Raksasa Pulp and Paper Terus Menghancurkan Hutan Alam dan Gambut

Mengabaikan Moratorium yang Bertujuan Mengatasi Perubahan Iklim

Berita - 6 Juli, 2010
Divisi pulp and paper Sinar Mas, Asia Pulp and Paper (APP), masih terus melakukan perusakan hutan, membawa keanekaragaman hayati penting ke arah kepunahan, dan jika terus dibiarkan, akan mengancam upaya Indonesia untuk mengatasi perubahan iklim. Demikian diungkap dalam sebuah laporan baru Greenpeace yang diluncurkan hari ini.

Raksasa Pulp and Paper Terus Merusak

'Bagaimana Sinar Mas Meluluhkan Bumi (How Sinar Mas is Pulping the Planet') memperlihatkan bagaimana perusahaan-perusahaan besar internasional ikut bertanggung jawab dalam perusakan hutan alam dan lahan gambut kaya karbon Indonesia dengan berhubungan bisnis dengan APP (2), anak perusahaan Sinar Mas.

"Komitmen keberlanjutan Sinar Mas hanya terjadi di atas kertas dan beberapa merek paling terkenal di dunia ikut meluluhkan bumi dengan membeli produk dari mereka," ujar Bustar Maitar, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.

Investigasi baru ini juga menggaris bawahi bagaimana upaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengurangi emisi gas rumah kaca Indonesia dari deforestasi di bawah kesepakatan senilai US$ 1 miliar dengan Norwegia, bisa sia-sia jika moratorium (penghentian sementara) penebangan hutan tidak memasukkan penghancuran hutan dan lahan gambut yang sudah dan sedang terjadi saat ini.

"Jutaan hektar hutan - termasuk ratusan ribu hektar yang berada di bawah kekuasaan Sinar Mas - tidak termasuk dalam kesepakatan dengan Norwegia. Celah ini bisa membuat sia-sia semua upaya untuk mengurangi emisi Indonesia. Presiden Yudhoyono harus segera melakukan implementasi moratorium pada semua perusakan hutan dan memastikan perlindungan menyeluruh terhadap lahan gambut. Hanya dengan cara itu kita bisa memastikan Indonesia bisa menurunkan emisi gas rumah kaca," ujar Maitar.

"Greenpeace menyerukan semua perusahaan, seperti Hypermarket dan KFC, untuk berhenti berbisnis dengan Sinar Mas segera, dan memastikan tidak ada lagi hubungan dengan perusakan hutan dalam rantai produksi mereka. (3) Juga mendesak mereka untuk mengumumkan kepada publik dukungan kepada pemerintah Indonesia dalam perlindungan menyeluruh lahan gambut dan penghentian segala perusakan hutan," imbuh Maitar.

Beberapa perusahaan terkemuka telah menanggapi bukti-bukti dari Greenpeace yang melaporkan praktek ilegal dan merusak lingkungan dari Sinar Mas Group di Indonesia dan membatalkan kontrak mereka dengan perusahaan minyak sawit Indonesia dan kertas raksasa (3). Hari ini, Carrefour membenarkan bahwa ia telah berhenti membeli produk APP untuk merek sendiri dan Tesco telah mengumumkan bahwa mereka akan melakukan hal yang sama pada akhir tahun. Selain itu, Kraft telah mengkonfirmasi bahwa telah menghentikan pembelian kertas APP dan kemasan, (4) sementara Kimberly-Clark, Nestle dan Unilever sedang menerapkan kebijakan baru yang juga akan mengesampingkan pasokan dari APP, kecuali jika perusahaan dan pemasoknya membuat perubahan besar. Unilever, Kraft, dan Nestle juga menghentikan kontrak dengan Golden Agri Resources (GAR), anak perusahaan minyak sawit Sinar Mas grup, setelah kampanye Greenpeace baru-baru ini. (5)

Greenpeace telah melakukan investigasi di dua kawasan hutan hujan penting di Sumatra. Kawasan Hutan Bukit Tigapuluh adalah perlindungan terakhir bagi Harimau Sumatra yang terancam punah serta orangutan, dan kawasan kaya karbon Kerumutan yang merupakan pertahanan penting dalam upaya mengatasi perubahan iklim; banyak lahan gambut di sana dalamnya lebih dari tiga meter yang menurut hukum Indonesia ilegal untuk dihancurkan. APP menggunakan kayu dari hutan alam ini untuk mensuplai kebutuhan pabrik mereka di Sumatra, dimana produknya diekspor ke seluruh dunia.

"Sinar Mas mengoperasikan model bisnis mereka dengan penghancuran hutan alam berharga kita yang masih tersisa, membuat Indonesia berada di posisi ketiga penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Perusahaan global dan pemerintah Indonesia harus melakukan aksi segera untuk menyelamatkan masa depan hutan alam kita dan spesies serta masyarakat yang bergantung pada hutan," pungkas Maitar.

(1) Greenpeace report "How Sinar Mas is Pulping the Planet", July 2010 http://www.greenpeace.org/international/en/publications/reports/SinarMas-APP (2) APP mempunyai fasilitas besar di Indonesia dan China serta berekspansi ke Australia, Kanada dan Amerika Serikat. APP punya jaringan penjualan di Amerika Serikat, Inggris dan Spanyol. (3) Beberapa perusahaan besar termasuk Staples, Office Depot dan Woolworths (Australia) telah membatalkan kontrak dengan Sinar Mas dengan alasan praktek perusakan lingkungan. Sementara Unilever, Kraft, dan Nestle menghentikan kontrak menyusul kampanye Greenpeace. (4) Surat dari Kraft untuk Greenpeace di Inggris, 1 July 2010. (5) Sejumlah perusahaan besar termasuk Staples, Office Depot dan Woolworths (Australia) telah menghentikan kontrak dengan Sinar Mas karena praktek-praktek lingkungan yang merusak.

Ringkasan Laporan 'Bagaimana Sinar Mas Meluluhkan Bumi'

Laporan Investigasi terbaru dari Greenpeace memperlihatkan bagaimana perusahaan ternama seperti Walmart, Auchan dan KFC turut menyumbang dalam pecepatan perubahan iklim, kepunahan satwa sepert macan sumatra dan orang-utan