Greenpeace Persembahkan Piala kepada Pemimpin Dunia Penyebab Kegagalan Iklim

Berita - 22 Januari, 2010
Lebih dari 75 aktivis Greenpeace dari Thailand, Indonesia dan Filipina hari ini menggelar aksi di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Bangkok, mengutuk digagalkannya negosiasi iklim di Kopenhagen oleh beberapa negara yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

Perwakilan kedutaan besar Amerika Serikat di Bangkok menerima piala "Juara Karbon Dioksida" yang di persembahkan aktivis Greenpeace yang meniru Presiden Barack Obama bersama 75 aktivis dari Indonesia, Thailand dan Filipina. Greenpeace memberikan penghargaan kepada Amerika Serikat, Kanada dan Australia atas kegagalan mereka di Kopenhagen

Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara, Von Hernandez menyerahkan Piala "juara karbon dioksida" kepada aktivis yang meniru Presiden Barack Obama. Obama mengalahkan perdana menteri Kanada, Stephen Harper dan perdana menteri Australia Kevin Rudd yang juga menerima mendali "juara karbon Dioksida" karena telah gagal pada perundingan perubahaan iklim di Kopenhagen.

Seorang aktivis Greenpeace meniru presiden Amerika Barrack Obama mengangkat piala "Juara Karbon Dioksida" di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Bangkok. Obama berada di posisi pertama mengalahkan Perdana Menteri Kanada Stephen Harper dan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd yang menerima "Medali aib"karena kegagalan ketiganya di Kopenhagen

Dalam aksi ini para aktivis Greenpeace mempersembahkan Piala Karbon Dioksida (CO2) kepada Presiden Amerika Barrack Obama dan medali áib' kepada Perdana Menteri Kanada Stephen Harper dan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd sebagai penanda kegagalan mereka di Kopenhagen.

Dalam perdebatan alot di malam terakhir konferensi iklim, pemerintah Amerika Serikat menyetujui sesuatu yang disebut Copenhagen Accord (Kesepakatan Kopenhagen), yang sampai saat ini masih menjadi deklarasi politik, belum diadopsi menjadi hasil formal konferensi Kopenhagen.

"Copenhagen Accord belum menjadi kesepakatan mengikat bagi jutaan orang seperti yang diharapkan semuanya di pertemuan Kopenhagen, dan harus dilihat sebagai deklarasi politik yang lemah, di saat negara-negara mengetahui bahwa mereka harus menjaga kenaikan temperatur di bawah dua derajat celsius," ujar Von Hernandez, Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara.

Äccord itu merugikan masyarakat Asia Tenggara, kawasan yang paling rentan dan paling tidak siap menghadapi perubahan iklim.

Accord itu menyebutkan tujuan "menghindari kenaikan temperatur di bawah dua derajat celsius". Meski demikian, sebuah catatan rahasia dari Sekretariat Konvensi Iklim PBB memperlihatkan bahwa kesepakatan yang diambil negara-negara itu akan menyebabkan kenaikan temperatur hingga tiga derajat celsius, yang melebihi batas aman seperti yang diindikasikan oleh semua penelitian.

Untuk menghindari bencana perubahan iklim, Greenpeace mendesak negara industri maju untuk menurunkan emisi hingga 40% dari level 1990 pada 2020 dan negara-negara berkembang untuk menurunkan emisi mereka hingga 30%.

"Greenpeace mendesak semua negara untuk meneruskan negosiasi menuju kesepakatan yang ambisius, adil dan mengikat di pertemuan Meksiko akhir tahun ini," ujar Bustar Maitar, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.

Pekerjaan harus dimulai untuk memenuhi ini. Atau Meksiko beresiko mengulangi kegagalan Kopenhagen.

Greenpeace mendesak:

1) Pemerintahan menyepakati dilanjutkannya Protokol Kyoto pada periode kedua dan mengadopsi protokol kedua berisi penurunan emisi oleh negara maju dan aksi mitigasi oleh negara berkembang oleh COP 16, di pertemuan Meksiko 29 November 2010 mendatang.

2)  Negara maju sebagai sebuah kelompok, mengajukan komitmen mengurangi emisi paling tidak 40% di bawah level 1990 pada 2020, paling tidak sepertiganya untuk memenuhi kebutuhan domestik.

3)  Negara maju untuk menyediakan dana mencukupi, paling tidak 140 miliar US Dollar per tahun, untuk menyokong program energi bersih dan mitigasi lain, perlindungan hutan serta adaptasi perubahan iklim di negara berkembang.

4)  Negara berkembang untuk menyusun aksi mitigasi dalam rangka mencapai 15-30% deviasi dari kegiatan sehari-hari penyebab emisi pada 2020. Dari semua pengurangan emisi ini, negara berkembang akan mengimplementasikan harga nol dan negatif yang bisa dicapai tanpa bantuan eksternal, sementara negara maju membantu di bidang lain.

5)  Semua negara menyediakan mekanisme pendanaan untuk menghentikan laju deforestasi dan emisi lain di negara berkembang pada 2020, dan mencapai nol deforestasi pada 2015 di wilayah yang menjadi prioritas seperti Amazon, Kongo, Hutan Tropis Indonesia dan Papua New Guinea. Pengurangan emisi ini harus menjadi penambahan dari pengurangan emisi yang sudah termasuk dalam paragraf dua.

Dukung Kami

Greenpeace adalah organisasi kampanye independen. Dukungan finansial dari individu-individu seperti anda adalah tulang punggung untuk kampanye-kampanye Greenpeace