace meyerukan negara-negara G8, termasuk negara Jerman, untuk lebih memberikan dukungan dana untuk penyelamatan hutan. Cara ini ditempuh untuk membangun rasa percaya bahwa negara-negara tersebut memang serius mencegah percepatan perubahan iklim.

"Pemerintah Indonesia seharusnya merespon positif prakrasa pemerintah Jerman dengan mendeklarasikan moratorium penebangan hutan dan alih fungsi lahan gambut di Indonesia. Hal itu penting mengingat Indonesia adalah negara dengan laju deforestasi tercepat di dunia dan saat yang sama memiliki potensi besar menerima dampak perubahan iklim," ujar Bustar Maitar Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.

Greenpeace menganjurkan dukungan dana tersebut dapat menjadi acuan bagi suatu keputusan yang mengikat dalam pendanaan global yang dapat digunakan untuk mengurangi deforestasi. Minggu lalu Greenpeace meluncurkan proposal terbaru berjudul "Forest for Climate" pada saat menyelenggarakan jumpa pers di Bonn. Konsep di balik proposal ini sangat sederhana. Negara kaya, yang mempunyai catatan sebagai penyumbang emisi terbesar dan merupakan penyebab meningkatnya laju perubahan iklim, harus membayar ganti rugi kepada lembaga PBB. Dana tersebut dapat digunakan untuk membantu negara-negara berkembang yang sedang mempertahankan serta menyelamatkan hutannya. Dengan menggunakan sistem ini sebagai dana bantuan, diharapkan dapat membantu ekonomi di negara berkembang seperti Brasil dan Indonesia guna menghentikan deforestasi. 

Greenpeace berharap mekanisme ini menjadi bagian dari perjanjian iklim global Kyoto di tahap selanjutnya menjelang kesepakatan tersebut berakhir di 2012

Tentu kita tidak bisa menunggu tindakan pemerintah empat tahun mendatang untuk mencegah deforestasi. Deforestasi bertanggungjawab atas kenaikan 15%  gas rumah kaca secara global - ini melebihi dari seluruh sektor trasportasi. Jika kita berharap dapat mencegah perubahan iklim, tindakan untuk menghentikan deforestasi harus dilakukan sekarang juga.

"Pendanaan internasional untuk mengurangi laju deforestasi harus segera diimplementasikan, bukan sekedar komitmen untuk menahan laju deforestasi pada hutan-hutan tua yang masih tersisa di Indonesia, khususnya di Papua. Hasil kongkret upaya mengurangi laju deforestasi harus menjadi bagian dari mekanisme pendanaan internasional tersebut." lanjut Bustar Maitar

Untuk itulah Greenepace menayakan ini kepada pemerintah Jerman minggu lalu, dalam kedudukannya sebagai tuan rumah konferensi PBB untuk Keanekaragaman Hayati. Greenpeace menyerukan pemerintah Jerman untuk menyediakan dana sebesar 2 milliyar Euro per tahun  hingga tahun 2012 untuk mengurangi permasalahan deforestasi. Hal ini penting untuk menunjukkan kepada negara-negara pemilik hutan agar mempersiapkan diri secepatnya.

Norwegia baru-baru ini mengambil sikap untuk memberikan dana sebesar dua milyar (Euro atau Dollar AS?) hingga lima tahun men datang. Namun jika hari ini pemerintah Jeman tidak dapat bersikap seperti yang diharakan Greenpeace, paling tidak dana tersebut harus mempunyai jalur yang tepat. Saat ini, Greenpeace berharap negara anggota G8 lain menggikuti komitmen pemerintah Jerman

Greenpeace memperkirakan antara 20-27 miliyar Euro setiap tahunnya dibutuhkan untuk menghentikan deforestasi, melindungi flora dan fauna senta menjamin hak-hak dasar masyarakat yang hidup di hutan.

Pemerintah dari beberapa daerah di Indonesia telah menyatakan kesungguhannya untuk mengurangi dan menahan laju deforestasi di daerah masing-masing. Sikap yang cukup kuat datang dari pemerintah Papua yang merupakan wilayah dengan hutan tersisa terbesar di Indonesia. Kesungguhan pemerintah Papua diumumkan secara terbuka oleh Gubernur Barnabas Suebu pada saat menjadi pembicara pada peluncuran proposal Tropical Deforestation Reduction Mecanism (TDERM) pada Konfrensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim (UNFCCC) Desember tahun lalu. Kesungguhan pemerintah Papua tersebut setidaknya sudah mulai diimplementasikan dengan melakukan pelarangan keluarnya kayu bulat dari pulau Papua.

Tag