Peningkatan Produksi Petani Sawit Merupakan Solusi dari Deforestasi

Siaran Pers - 10 Nopember, 2011
PEKANBARU, 10 November 2011 – Hari ini Greenpeace dan Perkumpulan Elang mengadakan Diskusi petani sawit mandiri untuk mendorong pemerintah fokus pada peningkatan produktifitas kebun petani sawit yang ramah lingkungan dan bertanggungjawab, dibandingkan mendorong ekspansi perkebunan melalui konversi hutan dan gambut yang lebih didominasi oleh industri besar.

“Pencapaian target nasional minyak kelapa sawit bisa dilakukan Indonesia dengan mendorong peningkatan produktifitas kebun petani sawit dan menghindari ekspansi yang berakibat deforestasi,” kata Joko Arif, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara-Indonesia.

Deforestasi dan pembukaan gambut merupakan penyumbang terbesar emisi karbon Indonesia yakni 85 % dari emisi negara. Satu dari pendorong deforestasi terbesar yang ditetapkan Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) adalah sektor kelapa sawit. Dewan perubahan iklim juga mengatakan sektor kelapa sawit dan bubur kertas akan menyumbang sedikitnya 50 % dari 28 juta hektar paling banyak perkiraan deforestasi sampai 2030.

Bersama Perkumpulan Elang sebuah LSM yang berpusat di Riau, Sumatera, Greenpeace mendukung program penguatan kapasitas petani sawit mandiri dan pengelolaan bertanggungjawab di tujuh desa di Kabupaten Siak, Riau.

Pada saat korporasi terus melakukan ekspansi, petani sawit mandiri memilih untuk meningkatkan produktifitas kebun yang telah ada tanpa harus merusak hutan. Seribu lebih petani sawit yang memiliki 3.500 hektar luas perkebunan sawit mengikrarkan komitmen pengelolaan kebun secara bertanggungjawab dan berkelanjutan serta melindungi sekitar 740 hektar hutan yang tersisa di wilayah Desa mereka.

“Kelompok petani mandiri  di tujuh koperasi yang ada di Kecamatan Pusako, Kabupaten Siak  ini adalah contoh kemandirian petani yang harus mendapat dukungan dari berbagai pihak dan membuktikan bahwa peningkatan ekonomi masyarakat harus sejalan dengan perlindungan hutan. Petani telah kami dampingi untuk meningkatkan kapasitas teknis dan manajemen pengelolaan perkebunan dengan menerapkan standar-standar ramah lingkungan di kebun mereka. Kami berharap ada pengakuan dari semua pihak terhadap kebun masyarakat dan memperoleh dukungan pasar internasional dan terpenting adalah meningkatkan posisi tawar petani mandiri di dalam bisnis industri sawit,” kata Riko Kurniawan, Direktur Perkumpulan Elang.

Dahlan, pengurus Koperasi Bungo Tanjung, Desa Dosan mengatakan pengelolaan perkebunan sawit berkelanjutan ini telah membuat para petani sadar bahwa pembukaan kebun yang menghancurkan hutan desa hanya akan membuat produktiftas jangka panjang perkebunan sawit terancam karena perubahan iklim. “Dengan mengikuti program pengelolaan ramah lingkungan ini kami berharap masyarakat mendapat pasar yang lebih luas dan adil serta perbaikan pendapatan keluarga karena produktifitas kebun juga akan meningkat,” katanya.

 

Kontak Person:

Joko Arif, Jurukampanye Greenpeace Asia Tenggara-Indonesia : 08111805390
Riko Kurniawan,
Direktur Perkumpulan Elang : +6281371302269
Dahlan,
Petani Sawit dan Pengurus Koperasi Bungo Pusako, Siak : 085374878134
Zamzami,
Jurukampanye Media Greenpeace Asia Tenggara-Indonesia : 08117503918