Gerakan Anti PLTN Indonesia Mengungkap “Kebohongan Publik Promotor PLTN di Indonesia

Dalam Peringatan Bencana Chernobyl, Greenpeace Menyerukan Pemerintah Indonesia Untuk Menghentikan Rencana Pembangunan PLTN

Siaran Pers - 26 April, 2011
Greenpeace hari ini menandai peringatan bencana nuklir Chernobyl ke-25 dengan seruan kepada pemerintah Asia Tenggara untuk meninggalkan rencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di kawasan ini demi memastikan keselamatan masyarakatnya. Greenpeace juga menyerukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk berinvestasi besar-besaran kepada efisiensi energi dan energi terbarukan yang bersih dan aman guna memenuhi kebutuhan energi Indonesia dibanding batubara kotor dan energi nuklir berbahaya.

Dalam acara hari ini, Greenpeace yang tergabung dalam Gerakan Anti PLTN Indonesia bersama Walhi, IESR, Masyarakat Rekso Bumi dan para ahli nuklir meluncurkan laporan “Kebohongan Publik Promotor PLTN di Indonesia” untuk mengungkap kampanye promotor yang bertujuan menciptakan penerimaan publik terhadap energi nuklir, dan mengadukan fakta-fakta itu ke Rumah Pengaduan Kebohongan Publik di Jakarta.

 “Chernobyl merupakan insiden nuklir sipil terburuk di dunia, tetapi bencana yang masih tak menentu di Fukushima, Jepang, membuka mata kita bahwa tidak ada satu pun teknologi terbaik atau budaya keselamatan yang bisa memastikan sebuah negara dan rakyatnya akan bebas dari ancaman bahaya inheren PLTN. Seperti di Chernobyl, insiden Fukushima memperlihatkan bahwa kita tidak bisa mengontrol atau mengatur energi nuklir dan dampak berbahayanya,” ujar Arif Fiyanto, Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara.

 Seperempat abad setelah Chernobyl, situasi sekitar reaktor Chernobyl hanya sedikit lebih baik dibanding 25 tahun lalu. Kontaminasi meluas dan dampak kesehatan masih mengancam masyarakat. Dan meski teknologi nuklir makin modern, resiko bahaya teknologi nuklir masih sama: kegagalan teknologi yang tidak terduga, kesalahan manusia (operator), standar keselamatan yang rendah terkait tekanan politik dan ekonomi, kurangnya transparansi, dan bencana alam.

 Anehnya, para promotor PLTN di Indonesia tetap mengabaikan semua peringatan jelas ini dan terus menerus mengajak publik untuk meremehkan resiko PLTN. Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) terus menggunakan uang rakyat Indonesia pembayar pajak untuk melakukan kampanye promosi besar-besaran untuk menciptakan penerimaan publik, menggunakan argumen-argumen salah. Studi kelayakan lokasi PLTN di Pulau Bangka telah menjadi rencana Gubernur tahun ini. Padahal, lokasi yang diajukan pernah menjadi episentrum gempa bumi berkekuatan 4,9 skala richter pada 2007.

Meski demikian, masyarakat Indonesia terus melakukan penolakan kuat, termasuk dari Nahdlatul Ulama Jepara dan Jawa Timur yang mengeluarkan fatwa bahwa tenaga nuklir adalah haram. Baru-baru ini, merespon krisis nuklir di Fukushima, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama juga menyatakan menolak pembangunan PLTN. Di tengah semua itu, bersama fakta Indonesia dan negara-negara ASEAN lain berada di lokasi rentan bencana alam, terletak di cincin api Pasifik dan secara umum masih kurang siap, hingga saat ini pemerintah Indonesia belum meninggalkan rencana pembangunan PLTN.

 Bencana Chernobyl hingga saat ini terus menggerogoti Ukraina dan negara Eropa lainnya jutaan Euro per tahun, dan dampaknya diperkirakan mencapai 350 miliar Euro (sekitar Rp43 triliun). Bencana itu juga mengkontaminasi antara 125.000 hingga 150.000 kilometer persegi kawasan (setara luas pulau Jawa) di Belarusia, Rusia dan Ukraina. Hasil penelitian Greenpeace memperkirakan bencana ini telah menimbulkan sekitar 270.000 kasus kanker dan 93.000 kasus kanker fatal.

Greenpeace percaya demi memastikan masa depan yang lebih baik dan aman, pemerintah harus memilih energi terbarukan dibanding PLTN. Greenpeace terus menerus mengeluarkan argumen bahwa energi terbarukan mempunyai potensi memenuhi kebutuhan energi masa depan. Lewat skenario [R]evolusi Energi, Greenpeace memperlihatkan bagaimana –dipadu dengan skema efisiensi energi—energi terbarukan bisa memenuhi 95 persen kebutuhan listrik dunia pada 2050. Penelitian lain juga memprediksi hal serupa. Misalnya penelitian PricewaterhouseCooper, memprediksi pada 2050 negara-negara Eropa dan Afrika Utara bisa memenuhi kebutuhan listriknya 100% dari energi terbarukan.

Greenpeace adalah organisasi kampanye global independen yang beraksi untuk mengubah sikap dan perilaku, untuk melindungi dan menjaga lingkungan dan mempromosikan perdamaian.

Kontak:
Arif Fiyanto, Team Leader Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara, 08111 805 373
Hikmat Soeriatanuwijaya, Jurukampanye Media Greenpeace Asia Tenggara, 08111 805 394

Catatan Redaksi: 
Untuk mengunduh Laporan “Kebohongan Publik Promotor PLTN di Indonesia”, silahkan kunjungi www.greenpeace.org/seasia/id/press/reports/Sesat-Pikir-Kebohongan-Para-Promotor-PLTN/