Belajar dari Chernobyl dan Fukushima, Hentikan Ilusi Berbahaya Membangun PLTN di Indonesia

Siaran Pers - 14 September, 2011
Greenpeace bekerja sama dengan Galeri Soemardja Institut Teknologi Bandung (ITB), hari ini di Bandung menyelenggarakan diskusi nuklir yang bertajuk “Belajar dari Chernobyl dan Fukushima, PLTN solusi atau masalah bagi Indonesia?”. Diskusi ini menghadirkan pembicara KH. Nuruddin Amin (Gus Nung), Ketua PC Nahdlatul Ulama (NU) Jepara, sekaligus Direktur Muria Institute, kelompok anti nuklir lokal yang menolak rencana pemerintah untuk membangun PLTN di Semenanjung Muria.

Diskusi ini merupakan rangkaian dari pameran foto mengenai dampak bencana nuklir yang terjadi di Chernobyl 25 tahun silam. Pameran foto bertajuk:  “Certificate no. 000358/ 25 TAHUN SETELAH CHERNOBYL-Dampak berkelanjutan petaka Nuklir di Rusia, Ukraina, Belarusia dan Kazakhstan” berlangsung di Galeri Soemardja ITB 11 sampai 28 September 2011.

“Pameran ini bukan hanya merekam sisi negatif dari radiasi nuklir bagi umat manusia, tetapi juga memiliki kekuatan inspiratif bagi peradaban umat manusia,”  kata Aminudin Siregar, Direktur Galeri Soemardja ITB.

Sementara itu, KH. Nuruddin Amin, Ketua PCNU Jepara yang baru saja pulang dari menghadiri No Nuke Asia Forum di Jepang menyatakan: “Apa yang  terjadi  di Fukushima dan Chernobyl, seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah Indonesia bahwa dengan melanjutkan ilusi berbahaya membangun PLTN di negeri cincin api ini, sama artinya dengan menghadapkan masyarakat pada risiko mematikan dari energi berbahaya ini.”

25 tahun setelah bencana nuklir terburuk sepanjang sejarah dunia di Chernobyl, Ukraina, krisis nuklir Fukushima yang dipicu oleh gempa dan tsunami Maret lalu, kembali mengingatkan  umat manusia pada risiko berbahaya dan mematikan yang melekat pada energi nuklir.

Di Indonesia,  beberapa waktu lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah menyatakan komitmennya tidak akan membangun PLTN sebelum memaksimalkan potensi energi lain. Negara-negara maju seperti Jepang, Jerman dan Swiss telah memutuskan untuk menghentikan PLTN. Di Asia Tenggara, pemerintah Thailand dan Filipina juga telah menyatakan bahwa PLTN bukan jawaban yang benar dalam memenuhi kebutuhan energi masyarakatnya. Ironisnya, beberapa badan pemerintah di Indonesia masih saja tanpa rasa malu mempromosikan PLTN.

“Presiden SBY beserta seluruh jajarannya harus segera menghentikan ilusi membangun PLTN Indonesia,  meneruskan ilusi ini selain berbahaya juga membuang waktu dan tenaga yang seharusnya dapat dialihkan untuk mengembangkan pembangkit listrik dari sumber-sumber energi terbarukan” Kata Arif Fiyanto, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara.

“Masa depan Indonesia adalah masa depan yang aman dan bersih dengan sumber energi terbarukan ; kita hanya butuh keberanian untuk mewujudkan visi ini menjadi aksi nyata”  Kata Arif.

Kontak:

Arif Fiyanto, Jurukampanye iklim dan energi Greenpeace, 0811-1805373
Aminudin Siregar, Direktur Galeri Soemardja ITB, 0816-4870890
Nurudin Amin (Gus nung), Ketua PCNU Jepara, 0811-282111