Menjaga Gambut Tetap Basah, Hentikan Kebakaran Hutan

Siaran Pers - 24 Februari, 2015
JAKARTA, 24 Februari 2015 — Blusukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Sungai Tohor, Kabupaten Meranti, Riau, pada 27 November 2014 sedikit banyaknya telah memberikan dampak kepada wilayah tersebut karena berhasil mengatasi bencana kekeringan dan tidak mengalami kebakaran hutan.

Teguh Surya, Juru Kampanye Politik Hutan Greenpeace Indonesia, mengungkapkan saat ini titik api tidak ditemukan di wilayah Sungai Tohor usai implementasi komitmen pembangunan sekat kanal, meskipun telah dilanda kemarau selama dua bulan. Padahal sepanjang kuartal pertama tahun lalu wilayah tersebut mengalami kebakaran hebat akibat keringnya lahan gambut.

“Sekat kanal yang dibangun atas dukungan Presiden Jokowi terbukti ampuh membuat tanah gambut tetap basah sehingga sulit terbakar. Hal ini tak hanya berhasil mengatasi persoalan kebakaran hutan, tetapi juga membantu menambah pasokan air bersih bagi warga pada saat musim kemarau,” kata Teguh sekembalinya dari Sungai Tohor pada 16-17 Februari 2015.

Wimar Witoelar dari Yayasan Perspektif Baru juga mengatakan bahwa kedatangan Presiden Jokowi ke Sungai Tohor bukan hanya memberikan hasil yang nyata bagi masyarakat Sungai Tohor, tapi juga merupakan proses yang  dinantikan masyarakat untuk mengawali perbaikan dalam masalah kebakaran hutan di daerah-daerah lain di seluruh Indonesia.

Sebelumnya pengeringan lahan gambut melalui pembangunan kanal tak hanya membuat warga berhadapan dengan api dan asap kebakaran hutan, tetapi juga dengan bencana kekeringan akibat hilangnya pasokan air bersih. Pada tahun lalu saja warga harus membeli air untuk kebutuhan sehari-hari sebanyak minimal satu drum setiap hari dengan harga Rp30.000.

Melihat hasil positif tersebut, Teguh tak cepat berpuas hati. Menurutnya ini adalah pertanda baik bahwa sekat kanal tersebut harus dibuat kebijakan permanen dan diaplikasikan di wilayah lainnya di Indonesia khususnya di wilayah pesisir timur pulau Sumatera dimana terbentang wilayah gambut yang luas dan saat ini dalam kondisi kritis akibat pengeringan dan pembangunan kanal

Keberhasilan ini sejalan dengan janji Jokowi untuk memperpanjang dan memperkuat moratorium yang akan segera berakhir pada bulan 20 Mei 2015.

Sebelumnya, Presiden Jokowi yang merupakan lulusan Fakultas Kehutanan tersebut melakukan  Blusukan Asap ke lokasi kebakaran lahan gambut dan hutan ke Riau, tiga bulan lalu. Di program yang merupakan gagasan dan inisiasi dari Yayasan Perspektif Baru, Walhi, dan Greenpeace Indonesia tersebut, presiden melihat dan melakukan langsung penyekatan kanal di wilayah Sungai Tohor, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Kunjungan tersebut juga menjawab tantangan petisi Abdul Manan tentang kebakaran hutan di Sungai Tohor melalui  platform    

http://change.org/blusukanasap.

Presiden juga menginstruksikan untuk mencabut izin-izin yang terbukti merusak lingkungan. Bahkan pada ‘blusukan’ yang dilakukan pada 27 November 2014 tersebut, beliau turun langsung untuk ikut menyekat kanal yang sebelumnya di bangun oleh warga. Pada saat yang sama Presiden Jokowi juga berjanji akan berkunjung kembali ke Sungai Tohor dalam tiga bulan usai kunjungan pertama guna melihat efektifitas penyekatan kanal tersebut.


 

Kontak Media:

Rahma Shofiana - Greenpeace Indonesia
Telepon 021-5212552
Hp: 0811 1461 674
E-mail: