Stop Penghancuran Hutan Stop Penghancuran Iklim

Berita - 2 September, 2008
Greenpeace melakukan pelayaran untuk perlindungan hutan dan iklim dengan sambutan yang luar biasa di Papua Nugini. Kapal Greenpeace, Esperanza akan melakukan pelayaran di beberapa wilayah untuk melindungi hutan dan memperlihatkan betapa kerusakan hutan akan sangat mempengaruhi perubahan iklim.

Para awak Kapal Greenpeace Esperanza, mendapat sambutan di pelabuhan Port Moresby, Papua Nugini

Suara gendang dan lagu-lagu tradisional bersautan mengiringi Kapal Esperanza yang berlabuh di pelabuhan Tropical heat, Port Morseby. Para awak kapal disambut dengan tarian tradisonal suku Huli, Kairuku dan tarian Oro yaitu tarian manusia lumpur yang berasal dari dataran pantai dan pegunungan. Para penari dengan berbusana tradisional yang berasal dari serat pohon kayu manis dan daun pandan, dedaunan, bulu-bulu burung  dan lumpur. 

Beberapa foto kedatangan Esperanza 

Masyarakat adat adalah masyarakat  mayoritas di dataran Papua Nugini(PNG). Mereka mempunyai keanekaragaman budaya yang  sangat luar biasa dengan lebih dari 800 bahasa daerah yang ada. Mereka mempunyai kepercayaan tinggi terhadap hutan mereka, yang merupakan rumah dimana mereka tinggal, tempat mencari kebutuhan hidup, obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan air. Tetapi mereka kehilangan semuanya karena keresakahan perusahaan penebangan kayu  

Penebangan di Hutan 

Kerusakan hutan surgawi yang ada di Indonesia dan Papua Nugini mengalami kerusakaan lebih cepat dibandingan dengan hutan-hutan lain di dunia. Kerusakan hutan juga membinasakan masyarakat, budaya dan keaneka ragaman hayati yang ada.   

Beberapa Testimoni dari hutan(Versi: Inggris) 

Penggundulan hutan telah menyumbang 20% emisi gas rumah kaca (GRK) setiap tahunnya, Penyebab perubahan iklim. Hutan tropis dapat menangkap karbon di tanah dan pepohonan. Seperti spon/busa mereka menyerap karbon dioksida yang dilepaskan ketika manusia membakar bahan bakar fosil untuk energi. 

Kita harus menjaga luasan hutan untuk "meredam" emisi gas rumah kaca (GRK) dan melawan perubahan iklim. 

Pelayaran "Forest for Climate" Greenpeace

Kapal Esperanza dengan membawa spanduk bertuliskan "Banisim bus abrusim klaimet senis" bahasa Pidgin (sebutan untuk bahasa Papua Nugini) artinya "Stop Penghancuran hutan stop Penghancuran iklim" 

Greenpeace akan melakukan pelayaran di wilayah hutan surgawi, dan akan mempertanyakan pemerintah untuk melakukan  STOP Pengundulan Hutan di tahun 2015  

Pada saat kedatangan Esperanza di Port Moresby, langsung di sambut oleh Gubernur Powes Pakop, yang memuji Greenpeace dengan mengatakan Esperanza membawa harapan untuk Papua Nugini. Beliau menekankan bahwa dampak dari perubahan iklim akan menjadi suatu penderitaan, dan menegaskan " Saatnya untuk bertindak, Kita tidak perlu menunggu Perjanjian Kyoto untuk melakukan sesuatu"

Dukung Kami

Pendanaan Greenpeace Tidak berasal dari Pemerintah atau perusahaan tetapi berasal dari Individu-individu seperti anda

Kategori