Greenpeace dan Masyarakat Citarum Bekerjasama dalam Melaporkan Pencemaran Air

Siaran Pers - 12 Nopember, 2011
Bandung, 12 November 2011- Hari ini lima puluh aktivis dan supporter Greenpeace mengadakan kegiatan Workshop Citizen Journalism bersama dengan komunitas Elingan yang tinggal di sekitar Sungai Citarum dan anak Sungai Citarum, Bandung, Jawa Barat. Sungai Citarum adalah salah satu sungai yang paling tercemar berdasarkan laporan Asian Development Bank (ADB), sejumlah industri yang berada di sekitar Citarum membuang limbah beracun dan berbahaya ke sungai.

Workshop ini untuk meningkatkan kapasitas warga yang terkena dampak langsung dari pencemaran air agar mereka  memiliki kemampuan untuk mendokumentasikan bukti- bukti pencemaran dan melaporkannya pada pihak yang berwenang. Mendapatkan lingkungan yang bersih adalah hak setiap warga negara. Pemerintah berkewajiban untuk memastikan lingkungan yang sehat bagi warga dengan meminta  industry untuk berhenti mencemari sungai serta bertanggungjawab terhadap pencemaran yang mereka lakukan”, kata Ahmad Ashov, Jurukampanye Air Greenpeace Indonesia.

Pada hari Minggu besok, aktivis Greenpeace dan para supporter bersama dengan komunitas sekitar Citarum akan mendokumentasikan keadaan sebenarnya yang diakibatkan oleh industri di sepanjang sungai.

Aktivitas ini dilakukan beberapa hari setelah pemerintah memulai proses rehabilitasi Sungai Citarum. Pengerukan saja tanpa memperhatikan permasalahan utama seperti pencemaran limbah industri dan kerusakan hutan di daerah hulu dapat menyebabkan usaha pengerukan tersebut menjadi tidak efektif dalam jangka panjang.

Laporan ‘Konsekuensi Tersembunyi’  yang diluncurkan Greenpeace pada bulan Mei yang lalu memperlihatkan bahwa pencemaran sumber air oleh industri telah mengakibatkan biaya ekonomi, sosial dan lingkungan yang sangat besar dalam jangka panjang dan ini harus dibayar mahal oleh masyarakat (1).

Institute of Ecology Universitas Padjadjaran, menemukan potensi resiko pencemaran di Sungai Citarum terhadap manusia dan lingkungan sudah memasuki tahap yang serius. Sedimen sungai ditemukan makin kehilir makin beracun, keanekaragaman biota menurun akibat bahan-bahan kimia berbahaya dan telah terjadi akumulasi logam berat pada ikan-ikan di Sungai Citarum.

Hasil polling Greenpeace bersama LP3ES pada bulan Maret yang lalu menunjukkan bahwa sebanyak 79.8% masyarakat tau bahwa Sungai Citarum telah tercemar oleh limbah beracun dan berbahaya industri dan 92,3% masyarakat mengetahui bahwa limbah beracun dan berbahaya mempunyai dampak yang sangat berbahaya bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat. Sebanyak 81,5% masyarakat mengetahui bahwa mereka mempunyai hak untuk bertanya mengenai limbah beracun dan berbahaya yang mencemari sungai dan air dan 63.5% masyarakat setuju untuk mengambil peran aktif dalam menjaga dan mencegah pencemaran Sungai Citarum dari pencemaran industri. Sementara itu 81% masyarakat setuju Industri harus berhenti membuang limbah berbahaya dan beracun ke dalam Citarum.

Partisipasi masyarakat dan peran aktif mereka dalam pengawasan, pelaporan, pengaduan dugaan pencemaran yang dijamin oleh hukum di Indonesia, yang merupakan hak bagi setiap warga negara. “Masyarakat memiliki ha katas penyediaan informasi tentang limbah beracun dan berbahaya yang disebabkan oleh kegiatan industry,” imbuh Ashov.

"Dalam mengatasi persoalan Citarum khususnya masalah pencemaran sangatlah perlu dilibatkan peran dari masyarakat sipil. Saya sangat mendukung upaya dari Greenpeace yang memberikan program pelatihan pendokumentasian pencemaran untuk dipublikasikan melalui media web site. Tentunya saya menaruh harapan agara masyarakat sipil tidak lagi susah mengekspos pencemaran yang terjadi,” ucap Dean Riswandini, Ketua Elingan.

Greenpeace mendesak industri untuk segera menghentikan pencemaran sungai dengan bahan kimia berbahaya dan juga mendesak pemerintah untuk menegakkan pengawasan yang lebih ketat dan mengambil tindakan terhadap pencemar dan memberikan informasi terbuka kepada publik mengenai bahan kimia beracun yang mencemari sungai yang menjadi tumpuan hidup jutaan orang itu.

Catatan Editor:
Untuk melihat laporan “Konsekuensi Tersembunyi” silahkan kunjungi
www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/toxics/Air/Konsekuensi-Tersembunyi/

Kontak:
Ahmad Ashov Birry, Jurukampanye Air Greenpeace Asia Tenggara-Indonesia, 0811 1757 246
Dean Riswandini, Ketua Elingan PKK DAS Citarum, 08522 0288 607
Rahma Shofiana, Jurukampanye Media Greenpeace Asia Tenggara-Indonesia, 0812 1832 8317